Penjelasan fenomena ‘salju’ embun upas yang langganan terjadi di Dieng

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
embun beku Dieng yang juga terjadi di Papua (Liliek Dharmawan/Media Indonesia)

Indonesia selama ini memang dikenal sebagai negara tropis. Hanya ada dua musim yang akan terjadi yakni hujan atau kemarau (musim panas). Karena itu, bisa dibilang mustahil jika ingin merasakan musim salju di tanah air.

Namun, kesempatan mencicipi hamparan ‘salju’ atau musim dingin layaknya di negara-negara Eropa ternyata bisa dirasakan di salah satu daerah Indonesia, yakni Dieng. Ya, sudah bukan lagi hal baru jika pada salah satu desa yang berada di Jawa Tengah tersebut, akan terjadi fenomena salju pada saat-saat tertentu.

Oleh masyarakat setempat, fenomena tersebut banyak dikenal dengan sebutan embun upas. Meski tidak ada siklus pasti setiap berapa waktu sekali fenomena ‘salju’ ini terjadi, namun kesempatan tersebut rupanya dapat diprediksi dengan pengamatan BKMG.

Lantas, apa penjelasan secara ilmiah mengapa fenomena salju bisa terjadi di Indonesia khususnya dieng yang beriklim tropis?

1. Istilah embun upas

 
 
 
 
 
View this post on Instagram
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 

A post shared by BANJARNEGARA . Jateng . Dieng (@inibanjarnegara)

Berdasarkan pemahaman masyarakat lokal, ‘upas’ sendiri memiliki memiliki arti racun. Sehingga embun upas yang terjadi di Dieng dikenal juga sebagai embun racun. Namun bukan berarti dalam embun yang membeku menjadi salju tersebut mengandung racun berbahaya.

  Misteri Kawah Candradimuka Dieng dan kaitannya dengan kesaktiaan Gatotkaca

Istilah tersebut diberikan lantaran setiap fenomena embun upas terjadi, keberadaannya akan menyelimuti perkebunan. Terutama tanaman kentang yang menjadi komoditas andalan petani Dieng. Hasilnya setiap embun yang beku atau salju turun, maka kentang-kentang yang ada di wilayah tersebut akan mati.

Setelah beku, tumbuhan atau kentang yang dimaksud akan berubah menjadi hitam seperti terkena racun saat disinari matahari. Meski begitu dapat dipastikan, jika embun salju atau embun upas yang nyatanya menjadi daya tarik wisata di Dieng ini tidak berbahaya bagi manusia.

2. Penjelasan menurut BKMG

 
 
 
 
 
View this post on Instagram
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 

A post shared by OPEN TRIP BROMO IJEN JOGJA (@kawanjelajahtour)

Meski secara karakter iklim mustahil, namun ternyata ada penjelan sendiri mengapa fenomena ‘salju’ dan suhu dingin yang tinggi bisa terjadi di Dieng. Hal tersebut dijelaskan oleh Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG).

Mengutip laman resmi BMKG, dijelaskan bahwa ada beberapa faktor yang berperan dalam pembentukan embun beku yang didahului dengan suhu dingin ekstrem. Beberapa faktor yang dimaksud adalah gerak semu matahari, intrusi suhu dingin, dan laju penurunan suhu terhadap ketinggian.

  Selain sesar cimandiri, ini 5 patahan yang masih aktif dan patut diwaspadai di Jawa Barat

Lebih detail, fenomena yang terjadi justru disebut sebagai penanda akan datangnya musim kemarau. Dalam istilah Jawa fenomena tersebut dikenal sebagai Bediding. Bediding adalah istilah untuk menyebut perubahan suhu yang mencolok khususnya di awal musim kemarau.

Panas matahari yang lebih banyak terbuang dan hilang ke angkasa menyebabkan suhu udara melonjak, hingga panas menyengat saat siang hari. Lalu, menjadi sangat dingin menjelang malam hingga pagi.

Di mana dalam prosesnya, suhu udara sangat dingin menjelang malam hingga pagi. Sementara di siang hari suhu melonjak hingga panas menyengat. Lain itu, kandungan air di dalam tanah yang makin sedikit mengakibatkan uap air di udara ikut menipis, sehingga kelembapan udara menurun.

Pada dataran tinggi seperti Dieng, tentu berpeluang mengalami penurunan suhu hingga titik beku (nol derajat celsius). Di mana uap air akan mengalami kondensasi dan mengembun bahkan hingga membeku.

Kemudian suhu di bawah titik beku itulah yang memproses embun menjadi seperti es atau salju, dan kemudian dinamakan embun upas.

  5 sungai paling tercemar di dunia, salah satunya dikenal sebagai tempat lahirnya peradaban

3. Fenomena embun upas di 2022

 
 
 
 
 
View this post on Instagram
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 

A post shared by Arietta Olivya Ohmar (@flovya)

Tidak seperti musim hujan atau kemarau pada umumnya, fenomena salju embun upas ini tidak dapat diprediksi atau ditetapkan secara pasti. Misalnya di tahun 2021, embun upas pertama terjadi pada tanggal 10 Mei.

Kemudian fenomena yang sama kembali terjadi di tanggal 7 Juli, dan 15-16 Juli. Sementara itu di tahun 2022, waktu terjadinya justru lebih cepat di awal tahun. Hal tersebut disampaikan oleh Sutikno, selaku Kepala BMKG Stasiun Meteorologi Kelas II Ahmad Yani Semarang.

“Pada tahun 2022, embun upas terjadi lebih dini yakni di awal tahun 2022. Tepatnya tanggal 4 Januari, kemudian pada 30 Juni,” jelas Sutikno, mengutip Antara.

Lebih lanjut, BMKG juga memperkirakan jika fenomena embun upas yang terjadi sejak 30 Juni kemarin masih akan berlangsung selama satu dasarian ke depan, atau selama 10 hari berturut-turut.

“Jadi, fenomena tersebut masih dimungkinkan terjadi pada periode dasarian pertama bulan Juli 2022.” terang perwakilan BMKG.

Artikel Terkait

Artikel Lainnya