Melihat sungai bagi Suku Asmat sebagai jalan bagi roh menuju keabadian

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Sungai Baliem (Mikko Marttinen/Flickr)

Sungai bagi warga Asmat, Papua adalah halaman depan dan sumber kehidupan mereka. Ratusan kampung yang tersebar di kawasan yang didominasi rawa berlumpur itu dihubungkan oleh sungai-sungai besar.

Orang Asmat begitu menghormati sungai. Bagi mereka sungai dan rawa adalah basis dan nadi kehidupan mereka. Ini tidak salah karena bagi orang Asmat, sungai memiliki makna yang lebih dari sekadar sarana.

Lalu bagaimana sungai bagi masyarakat Asmat? Dan mengapa sungai ini begitu penting untuk masyarakat? Berikut uraianya:

1. Sungai bagi Asmat

Ilustrasi sungai (Michael Thirnbeck/Flickr)

Sungai bagi warga Asmat, Papua adalah halaman depan dan sumber kehidupan mereka. Ratusan kampung yang tersebar di kawasan yang didominasi rawa berlumpur itu dihubungkan oleh sungai-sungai besar.

Rene Wassing dalam Asmat Art menyebut sungai jantung transportasi bagi warga Asmat. Jaringan sungai itu saling berkait karena ada ribuan sungai kecil yang menembusi lebatnya hutan bakau, sagu, dan kayu besi.

Jaringan sungai itu juga menjadi jalan utama bagi warga Asmat untuk menuju ke kolam-kolam di tengah hutan tempat ikan-ikan rawa seperti mujair, gurami, lele, dan arwana, berkembang biak.

  5 negara dengan keanekaragaman hayati tertinggi di dunia

“Selain menjadi sarana utama mobilitas warga, sungai bagi warga Asmat adalah halaman depan dan sumber kehidupan mereka,” papar B Josie Susilo Hardianto dalam Budaya: Dunia Air Asmat terbitan Litbang Kompas.

Di rawa-rawa tepi sungai itulah orang Asmat mendirikan kampung mereka. Kemudian rumah itu ditata sedemikian rupa dengan menempatkan sungai sebagai jalur utama untuk masuk dan keluar perkampungan.

Agar bisa menghubungkan antar-rumah, dibuatlah jaringan jalan yang terbuat dari papan dengan tiang-tiang penyangga. Fakta itu dengan mudah mengantar mereka pada kesimpulan bagi orang Asmat, sungai dan rawa adalah basis dan nadi kehidupan.

“Ini tidak salah. Namun bagi orang Asmat, sungai memiliki makna yang lebih dari sekadar sarana,” paparnya.

2. Roh sungai yang dihormati

Masyarakat Papua (zeffry dr/Flickr)

Dirk A M Smidt dalam pengantar buku Asmat Art mengatakan orang Asmat menempatkan hidup berkebudayaan mereka sebagai sebuah representasi dari komunikasi antara Yang Hidup dan Dunia Roh.

“Antara komunitas yang hidup dengan jiwa para leluhur,” tulisnya.

Di wilayah yang didominasi hutan berawa dan jaringan sungai-sungai besar tersebut, burung, binatang, bahkan sungai sendiri memiliki jiwa, entitas itu dipercaya memiliki roh. Karena itulah Dirk menyebut selayaknya dipahami.

  Surga yang nyaris hilang itu bernama Raimuti

Di sisi lain, Paskalis Osakat, seorang wowcescuipits atau ahli ukur dari Atjs mengatakan sungai adalah jalan bagi roh-roh untuk pergi menuju keabadian. Dipercaya sungai merupakan tempat tinggal Cessepo, Sang Roh Sungai.

“Dialah yang menuntun roh dan jiwa-jiwa menuju ke tempat khusus itu,” paparnya.

Karena itulah menurutnya, rumah adat Asmat atau biasa disebut jew selalu menghadap ke sungai. Selain alasan keamanan, karena dulu musuh selalu datang dari arah sungai sehingga memudahkan pemantauan, posisi itu untuk menghormati pada sungai.

Aneka upacara adat yang berpusat di Jew juga menempatkan sungai sebagai media utama saat mereka memanggil atau mengantar roh leluhur. Bagi orang Asmat, relasi itu sangat penting karena dalam pemahaman mereka, tanpa kematian tidak ada kehidupan,

3. Pendatang yang mengubah

Sungai Baliem (Mikko Marttinen/Flickr)

Tetapi sejak 1980, ketika arus modernitas masuk dan ribuan pendatang merangsek ke berbagai pelosok Asmat seiring booming gaharu dan kayu besi, peran sungai menjadi tidak lebih sekadar sarana.

Para pendatang menempatkan sungai sebagai halaman belakang. Sampah mereka buang seenaknya ke sungai. Di Agats, sungai-sungai kecil yang menjadi jalur lalu lintas kota itu sebagian kotor oleh sampah plastik.

  Eksotisnya hutan Gunung Batukaru dan menikmati berkah dari air panas

Salah satu ciri lain yang menunjukkan keterdesakan budaya asli Asmat adalah maraknya penggunaan perahu berbahan serat kaca yang mengandalkan mesin tempel sebagai tenaga pendorong.

Kurator pada Museum Kebudayaan Asmat, Erick Sarkol mengaku prihatin dengan kondisi itu, Karena menurutnya sebagai bagian dari budaya sungai, perahu Asmat tidak semata-mata alat transportasi.

“Perahu Asmat memiliki ukiran yang menjadi ciri khas pemiliknya. Ukiran di muka perahu berbeda-beda seturut marga pemiliknya,” katanya.

Misi yang secara khusus hadir dan menetap sejak 1953 di Asmat berupaya keras mempertahankan pandangan budaya tadi. Sejak 1980-an mereka mencoba menghambat laju perubahan itu dengan menggelar Festival Budaya Asmat.

Artikel Terkait

Artikel Lainnya