Krisis pangan mengancam, orang kaya Korut makan anjing hingga kelinci

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Korut (Kabul Kavalera/Flickr)

Korea Utara terancam mengalami krisis pangan. Sejumlah faktor seperti sanksi Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa, penutupan perbatasannya dengan China akibat Covid-19, hingga kekeringan pada 2020 yang diikuti oleh hujan topan bisa mengulang krisis yang terjadi pada 1990-an.

Pemimpin Korea Utara Kim Jong-un mengakui masalah krisis pangan pada pertemuan Komite Sentral Partai Buruh beberapa waktu lalu. Dirinya menyebut sektor pertanian telah gagal memenuhi rencana produksi. Kondisi ini bahkan mengakibatkan sebagian orang Korut memilih makan hewan liar.

Lalu bagaimana kondisi krisis pangan di Korut? Dan benarkah mereka memilih makan hewan liar? Berikut uraiannya:

1. Terancam krisis

Korea Utara (llee_wu/Flickr)

Korut kini terancam kelaparan yang diakibatkan kenaikan harga pangan dan stok makanan berkurang. Melansir dari Radio Free Asia (RFA), kekurangan pangan di Korut mulai meluas setelah adanya larangan impor dari awal pandemi Covid 19 pada Januari 2020.

Pemimpin Korut Kim Jong-un mengakui masalah krisis pangan pada pertemuan Komite Sentral Partai Buruh beberapa waktu lalu. Kim mengatakan bahwa sektor pertanian telah gagal memenuhi rencana produksi, karena kerusakan akibat topan tahun lalu.

  Kisah pohon-pohon Soekarno yang terekam abadi

“Situasi pangan masyarakat sekarang menjadi tegang. Sangat penting bagi seluruh partai dan negara untuk berkonsentrasi pada pertanian,” kata Kim dilansir dari Aljazirah dimuat Republika.

Seorang ahli Korut dari SOAS University of London, Hazel Smith yang berada di Korut melukiskan gambaran tentang apa yang terjadi. Dirinya sejak 1998-2001 sedang mengembangkan analisis data pertanian bagi UNICEF dan Program Pangan dunia.

“Anak-anak di bawah tujuh tahun, wanita hamil dan menyusui, kelompok lemah, lansia, ini adalah orang-orang yang kelaparan,” kata Smith.

2. Butuh 5,2 juta ton makanan

Korea Utara (Victor Malychev/Flickr)

Institut Pengembangan Korea di Seoul dalam sebuah laporan bulan lalu mengatakan, Korut membutuhkan 5,2 juta ton makanan untuk 2020. Namun sejauh ini Korut hanya menghasilkan empat juta ton makanan. Impor makanan yang dilakukan tidak bisa menyelesaikan masalah kesenjangan pangan sebesar 780 ton.

“Jika kesenjangan ini tidak cukup ditutupi melalui impor komersial dan/atau bantuan pangan, rumah tangga dapat mengalami masa sulit antara Agustus dan Oktober 2021,” kata FAO.

  Selimut keangkeran yang menjaga sumber air Telaga Buret dari kerusakan

Badan anak-anak Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNICEF) memperingatkan bahaya kelaparan yang mengancam masyarakat Korut. Sekitar 10 juta orang di Korut dianggap rawan pangan, dan 140 ribu anak di bawah 5 tahun bisa menderita kekurangan gizi akut.

“Tingkat kekurangan gizi dan kematian yang lebih tinggi diantisipasi untuk tahun 2021,” kata UNICEF dalam Laporan Situasi Kemanusiaan yang diterbitkan pada bulan Februari 2021.

Sementara hampir semua diplomat asing dan lembaga bantuan kini telah meninggalkan Korut. Peneliti senior Human Right Watch Lina Yoong mengungkapkan kesaksian dari seorang misionaris yang bekerja di Korut. Menurut misionaris itu, ada lebih banyak pengemis, dan beberapa orang meninggal karena kelaparan di perbatasan.

3. Memilih makan anjing hingga kelinci

Korea Utara (akiwitz/Flickr)

Sejak adanya larangan impor dari awal pandemi Covid 19 pada Januari 2020. Harga pangan seperti beras, jagung dan tepung terus naik sehingga menyulitkan warga. Meski begitu, rupanya kelompok elit dan tajir masih bisa menikmati salah satu hidangan paling mahal di negara itu, yakni sup daging anjing.

  72 persen tanah pertanian Indonesia sedang sakit, bagaimana solusinya?

Mereka biasanya datang ke Kyongsong, restoran daging anjing terbesar kedua di Korut setelah Restoran Dangogi Pyongyang di Jalan Tongil di Pyongyang. Harga daging anjing sendiri dua kali lipat daripada daging babi. Dan menjadi favorit warga elite Korut.

“Sup (daging anjing) berharga 12.000 won (Rp199 ribu) untuk satu mangkuk, kira-kira seharga dua kilo beras,” beber seorang sumber dari Chojin yang dimuat CNBC.

Daging anjing bukan satu-satunya hewan yang disarankan pemerintah Korut untuk disantap warga. Dalam mengatasi kelangkaan pangan pada 2021 lalu, tentara dan keluarga di negara tersebut diperintahkan untuk beternak kelinci agar dapat disantap.

Di tahun yang sama, warga juga diminta mengkonsumsi daging angsa hitam yang diklaim mengandung protein dan memiliki manfaat anti karsinogenik. Otoritas juga menyarankan mengkonsumsi ikan badut, salah satu jenis ikan lumpur yang ada di negara tersebut.

Artikel Terkait

Artikel Lainnya