Pesona wisata kunang-kunang di Rammang-Rammang, apa dampaknya?

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Rammang-Rammang (Fahrul Zainuddin/Flickr)

Kawasan karst Rammang-Rammang di Desa Salenrang, Kecamatan Bontoa, Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan sejak 2015 telah diperkenalkan menjadi destinasi wisata yang semakin menarik untuk dikunjungi. Pasalnya kawasan ini mencoba menawarkan wisata malam dengan suasana khas cahaya kunang-kunang.

Rencana wisata malam Rammang-Rammang itu tidak akan menganggu aktivitas nelayan setempat dalam mencari ikan dan menangkap udang di sepanjang Sungai Pute dan perairan setempat. Perkembangan pariwisata signifikan berdampak positif terhadap masyarakat sekitar.

Lalu bagaimana potensi wisata ini? Berikut uraiannya:

1. Wisata kunang-kunang

Rammang-Rammang (Marahalim Siagian II/Flickr)

Sejak 2015, Rammang-Rammang telah diperkenalkan menjadi kawasan wisata. Sehingga sudah tujuh tahun masyarakat Desa Salenrang menjadi bagian dari dunia pariwisata. Dalam catatan pengelola wisata, jumlah kunjungan pada tahun 2017 mencapai sekitar 72.083 orang dan pada 2020 dikunjungi sekitar 24.517 orang.

Saat ini, Rammang-Rammang belum menyediakan paket khusus wisata saat malam hari. Meskipun beberapa pengemudi perahu bisa menawarkan ke para tamunya untuk melihat kunang-kunang di malam hari atau pada waktu-waktu tertentu.

Selain melihat kunang-kunang, para pengunjung juga dapat melihat kelelawar yang beterbangan di langit Rammang-Rammang saat menjelang malam hari. Menurut Darwis, salah satu pengelola wisata melihat potensi wisata di Rammang-Rammang sangat besar, terutama kunang-kunang.

  Mengenal satu-satunya negara di dunia yang bebas emisi karbon

Menurutnya ada beberapa titik keberadaan kunang-kunang di desa ini. Namun lebih banyak ditemukan saat menjelang musim kemarau tepatnya bulan Juni sampai Oktober. Namun, rencana itu belum dia jalankan bersama dengan para pengelola wisata saat Darwis masih menjabat sebagai ketua.

“Tidak sempat kami jalankan karena butuh persiapan yang matang dan fasilitas yang memadai. Termasuk kondisi perahu yang harus dirangkai khusus untuk wisata malam seperti ngopi di atas perahu sambil menikmati kunang-kunang jadi perahunya harus lebih lebar. Itu pun bukan tiap hari, tapi ada waktu-waktu tertentu saat banyak kunang-kunang. Nah ini yang belum dipetakan (dianalisis sebaran kunang-kunang),” jelasnya yang dimuat Mongabay Indonesia.

2. Tidak akan ganggu nelayan

Rammang-Rammang (Marahalim Siagian II/Flickr)

Darwis menyatakan ide untuk membuat paket wisata malam hari didapatkannya setelah berbincang-bincang dengan salah satu tamunya yang berasal dari China. Tamunya itu menyebut ketika berkunjung ke Malaysia ternyata sudah ada wisata khusus melihat kunang-kunang dan bayarannya cukup besar.

Selain itu dirinya menyakinkan bahwa bila wisata malam di Rammang-Rammang dilakukan, tidak akan menganggu aktivitas nelayan setempat yang biasa menangkap ikan di Sungai Pute. Memang ketika malam tiba, sungai ini dipenuhi dengan pijar lampu yang berasal dari alat tangkap nelayan.

  5 gunung tertinggi di dunia, siapakah penakluk pertamanya?

Para nelayan pencari udang dengan menggunakan jaring tancap ini mulai beroperasi saat menjelang malam hari dan akan dipanen saat pagi hari tiba. Nelayan pencari udang, banyak dijumpai di beberapa kampung di Desa Salenrang, seperti Massaloeng, Tingtingang, dan beberapa di Berua.

Sukri salah satu nelayan menyebut pijaran cahaya berguna untuk memancing udang-udang agar masuk ke dalam jaring. Biasanya udang akan lebih banyak dihasilkan ketika menggunakan lampu pijar yang diisi dengan solar sekitar 240 ml atau setara dengan ukuran satu gelas.

Panjang jaring tancap yang biasa digunakan oleh masyarakat di Rammang-Rammang memiliki ukuran yang beragam. Ada yang berukuran lima meter dan ada juga berukuran sampai sepuluh meter. Tergantung keinginan para pemiliknya.

3. Wisata yang menguntungkan?

Rammang-Rammang (Fahrul Zainuddin/Flickr)

Usman, salah satu pekerja di Rammang-Rammang Cafe biasa mengambil buah nipah untuk dibuat jus. Selain membuka warung, dirinya sejak kecil telah menjadi nelayan. Dia kerap diajak ayahnya untuk mencari ikan di Sungai Pute bahkan sampai ke Binanga Sangkara, muara daerah aliran Sungai Sangkara.

  Krisis pangan ancam masyarakat global, apakah food estate bisa menjadi solusi?

“Saya juga bikin sendiri perahu karena tidak ada dulu tidak pekerjaan selain jadi nelayan. Dulu harga ikan murah. Ikan kakap besar selebar satu jengkal dijual paling mahal harganya Rp30 ribu. Sekarang saya bersyukur karena bisa dapat Rp100 ribu sampai Rp150 ribu dalam satu malam,” katanya.

Usman menyebut dahulu beragam jenis ikan ada di Sungai Pute. Namun kini beberapa jenis biota sudah jarang dirinya temui. Dirinya menduga hal-hal ini dipengaruhi oleh aktivitas hilir mudik perahu bermesin yang mengantar para pengunjung, karena suara mesin perahu, juga membuat ikan-ikan menjauh.

Memang pada dasarnya, masuknya pariwisata di Rammang-Rammang berdampak sangat positif signifikan terhadap perekonomian masyarakat. Namun disisi lain pariwisata juga mulai berdampak pada kehidupan biota perairan yang ada di Sungai Pute.

Artikel Terkait

Artikel Lainnya