Jadi negara yang terancam tenggelam, Maladewa bangun kota terapung

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Rancangan kota terapung Maladewa (maldivesfloatingcity.com)

Pada tahun 2050 diperkirakan ada berbagai kota dan negara yang tenggelam akibat kondisi ikris iklim dan kenaikan permukaan air laut. Earth.org memprediksi jika Dhaka di Bangladesh, Lagos di Nigeria, dan Bangkok Thailand akan tenggelam sekitar 5-10 sentimeter per tahunnya.

Berbagai cara dilakukan sejumlah negara untuk mengantisipasi bencana ini. Mulai dari membangun tanggul, pinggir pembatas atau dinding laut, hingga mengembangkan konsep kota terapung.

Maladewa, menjadi salah satu negara yang mencari solusi dengan membuat kota terapung. Seperti yang diketahui, letak geografis negara tersebut memiliki ketinggian daratan rata-rata hanya di kisaran 1 meter.

1. Kota terapung Maladewa

Maladewa (Fabio Di Lupo/Flickr)

Union of Concerned Scientist (UCS) memperkirakan jika Maladewa akan mengalami kenaikan permukaan air laut sekitar 45 sentimeter, dan kehilangan 77 persen luas daratannya pada tahun 2100. Sebagai solusi, akhirnya sejumlah pihak melakukan pengembangan dan muncul gagasan kota terapung bernama Maldives Floating City (MFC).

MFC adalah proyek kota terapung yang melibatkan sejumlah pihak. Pertama Waterstudio.NL, tim arsitek asal Belanda yang fokus dalam pengembangan pemukiman urban dekat atau di atas air. Lain itu ada juga Dutch Docklands yang bergerak di bidang serupa, dan Pemerintah Maladewa sendiri.

  5 sungai yang semakin mengering akibat perubahan iklim dan penggunaan berlebihan

Sudah dimulai secara resmi pembangunannya pada 14 maret 2021, kota tersebut akan berada di atas lahan seluas 200 hektare. Di mana titik lokasinya memiliki jarak tempuh sekitar 10 menit dari Ibu Kota Male jika menaiki kapal.

Bicara mengenai konstruksi, nantinya kota terapung ini akan dibuat dari galangan kapal yang dipasang di lempeng beton bawah air. Kemudian di bawah air atau tepatnya dasar laut, akan terdapat rangkaian tiang baja yang menyangga daratan buatan atau kota terapung yang dimaksud.

2. Berbagai konsep berkelanjutan

Sebagai antisipasi akan gelombang atau ombak yang dikhawatirkan, akan digarap juga ladang terumbu karang buatan di bawah laut kota terapung. Hal tersebut dilakukan untuk memecah ombak, di samping mendorong rumah baru bagi ekosistem terumbu karang yang asli.

Sama halnya seperti destinasi berupa resort wisata yang selama ini terkenal di Maladewa, nantinya perahu akan menjadi alat transportasi utama bagi mereka yang ingin masuk dan keluar kota ini. Hal yang sama juga akan berlaku untuk pengangkutan setiap keperluan logistik.

  72 persen tanah pertanian Indonesia sedang sakit, bagaimana solusinya?

Lebih detail, dalam konsepnya dari daratan satu ke daratan lain di MFC akan dihubungkan lewat sebuah kanal air. Adapun kanal air yang dimaksud akan dibangun dengan sistem loop tertutup dan dapat menghasilkan energi yang berkelanjutan.

Maksudnya kota terapung MFC akan dapat menghasilkan makanan, memproduksi air tawar, hingga menghasilkan sumber energi sendiri. Tak hanya itu, kota terapung ini juga dipastikan akan dibangun dengan tata pengelolaan limbah yang terstruktur.

3. Rancangan anti bencana

Tentu ada beberapa hal yang dikhawatirkan dalam kendala pembangunan kota terapung ini. Apalagi jika menilik lokasinya yang rentan akan kondisi alam tak terkendali seperti badai, gelombang laut, dan sebagainya.

Namun sudah diperhitungkan dan tak sembarangan, rancangan yang dibuat untuk membangun setiap rumah dan bangunan di MFC rupanya mengadopsi pengembangan arsitektur rumah Sand Palace di Meksiko. Sekadar informasi, rumah yang dimaksud adalah satu-satunya rumah yang berhasil bertahan dari badai di Florida pada tahun 2018.

Di mana diketahui jika Sand Palace dibangun untuk mampu menahan angin dengan kekuatan sekitar 240-250 mph (mil per hour).

  Menyibak penyebab kebakaran hutan di sekitar Danau Toba

Harapannya, rumah atau bangunan di MFC memiliki rancangan tahan bencana alam seperti banjir, badai, bahkan tsunami. Desain atau rancangan yang dibuat pun sudah melalui tahap uji coba di wind tunnel (terowongan angin) maupun kolam berombak.

Artikel Terkait

Artikel Lainnya