Pekalongan Raya yang terancam tenggelam pada 2023, apa yang perlu dilakukan?

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Kota Pekalongan (Rohman Hakim/Flickr)

Kota Pekalongan diprediksi akan tenggelam pada tahun 2035 mendatang akibat penurunan muka tanah tiap tahunnya. Fenomena yang sama ternyata juga melanda wilayah utara Kabupaten Pekalongan.

Karena hal ini Pemerintah Provinsi Jawa Tengah akan belajar kepada Belanda dalam mengatasi ancaman tersebut. Duta Besar Belanda menyebut persoalan terancamnya pantura yang tenggelam adalah persoalan utama yang harus ditangani.

Lalu bagaimana ancaman tenggelamnya kota Pekalongan? Dan apa yang perlu dilakukan? Berikut uraiannya:

1. Pekalongan terancam tenggelam

Peta Pekalongan 1870 (Infopekalonganraya/Instagram)

Kota Pekalongan diprediksi akan tenggelam pada tahun 2035 mendatang akibat penurunan muka tanah tiap tahunnya. Fenomena yang sama ternyata juga melanda wilayah utara Kabupaten Pekalongan.

Hal ini disampaikan oleh Perencana Ahli Madya Bappeda Kota Pekalongan Slamet Maiftakhudin yang menyebut 90 persen dari kotanya akan tenggelam. Dirinya menyatakan prediksi itu diketahui dari hasil analisis pemodelan genangan spasial di Kota Pekalongan.

“Berdasarkan pemodelan genangan spasial, pada tahun 2035, 90 persen Kota Pekalongan akan berada di bawah air,” kata Slamet dalam presentasinya secara daring yang dimuat CNN Indonesia.

Dirinya menyampaikan bahwa persentase area perumahan terkena dampak banjir di Kota Pekalongan pun diperkirakan akan meningkat 100 kali lipat dari 0,5 persen pada 2020 menjadi 51 persen pada 2035.

Sedangkan dari hasil analisis dampak pada 41 kelurahan di Pekalongan, kerugian per tahun mencapai Rp1,55 triliun pada 2020. Disebutkan oleh Slamet, jumlah itu diprediksi meningkat tajam sebesar Rp31,28 triliun pada 2035.

  Pohon daluang: penghasil kertas kualitas dunia yang diburu masyarakat Eropa

Dikatakan oleh Slamet, beberapa penyebabnya di antaranya, kenaikan muka air laut dan cuaca ekstrem yang diakibatkan oleh perubahan iklim. Selain itu, penurunan muka tanah karena adanya konsolidasi alam, beban bangunan sipil dan ekstraksi ABT berlebih.

“Lalu, aktivitas manusia seperti perubahan tata guna lahan, pengelolaan sampah dan pencemaran limbah,” katanya.

2. Telah terlihat sejak 1998

Banjir rob Pekalongan (Infopekalonganraya/Instagram)

Peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Galdita menyebutkan dari hasil penelitiannya ternyata sudah terlihat perubahan wilayah di Kota Pekalongan sejak 1998 sampai 2022.

“Pada tahun 1998, sudah mulai menjadi pembukaan di sebelah barat dan pemukiman nambah, tapi tidak terlalu banyak, seperti sekarang,” ucapnya yang diwartakan Detik.

Temuan BRIN menunjukkan laju penurunan permukaan tanah di wilayah pantai utara Jawa Tengah relatif tinggi. Galdita menyatakan jika menggunakan data penginderaan jauh atau remote sensing, penurunan tanah di Pekalongan berbeda-beda mulai dari 4-11 cm.

“Selain itu, data juga menunjukkan adanya rekayasa pesisir di Wonokerto, di mana terjadi perubahan muara sungai yang tadinya aliran tidak langsung mengarah ke laut karena terhalang barrier sedimen, menjadi langsung ke laut dengan dibangunnya jetty dan dihilangkan barrier alam, sebagaimana diduga oleh masyarakat sekitar menjadi penyebab utama terjadinya rob,” ujarnya.

  Ancaman longsor mengintai 10 titik kecamatan di Jakarta

Galdita menyatakan data yang digunakan untuk melakukan pengamatan secara historis dengan menggunakan data satelit landsat yang dilakukan di wilayah Pekalongan. Dirinya juga menampilkan kondisi real Utara Pekalongan.

Dari temuannya, di Dusun Simonet telah terjadi abrasi sejak tahun 2023. Dikatakannya, Dusun Simonet telah terjadi abrasi tipis-tipis pada tahun 2020 di bagian tengah dan semakin terkikis lagi di 2021 dan 2022 hampir seluruh wilayah rumah di sana tergenang rob.

3. Meniru Belanda?

Kota Pekalongan (Rohman Hakim/Flickr)

Kepala Desa Api-Api, Kecamatan Wonokerto, Komarudin menceritakan perjalanan air rob masuk ke tambak dan pemukiman yang merubah warganya. Karena itu warga harus melebarkan muara dan memindahkan TPI Wonokerto.

Selantunya, dirinya menceritakan di tahun 2008, air rob mulai masuk ke areal persawahan, kebun melati milik warga belum berdampak. Di tahun 2009-2013, air laut sudah mulai masuk termasuk merendam kebun melati.

Mengatasi masalah itu, pihaknya bersama warga telah melakukan berbagai upaya secara semampunya. Mereka melakukan mitigasi dengan menanam mangrove di sungai-sungai dan tanggul sehingga gelombang air laut tidak menuju daratan.

“Tahun ke sini airnya kok tinggi banget, akhirnya sampai tahun 2016 ada kecenderungan warga Wonokerto, waktu itu menyerah dengan kondisi tingginya air rob,” ungkap Komaruddin.

  Jelajah Lembah Baliem, perkampungan Papua yang dikagumi petualang Eropa

Karena hal ini Pemerintah Provinsi Jawa Tengah akan belajar kepada Belanda dalam mengatasi ancaman tersebut. Duta Besar Belanda menyebut persoalan terancamnya pantura yang tenggelam adalah persoalan utama yang harus ditangani.

“Seperti yang disampaikan Duta Besar Belanda, kita menghadapi (ancaman tenggelam) di Sayung Demak, Kota Pekalongan, dan Kabupaten Pekalongan, itu yang top prioritas yang harus segera ditangani, tapi bukan berarti yang lain tidak. Seluruh Pantura atau seluruh di manapun itu kan membutuhkan air baku,” jelas Kepala Dinas Pekerjaan Umum Sumber Daya Air dan Penataan Ruang (Pusdataru) Jateng Eko Yulianto dikutip dari portal resmi Pemprov Jateng.

Upaya yang telah dilakukan pemerintah adalah pendirian Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM) di beberapa wilayah Jateng. Sedangkan bila banjir rob, katanya, harus terintegrasi salah satunya dengan tol integrasi laut.

Sedangkan bila di Pekalongan, penanganannya perlu dibantu dengan upaya lain seperti menanam mangrove dan sebagainya. Dirinya juga berharap adanya partisipasi masyarakat yang bermukim di daerah pantura..

“Sebab merekalah yang paham dengan kondisi lingkungan. Seperti halnya, untuk tidak membuang sampah sembarangan,” pungkasnya.

Artikel Terkait

Artikel Lainnya