Potensi tsunami 20 meter ancam Jakarta, bagaimana langkah mitigasinya?

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Ilustrasi Tsunami (Gabriel Trujillo/Flickr)

BMKG memprediksi adanya potensi tsunami dengan ketinggian 20 meter di pesisir Pulau Jawa dan sekitarnya. Ancaman ini bisa terjadi karena adanya akumulasi energi di bagian megathrust Selat Sunda hingga pesisir Pulau Jawa.

Berdasarkan catatan sejarah, tsunami pernah melanda pantai Jakarta akibat erupsi katastropik Gunung Krakatau pada 27 Agustus 1883. Akibat tsunami itu mampu menimbulkan kerusakan di Pulau Onrust.

Lalu bagaimana kajian tentang potensi tsunami ini? Dan apa yang perlu dilakukan untuk mencegah dampak buruk dari tsunami? Berikut uraiannya:

1. Tsunami 20 meter

Tsunami Aceh 2004 (Photo RNW.org/Flickr)

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi adanya potensi tsunami dengan tinggi 20 meter di pesisir Pulau Jawa dan sekitarnya. Tetapi potensi tersebut belum dapat dipastikan kapan terjadi.

Peneliti BMKG, Daryono mengatakan berdasarkan pemodelan oleh BMKG, jika ada gempa berkekuatan 8,7 skala richter yang menerjang wilayah Pulau Jawa, maka akan berdampak kepada seluruh wilayah selatan Jawa.

“Kalau gempa yang terjadi sampai 8,7 sudah kita modelkan apakah pusatnya di Jawa Timur, selatan Jawa di Jakarta, selatan Jawa Barat, selatan Banten, atau Selat Sunda. Hampir seluruh selatan Jawa terlanda,” kata Daryono yang dimuat CNBC Indonesia.

Daryono mengatakan dampak terbesar juga akan melanda pada pantai dengan kontur landai, mengingat gelombang tsunami diprediksi akan berukuran sangat tinggi hingga mencapai 20 meter.

  Ancaman longsor mengintai 10 titik kecamatan di Jakarta

“Tempat-tempat yang pantainya terjal berupa tebing agak aman, tsunami tidak akan merangsek ke daratan,” jelasnya.

Hal senada disampaikan oleh Kepala Laboratorium Geodesi Institut Teknologi Bandung (ITB) Heri Andreas yang menyebutkan berdasarkan data Global Navigation Satellite System (GNSS) mengatakan tsunami bisa terjadi karena akumulasi energi di bagian megathrust Selat Sunda hingga pesisir Pulau Jawa.

Dari hasil pemodelan, dia menjelaskan tsunami 20 meter ini berasal dari gempa yang terjadi dengan kekuatan magnitudo 8,7 hingga 9.0. Menurutnya wilayah Jakarta memiliki potensi tsunami lebih besar, sebab pesisir Jakarta sudah berada di bawah laut.

“Berdasarkan hasil simulasi model, run up tsunami dapat mencapai sebagian besar Pluit, Ancol, Gunung Sahari, Kota Tua hingga Gajah Mada, kalau diperhatikan modelnya, ternyata nyaris menyentuh istana,” pungkasnya.

2. Tsunami dalam sejarah Jakarta

Ilustrasi bencana tsunami (Gorilla Manchild/Flickr)

Berdasarkan catatan sejarah, tsunami pernah melanda pantai Jakarta akibat erupsi katastropik Gunung Krakatau pada 27 Agustus 1883. Erupsi ini merupakan kejadian terbesar dalam sejarah meletusnya Gunung Krakatau.

Lontaran material vulkanik dengan volume 18 km3, dan tinggi kolom letusan 80 km telah menimbulkan tsunami setinggi 30 meter di sepanjang pantai barat Banten dan pantai selatan Lampung.

Pembentukan kaldera terjadi akibat runtuhan api atau longsoran di dasar laut oleh pengosongan magma dan gas yang tererupsi. Runtuhan ini menekan air laut sehingga menyebabkan terjadinya tsunami yang menyapu pantai barat Jawa dan pantai selatan Sumatra.

  Peringatan BMKG tentang potensi gempa 8,9 SR dan tsunami 15 meter di Bengkulu

Dahsyatnya tsunami mampu menimbulkan kerusakan di Pulau Onrust yang merupakan bagian gugus pulau di Kepulauan Seribu. Sejak 1848, Pulau Onrust difungsikan sebagai Pangkalan Angkatan Laut, tapi karena tsunami sarana ini rusak pada 1883.

Selain menerjang Pulau Onrust, tsunami juga menerjang Pantai Batavia. Gambaran Pantai Batavia dan Tanjung Priok yang dilanda tsunami saat itu sangat jelas dilaporkan Bataviaasch Handelsblad yang terbit pada 28 Agustus 1883.

Dimuat dari Antaranews, tsunami dilaporkan membanjiri daratan dan menghempaskan perahu-perahu di pantai. Saat itu, tsunami juga menimbulkan kekacauan di Pelabuhan Tanjung Priok hingga menenggelamkan dua kapal.

Dampak tsunami itu juga merusak beberapa jembatan dekat muara sungai di Batavia. Fakta tsunami dahsyat di Selat Sunda dapat berdampak hingga ke pantai Jakarta karena tingginya mencapai 30 meter.

“Gelombnag tsunami yang diiringi oleh dan batuan panas dari Gunung Krakatau setidaknya telah menewaskan 36 ribu jiwa disertai dengan hancurnya berbagai pondasi penopang kehidupan masyarakat.”

3. Mitigasi tsunami Jakarta

Ilustrasi Tsunami (Gabriel Trujillo/Flickr)

Pemodelan tsunami Selat Sunda akibat gempa magnitudo 8,7 yang dilakukan BMKG menunjukan bahwa tsunami dapat sampai Pantai Jakarta. Selain itu ketinggian tsunami juga dapat bertambah jika pesisir Jakarta sudah mengalami penurunan permukaan.

  Mengenal subak, warisan budaya dunia asal Bali yang dijadikan Doodle Google

Namun pemodelan tsunami memiliki ketidakpastian yang sangat tinggi. Dijelaskan Daryono ini disebabkan karena persamaan pemodelan sangat sensitif dengan data dan sumber pembangkit gempa yang digunakan.

Diungkapkan bahwa berbeda data yang digunakan maka akan berbeda pula hasilnya, bahkan jika sumber tsunaminya digeser sedikit saja, maka hasilnya juga akan berbeda. Inilah sebabnya akan selalu ada perbedaan hasil di antara pembuat model tsunami.

“Kajian skenario terburuk itu penting untuk rujukan mitigasi, jadi kita ambil pahitnya agar kita lebih siap, maka kapan terjadinya tidak ada yang tahu, bisa jadi skenario terburuk tersebut belum tentu terjadi,” katanya.

Pemerintah juga terus mendorong pengembangan skema baru pendanaan untuk mendukung upaya mitigasi bencana atas dampak perubahan iklim serta fenomena-fenomena lainnya karena adanya perubahan iklim yang cukup drastis.

Kenaikan permukaan air laut, gempa bumi, dan tsunami yang terjadi pada pulau-pulau di Indonesia memang sangat rentan kondisi geografisnya. Menurutnya sumber pendanaan dengan skema baru itu dapat digunakan untuk perkembangan ilmu pengetahuan.

Selama lima tahun terakhir, rata-rata pengeluaran untuk aksi perubahan iklim mencapai Rp86,7 triliun per tahun. Sekitar 76,5 persen dari anggaran tersebut dimanfaatkan untuk aksi mitigasi dan lintas sektor, sisanya digunakan mendanai aksi adaptasi.

Artikel Terkait

Artikel Lainnya