Ketika para bandit terisolasi dan terpenjara di Pulau Eksotis

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Pulau Nusakambangan (Teguh Purnomo/Flickr)

Tidak berlebihan bila membandingkan Nusakambangan dengan Alcatraz. Terpisah selat yang dalam dengan daratan Pulau Jawa, alam Nusakambangan kian sangar dikurung belantara hutan tropis.

Sebelum menjadi pulau penjara, ketika Belanda menguasai negeri ini, Nusakambangan telah menjadi lokasi strategis untuk benteng pertahanan. Benteng itu untuk menangkal serangan dari arah laut selatan dan daratan Jawa.

Lalu bagaimana cerita tentang kengerian penjara Nusakambangan? Dan bisakah tempat ini jadi lokasi wisata? Berikut Uraiannya:

1. Kengerian Nusakambangan

Pulau Nusakambangan (Hanif Amrin/Flickr)

Johanes Hubertus Eijkenboom, gembong perampok yang tenar dipanggil Johny Indo pernah menceritakan kisah pelariannya dari Penjara Nusakambangan, Cilacap, Jawa Tengah dalam Johny Indo: Tobat dan Harapan (1990).

Pada tanggal 20 Mei 1992, Johny Indo bersama 34 narapidana lain kabur dari Lembaga Permisan di Ujung Pulau Nusakambangan. Tetapi setelah bertarung 12 hari menembus hutan perawan, penuh jurang dan binatang buas, dia pun menyerah.

Dimuat dari Kompas, cerita narapidana (napi) itu mengukuhkan pulau ini sebagai penjara “Alcatraz” di Indonesia. Alcatraz adalah pulau penjara dengan tingkat keamanan maksimal di Teluk San Francisco, Amerika Serikat yang ditutup tahun 1963.

  Tata ruang Situs Gunung Padang yang dikelilingi mitos dan spiritual

Tidak berlebihan bila membandingkan Nusakambangan dengan Alcatraz. Terpisah selat yang dalam dengan daratan Pulau Jawa, alam Nusakambangan kian sangar dikurung belantara hutan tropis.

Pulau itu juga menjadi habitat hewan buas, seperti macan tutul dan ular berbisa. Karena itulah, hingga kini, Nusakambangan menjadi rujukan bagi napi kelas kakap, mulai dari kasus pembunuhan, perampokan, terorisme, hingga korupsi.

Selain Johny Indo, beberapa figur yang pernah menghuni Nusakambangan adalah Kusni Kadut, Hutomo Mandala Putra (Tommy Soeharto), M Bob Hasan, serta napi terorisme seperti Amrozi, Imam Samudra, dan Mukhlas.

Tahun 1965-1970, Nusakambangan pernah menjadi tempat pembuangan sementara hampir 10.000 orang yang diduga terlibat dalam gerakan Komunis dan pemberontakan 30 September 1965, termasuk novelis Pramoedya Ananta Toer.

Selain sebagai penjara, pulau ini juga menjadi lokasi eksekusi bagi terpidana mati, Salah satu lokasi yang sering menjadi tempat eksekusi adalah Lembah Nirbaya, sebuah dataran luas di tengah pulau.

“Menurut beberapa petugas LP di Nusakambangan, area itu dikenal angker,” papar Gregorius Magnus Finesso dalam Tanah Air: Riwayat “Alcatraz” di Selatan Jawa.

2. Awalnya benteng

Pulau Nusakambangan (Anwar Siak/Flickr)

Sebelum menjadi pulau penjara, ketika Belanda menguasai negeri ini, Nusakambangan telah menjadi lokasi strategis untuk benteng pertahanan. Benteng itu untuk menangkal serangan dari arah laut selatan dan daratan Jawa.

  Dikenal tahan banting, ratusan ikan sapu-sapu mati mengambang di sungai Jakarta

Selat Segara Anakan yang bergelombang tenang karena terhadang Nusakambangan juga memungkinkan kapal merapat ke Pelabuhan Cilacap. Tanjung Intan. Pemerintah Hindia Belanda membangun Benteng Karang Bolong dan Benteng Klingker pada tahun 1837-1855.

Disebut oleh Gregorius, inilah yang menjadi titik awal masuknya napi ke pulau ini. Karena keberhasilan Belanda melakukan pengawasan dan pengamanan terhadap napi dipakai dasar penetapan pulau itu sebagai penampungan orang hukuman atau penal colony.

Melalui Ordonansi Staatsblad Nomor 25 Tanggal 10 Agustus 1912, Nusakambangan ditetapkan sebagai pulau penjara oleh Hindia Belanda. Kewenangan pulau itu diserahkan kepada Departemen Van Justitie yang sekarang menjadi Kemenkumham.

Ada delapan penjara di Nusakambangan, yakni Nirbaya dan Karanganyar (1912), Batu dan Gliger (1925), Besi (1927), Permisan (1928), Karang Tengah dan Limus Buntu (1935), LP Kembangkuning (1950), Pasir Putih dan Terbuka (2007), serta LP Narkotika (2008).

“Sebagian besar penjara yang dibangun pada era Hindia Belanda tak difungsikan lagi, kecuali LP Permisan, Batu, dan Besi,” catat Gregorius.

  Selain sesar cimandiri, ini 5 patahan yang masih aktif dan patut diwaspadai di Jawa Barat

3. Sisa kejayaan benteng

Pulau Nusakambangan (surya 8310/Flickr)

Sisa kejayaan benteng Belanda di Nusakambangan masih bisa disaksikan. Salah satunya Benteng Karang Bolong di Nusakambangan timur. Setelah menyebrang dengan perahu nelayan dari Teluk Penyu.

Heri Prayitno, pemandu wisata di Nusakambangan mengatakan benteng seluas 6.000 meter persegi itu didirikan enam lantai di bawah tanah. Benteng ini strategis karena dari bagian atas bisa melihat laut lepas sekaligus mengawasi jalur masuk ke pelabuhan.

Benteng juga terhubung terowongan dalam laut dengan Benteng Pendem di Semenanjung Cilacap. Kepala Divisi Pemasyarakatan Kantor Wilayah Kemenkumham Jateng saat itu Hermawan Yunianto menyatakan Nusakambangan masih jadi pulau tertutup.

Tetapi, Bupati Cilacap Tatto Suwarto Pamudji berpandangan bahwa pengelolaan wisata dan pengamanan penjara dapat dijalankan beriringan tanpa saling mengganggu. Potensi Nusakambangan harus dikembangkan dan bermanfaat bagi masyarakat.

Artikel Terkait

Artikel Lainnya