Peran Rawa Biru sebagai sumber air bersih bagi warga Merauke

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Rawa Biru (chuchan_smith88/Flickr)

Namanya Kampung Rawa Biru yang terletak di Taman Nasional Wasur, Merauke. Di kampung ini, ada danau yang dikenal dengan Rawa Biru. Sejak dulu. air rawa ini menjadi sumber air bersih bagi warga Merauke.

Sejak zaman Belanda, Rawa Biru sebagai sumber air minum masyarakat Merauke. Penelitian WWF Indonesia menyebutkan, Rawa Biru merupakan ekosistem rawa yang memiliki berbagai fungsi seperti sumber air.

Lalu bagaimana Rawa Biru menjadi ekosistem penting bagi warga Merauke? Dan bagaimana cara merawat air tersebut? Berikut uraiannya:

1. Rawa Biru bagi warga

Rawa Biru (Ombuth.14/Instagram)

Namanya Kampung Rawa Biru yang terletak di Taman Nasional Wasur, Merauke. Di kampung ini, ada danau yang dikenal dengan Rawa Biru. Sejak dulu. air rawa ini menjadi sumber air bersih bagi warga Merauke.

Menurut kepercayaan nenek moyang, penduduk yang tinggal di wilayah itu diawali dengan kedatangan seorang tetua nenek moyang yang mendapatkan penglihatan tentang adanya sumber air kehidupan, yaitu di Rawa Biru.

“Bertahun-tahun, Rawa Biru tidak hanya menjadi sumber kehidupan warga, tetapi juga bagi lebih dari 190.000 penduduk Merauke,” jelas MHF, HAM, dan OTW dalam Perjalanan: Rawa Biru Sumber Hidup.

Dari sinilah, kebutuhan air warga kota Merauke disalurkan, sekitar 5,2 juta liter air dari Rawa Biru dialirkan ke rumah-rumah penduduk. Alam Rawa Biru sejak dulu memang mampu mencukupi segala kebutuhan.

  Jelajah Lembah Baliem, perkampungan Papua yang dikagumi petualang Eropa

“Namun, semua itu tidak boleh dijadikan suatu ketergantungan,” jelasnya.

Warga Suku Marind sub Suku Kanume memanfaatkan hutan dan rawa dengan tetap menjaga kelestarian dari tempat berburu sampai obat-obatan. Sumber air Rawa Biru lantas bisa terjaga.

Satwa buruan seperti rusa, tikus tanah, babi hutan sampai buaya, mereka peroleh dengan cara tradisional seperti menombak, memarang, atau menjaring. Tak hanya berburu. Keperluan sehari-hari warga juga dipenuhi dengan makanan tradisional.

2. Air bagi warga

Rawa Biru (marinemen7/Instagram)

Di ujung Kampung Rawa Biru, ada mesin pompa zaman Belanda. Sementara itu di ujung saluran, juga terdapat bangunan Belanda, dengan tujuh mesin pompa air di bagian depan. Di samping mesin, terdapat tiga provil tank tinggi, menyerupai kotak.

Sejak zaman Belanda, Rawa Biru juga telah digunakan sebagai sumber air minum masyarakat Merauke. Distribusi air menggunakan pompa. Air dipompa ke menara di Jalan Para Komando, Kota Merauke, berjarak 61 kilometer.

“Lalu didistribusikan ke warga,” tulis Sapariah Saturi dalam Beginilah Rawa Biru, Pemasok Air Bersih Merauke yang diwartakan Mongabay Indonesia.

Sejak 2012, penduduk Rawa Biru mendapat bantuan energi listrik diesel dan genset dengan bahan bakar (solar) subsidi PT Wedu. Karena balas jasa, Wedu tak membayar apapun baik kepada pemerintah ataupun masyarakat adat atas pengambilan air ini.

  Melihat Taman Nasional Gunung Palung sebagai rumah baru bagi orangutan

Instalator PDAM Rawa Biru, Umar mengatakan setiap hari menghabiskan 500 liter solar untuk menggerakkan mesin pompa. Solar didatangkan dari Merauke, kadang sisa minyak solar meluber bila air Rawa Biru menggenang.

“Efeknya, bila air surut dan musim panas berkepanjangan, api cepat menjalar menghanguskan hutan sekitar Rawa Biru. Maka beberapa kali mesin meledak,” katanya.

3. Ekosistem rawa

Rawa Biru (chuchan_smith88/Flickr)

Penelitian WWF Indonesia 2013 menyatakan Rawa Biru merupakan ekosistem rawa yang memiliki berbagai fungsi seperti sumber air, ikan, rumput tikar dan lain-lain. DAS Rawa Biru mencangkup wilayah tak hanya rawa juga daratan, berupa hutan dan semak.

Rawa Biru juga sebagai penahan air hujan hingga tak banjir, menyimpan atau mengkonservasi air, memelihara iklim mikro, tempat rekreasi, maupun sarana transportasi antar desa sekitar rawa.

Tempat wisata satu ini juga menyimpan berbagai jenis ikan, seperti ikan kaca, kakap loreng, kakap kuning, kakap rawa, sembilan kuning, arwana, betik, dan lain-lain. Di sini juga dilengkapi berbagai fasilitas pendukung untuk pengunjung berwisata.

  Jejak upaya mitigasi letusan Gunung Kelud sejak zaman kolonial Belanda

Menurut warga setempat, banyak turis yang sering berkunjung ke tempat wisata satu ini setiap Januari-Februari atau sekitar bulan Mei-Juni. Umumnya para wisatawan berasal dari Jepang, Malaysia, Korea, China, dan juga Amerika.

Beberapa dari turis yang datang juga mengaku senang melakukan aktivitas memancing bersama dengan keluarga. Di sini pengunjung bisa menggunakan perahu sewa dengan merogoh kocek Rp300.000 per perahu untuk dua orang.

 

Artikel Terkait

Artikel Lainnya