Ironi di tanah Priangan: nasib petani yang tak seharum aroma teh

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Teh (Aryani Leksonowati/Flickr)
Teh (Aryani Leksonowati/Flickr)

Iklan minuman sehat De Parakan Salak (Sukabumi) thee onderneming Preanger Regentschappen (Kewedanan Priangan) sudah dijajakan di Amsterdam, Belanda pada tahun 1890.

Inilah salah satu bukti bahwa minuman berbasis teh di Jawa Barat telah melintasi sejarah beradab-abad. Akan tetapi, kini nasib perkebunan teh rakyat yang merupakan hajat hidup jutaan petani dan pemetik tak seindah dan rasa teh itu.

Lalu bagaimana kisah indah perkebunan teh di Jabar? Dan bagaimana kondisinya saat ini? Berikut uraiannya:

1. Perkebunan teh Priangan

Teh (Farid Ruliawan/Flickr)
Teh (Farid Ruliawan/Flickr)

Tanaman teh diketahui berasal dari China. Pada tahun 1648, tanaman ini hanyalah tanaman hias di daerah Tijgersgracht (elite), Batavia. Pada tahun 1728, perusahaan dagang Belanda, Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC) membawa biji teh dan buruh ke Jawa.

Tahun 1824, teh ditanam di Slands Plantentium te Buitenzorg (Kebun Raya Bogor) dan tahun 1826 dikembangkan di sekitar Bogor. Tahun 1827 teh ditanam di Garut-afdeling Limbangan dan tahun 1829 dikembangkan di Garut dan Purwakarta.

Seorang praktisi perkebunan yang juga penulis sejarah teh Kuswandi Md menyebut perkembangan teh di Jabar tak lepas dari peran thee jonkers van Preanger atau Preanger Planter sejak 1840.

Para pengusaha teh asal Belanda itu, antara lain Guillaume Louis Jacques (GLJ) van der Hucht di Parakan Salak, Sukabumi (1844); Karel Federik Holle di Perkebunan Waspada, Garut pada 1865.

  Melihat tumbuhan asli Indonesia dalam guratan relief Candi Borobudur

Pada saat cultuur stelsel (tanam paksa) yang dijalankan pemerintah Hindia Belanda, teh ditanam di tanah yang disewa pemerintah. Sejak 1863, bisnis pemerintah dihapus dan diserahkan kepada swasta.

Karel van der Hucht – generasi kelima GLJ van der Hucht – yang berkunjung ke Indonesia pada akhir 2011 menyebutkan sejak itu perkebunan teh di Jabar berkembang pesat, terlebih lagi sejak teh dari Assam (India) diintroduksi di Bumi Parahyangan.

“Kondisi geografis Parahyangan yang subur dan bergunung-gunung serta dekat dengan Jakarta dinilai turut mendukung perkembangan usaha perkebunan teh. Tahun 1936 tercatat dari 293 perkebunan teh di Indonesia, 247 perkebunan di antaranya berada di Jabar,” ucapnya yang dimuat Jawa Barat yang Menyimpan Warisan Teh terbitan Kompas.

2. Naik lalu turun

Ilustrasi daun teh (Rajagopal Ramakrishnan/Flickr)

Jejak kesuksesan industri tersebut bisa dilihat dari indahnya perkebunan teh bisa dilihat di kawasan Puncak pada jalur Bandung, Cianjur, Bogor Jakarta, atau perkebunan teh Walini di pinggir Tol Purbaleunyi.

Keberhasilan para pengusaha teh Belanda mendorong masyarakat membuka kebun dan menanam teh di Purwakarta, Cianjur, Garut, Sukabumi, dan Bandung. Hasil olahan teh dari perkebunan teh di Parahyangan pun diekspor ke beberapa negara Eropa.

  Menelusuri jejak tempat tinggal Wallace ketika berada di Maros

Sejak zaman kolonial Belanda, industri teh di negeri ini dikenal memiliki keistimewaan dan keunggulan mutu. Perkebunan dan industri teh juga memberi lapangan kerja bagi 1,5 juta orang dan menghidupi sekitar 6 juta jiwa.

Teh hitam dan teh hijau dalam bentuk curah juga dipasarkan di lebih dari 40 negara di Eropa, Amerika, Asia, Afrika, dan Australia. Tetapi lambat laun terjadi penurunan produksi dari industri teh.

Disebutkan penurunan produksi terjadi karena konversi lahan teh ke lahan sawit dan sayuran. Luas areal tanam juga turun dari 157.000 hektare tahun 1998 menjadi 124.000 hektare tahun 2010.

Periode tahun 2002-2006 menjadi masa paling sulit. Bahkan, karena harga jual teh tak sebanding dengan ongkos produksi tak sedikit petani dan pemilik pabrik pengolah teh skala kecil bangkrut.

3. Para pelintas zaman

Perkebunan teh malabar (iq ronaldo/Flickr)

Di kebun teh rakyat, keterpurukan ditandai dengan alih fungsi lahan dari kebun teh menjadi kebun palawija, rumput pakan ternak, atau jadi kandang ayam. Sementara di kebun besar, lahan beralih fungsi menjadi kebun sawit.

Teh memang memiliki sejarah yang panjang, sehingga pekerjanya melintas generasi. Contohnya, teh Tating (63) yang setiap pagi buta bersama suaminya Emang (70) beranjak ke lahan perkebunan.

Hasil pungut kakek-nenek bercucu 30 orang itu hanya 15 kg dan dibeli perusahaan Rp550 per kg. Artinya penghasilan mereka berdua pada hari itu hanya Rp8.250. Bagi mereka berdua hal tersebut sudah lumayan.

  Tujuan spiritual para pemetik teh berdandan demi pemberi kehidupan

“Kalau lagi tidak ada hujan, hasilnya jauh lebih sedikit. Bisa dapat 5 kilogram satu hari saja sudah bagus,” ujar Emang.

Melihat kondisi memprihatinkan ini, Kelompok Teh Rakyat (Kotera) Purwakarta hadir akan terpuruknya industri teh rakyat. Kotera dimotori oleh generasi muda anak-anak petani teh dan berupaya memperjuangkan nasib mereka.

Akan tetapi, dominasi struktur pemasaran, situasi harga teh dunia, kenaikan harga bahan bakar minyak, dan beberapa sebab lain membuat sejumlah usaha mereka tak berhasil. Disebutkan persoalan yang dihadapi petani cukup kompleks.

“Saat harga teh Rp700 per kg, petani setidaknya harus mengeluarkan Rp350 per kg untuk ongkos petik dan angkut. Dengan luas kepemilikan lahan yang rata-rata kurang dari 1 hektare, sulit bagi petani menggantungkan hidup hanya dari teh. Oleh karena itu, mereka beralih komoditas atau tumpangsari kebunnya,” papar Imron, mantan aktivis Kotera Purwakarta.

Kini tak mudah menemukan kebun-kebun teh rakyat yang kondisinya ideal, yakni tak ternaungi pohon dan bersih dari tumbuhan liar. Kebanyakan kebun telah heterogen dengan naungan pohon yang menutupi teh.

 

Artikel Terkait

Artikel Lainnya