Pentingnya memahami upaya mitigasi bencana secara mandiri

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Ilustrasi mitigasi bencana (Foto Penerangan/flickr)

Beberapa wilayah Indonesia saat ini sedang dilingkupi bencana alam yang disebabkan cuaca hujan dengan curah tinggi. Mulai dari banjir, longsor, dan sejenisnya, di beberapa tempat bencana ini telah menimbulkan korban jiwa. Di saat bersamaan, tanggal 13 Oktober kemarin dunia baru saja memperingati Hari Mitigasi Internasional.

Seperti yang diketahui, mitigasi sendiri merupakan rangkaian upaya yang dirancang untuk mencegah atau meminimalisir dampak, baik sebelum dan setelah bencana.

Di Indonesia, harus diakui bahwa mitigasi bencana masih menjadi persoalan yang perlu mendapat pengembangan lebih besar. Penting diketahui, tak hanya mengharapkan prosedur mitigasi dari pihak yang berwenang, sebenarnya setiap masyarakat harus lebih dulu memahami pentingnya mitigasi bencana secara mandiri.

Memangnya seberapa penting mitigasi bencana hingga menjadi salah satu hal yang digaungkan lewat peringatan internasional? Dan apa saja upaya mitigasi mandiri yang perlu dipahami setiap orang?

1. Pentingnya mitigasi bencana

Ilustrasi mitigasi bencana (CIFOR/flickr)

Hari Mitigasi Internasional atau yang dikenal juga sebagai Hari Pengurangan Risiko Bencana pertama kali dimulai pada tahun 1989. Pengadaannya kala itu diserukan oleh Majelis Umum PBB, untuk meningkatkan budaya kesadaran risiko dan pengurangan bencana secara global.

  Jejak upaya mitigasi letusan Gunung Kelud sejak zaman kolonial Belanda

Bukan tanpa alasan hal ini menjadi penting. Pasalnya menurut hasil riset yang dipublikasi oleh Our World in Data dalam Lokadata, satu dari tiap seribu kematian di dunia disebabkan oleh bencana alam.

Bisa diduga, negara-negara dengan peringkat kesejahteraan rendah dan pengelolaan bencana yang minim pula, cenderung lebih rentan dan menelan lebih banyak korban jika terjadi bencana alam.

Bagaimana dengan Indonesia?

Sayangnya dengan letak geografis yang rawan akan berbagai macam bencana mulai dari gempa, potensi letusan genung, hingga tsunami, upaya mitigasi Indonesia masih belum memadai.

Hal tersebut didukung oleh data survei pada tahun 2019 yang diadakan oleh BPS. Di mana dari setiap 15 desa/kelurahan di Indonesia, hanya satu yang memiliki sistem peringatan dini bencana alam.

Berangkat dari kondisi tersebut, sejatinya perlu dipahami jika kita sebagai masyarakat tidak bisa sepenuhnya mengandalkan pihak berwenang. Namun, kita bisa coba meminimalisir dampak bencana dengan upaya mitigasi yang dilakukan secara mandiri.

Apa saja upaya mitigasi bencana mandiri yang dimaksud?

2. Memahami kondisi geografis wilayah tempat tinggal

Ilustrasi bencana banjir (eko djatmiko/flickr)

Hal satu ini merupakan langkah paling penting untuk menentukan langkah-langkah mitigasi yang bisa dipersiapkan selanjutnya. Masyarakat bisa memulai dengan memperhatikan bentang alam di wilayah sekitar tempat tinggal. Misalnya daerah perbukitan, lembah, dataran rendah, pegunungan, dan masih banyak lagi.

  Ilmuwan prediksi kemunculan benua baru yang dinamakan Amasia, kapan?

Contohnya, apabila letak tempat tinggal berada di lereng gunung, maka kita perlu mencari tahu tentang intensitas aktivitas vulkanis gunung tersebut. Di mana informasi seperti ini bisa diakses pada berbagai sumber kredibel yang sudah ada.

Jika dinilai terlalu sulit, cara paling sederhana bisa dilakukan dengan menelusuri riwayat bencana alam yang pernah terjadi di wilayah tempat tinggal. Contoh yang paling sederhana adalah dengan mencari tahu potensi adanya banjir tahunan, ketika ingin memilih kawasan tempat tinggal.

Dengan mempelajari kondisi geografis tersebut, kita bisa mengetahui kemungkinan bencana yang mungkin terjadi di waktu yang akan datang.

3. Mempersiapkan skenario terburuk

Ilustrasi bencana (hendra/flickr)

Adapun yang dimaksud dengan mempersiapkan skenario terburuk adalah upaya yang dilakukan untuk menghadapi kemungkinan bencana di waktu yang akan datang. Hal satu ini yang nyatanya penting, namun belum banyak disadari oleh banyak orang.

Terdapat 3 tindakan yang secara garis besar perlu dilakukan sebagai bentuk mitigasi bencana secara mandiri, yaitu:

  • Mengamankan aset dan barang berharga. Aset dan barang berharga merupakan salah satu hal penting yang bisa hilang dalam sekejap dan merubah kehidupan saat terjadi bencana. Karena itu, berbagai bentuk aset penting ada baiknya disimpan dalam sebuah penyimpanan yang aman dari bencana. Misal, surat-surat berharga yang dicadangkan dalam bentuk softcopy, atau dokumen dan barang berharga lain yang disimpan pada layanan kotak deposit yang dimiliki layanan perbankan.
  • Menyimpan daftar kontak pihak berwenang yang bisa dihubungi saat terjadi bencana. Kenyataannya, saat ini belum banyak masyarakat yang paham dan tahu, siapa pihak dan kemana harus menghubungi saat ada bencana terjadi. Kontak-kontak instansi yang bisa dicatat dapat terdiri dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), hingga petugas pemadam kebakaran.
  • Miliki perlengkapan siaga bencana. Hal satu ini juga yang nyatanya belum menjadi perhatian utama sebagian besar masyarakat. Beberapa perlengkapan yang dimaksud di antaranya dapat terdiri dari Kotak P3K, persediaan makan dan minum kaleng, pakaian nyaman yang praktis, lampu senter, pisau lipat, obat pribadi, dan sejenisnya.
  Tura jaji, ikatan persahabatan abadi masyarakat Flores saat hadapi bencana alam

Artikel Terkait

Artikel Lainnya