Ketimbang Teluk Jakarta, paracetamol di Sungai Citarum lebih tinggi 2 kali lipat

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Gambaran hulu Sungai Citarum | @Akhmad Dody Firmansyah (shutterstock)

Peneliti dari Universitas York, Inggris, melalui kajiannya menemukan kandungan paracetamol dan sejumlah limbah obat-obatan lainnya di berbagai lokasi aliran Sungai Citarum, Jawa Barat. Khusus Paracetamol, kadarnya lebih tinggi dua kali lipat dari yang didapat di Teluk Jakarta pada penelitian berbeda.

Sebelumnya pada 2021 silam, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) serta Universitas Brighton, Inggris melaporkan Muara Sungai Angke dan Muara Sungai Ciliwung di Ancol di Teluk Jakarta tercemar zat aktif obat pereda nyeri dan penurun panas, paracetamol dengan konsentrasi tinggi.

Sementara itu dari kajian yang ditempuh, diketahui ada beragam zat aktif mencemari Sungai Citarum. Selain paracetamol, terdapat nikotin, carbamazepine yang biasa digunakan sebagai obat epilepsi, serta metformin yang kerap dipakai sebagai obat diabetes. ada pula limbah sejumlah obat antibiotik.

Melihat pencemaran yang terjadi, tentu muncul pertanyaan mengapa Sungai Citarum bisa terkontaminasi dengan limbah obat. Kemudian seberapa besar dampak limbah obat ini kepada lingkungan? berikut uraiannya:

1. Lebih tinggi daripada Teluk Jakarta

 

Seperti diuraikan pada narasi di atas, penelitian ini menemukan bahwa kandungan limbah obat di Sungai Citarum lebih tinggi dibandingkan Teluk Jakarta. Dinukil dari Detik, Bedasarkan data dari 10 lokasi pengambilan sampel di aliran Sungai Citarum, sampai di dua lokasi menunjukan kadar paracetamol mencapai 1630 nanogram per liter (ng/L) dan 1590 ng/L

  Lama dianggap punah, tim peneliti temukan pohon ek langka di Texas

Sedangkan kontaminasi paracetamol di Muara Angke mencapai 610 ng/L, konsentrasi ini tercacat paling tinggi yang pernah ditemukan di dalam air laut. Hal ini jauh lebih tinggi dibanding pantai Brazil yang sebesar 34,6 ng/L, dan pantai utara Portugis yang sebesar 51, 2 – 58,4 ng/L.

Bila ditinjau dari angka rata-rata konsentrasi limbah obat-obatan yang terakumulasi , Sungai Citarum memang jauh di bawah tingkat keparahan sungai di Lahore, Pakistan. Sungai Citarum mencapai 5460 ng/L, sedangkan Sungai Ravi di Lahore adalah yang terparah dengan 70.700 ng/L.

Tim mengambil sampel dari 1.052 lokasi di 104 negara. Hasilnya, sekitar 25 persen dari 258 sungai yang diambil sampel mengandung “zat aktif obat-obatan” pada tingkatan yang tidak aman bagi organisasi perairan. Hal ini akan memberi dampak buruk bila kita mengonsumsi dari sumber air tersebut.

“Yang kita ketahui kini adalah tempat pengolahan limbah air paling modern dan efisien sekalipun tidak sepenuhnya mampu mengurai zat-zat ini sebelum dibuang ke sungai atau danau,” kata Dr Jhon Wilkinson selaku ketua tim penelitian.

  Dua spesies baru, burung sikatan dan kacamata laut ditemukan di Pegunungan Meratus, Kalimantan

2. Limbah obat yang banyak muncul

Ilustrasi obat (wikipedia)

Bedasarkan hasil sample sungai, obat-obatan yang paling sering ditemukan adalah carbamazepine yang biasa digunakan sebagai obat epilepsi serta metformin yang kerap digunakan sebagai obat diabetes. Tiga zat lainnya yang paling banyak ditemukan adalah kafein, nikotin, dan paracetamol.

“Kami biasa berkata (dampak keberadaan limbah faraseutikal di sungai) kemungkinan besar negatif. Tetapi harus dilakukan tes masing-masing zat dan saat ini kajian seperti itu relatif sedikit,” ujar Dr Veronica Edmins-Brown, ahli ekologi prairan dari Universitas Hertfordshire kepada BBC News.

“Kondisi ini bakal memburuk sebelum kita semakin menggunakan solusi farmakologi pada setiap penyakit, apakah itu fisik maupun mental,” tambahnya.

Selain itu laporan ini juga menyebutkan bahwa semakin banyak obat antibotik di sungai, akan menyebabkan berkembangnya bakteri kebal antibiotik. Hal ini akan merusak efektivias obat dan ujungnya menciptkan ancaman pada lingkungan dan kesehatan global.

3. Pencemaran sungai di negara miskin

 

Sungai-sungai yang paling tercemar berada di negara-negara dengan penghasilan penduduknya rendah hingga menengah, seperti Pakistan, Bolivia, dan Ethiopia. Bahkan beberapa sungai di sana dijadikan tempat pembuangan limbah bagi pabrik farmasi.

  3 potret sungai terbersih yang ada di Indonesia

Dr Mohammad Abdallah mengaku telah menyaksikan kondisi sungai-sungai yang tercemar di Nigeria dan Afrika Selatan. Sungai-sungai ini, katanya, memiliki kosentrasi limbah obat yang sangat tinggi dan hal ini karena kurangnya pengolahan air limbah.

“Ini paling mengkhawatirkan karena di sana terdapat populasi paling rentan dan kekurangan akses ke fasilitas kesehatan,” imbuh profesor bidang pencemaran limbah di Universitas Birmingham, Inggris tersebut.

Sementara itu, Dr Wilkinson punya pandangan skeptis ketika ditanya apa yang bisa dilakukan untuk mengurangi pencemaran di sungai ini. Menurutnya harus banyak orang yang lebih pintar untuk menyelesaikannya.  Tetapi salah satu hal yang bisa dilakukan adalah akses kepada antibiotik yang perlu dipersulit dan diperketat.

Foto: 

  • Wikipedia

Artikel Terkait

Artikel Lainnya