Ranu Grati, pesona danau alami dari kaki Gunung Bromo

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Ranu Grati (Jenvendes/Flickr)

Ranu Grati namanya. Ini merupakan sebuah danau alami di kaki Gunung Bromo. Danau ini berada tepat di sisi timur Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur atau berada di Kecamatan Grati ini menyuguhkan pemandangan indah, terlebih saat matahari terbenam.

Ranu Grati merupakan danau alami yang terbentuk karena aktivitas vulkanik gunung berapi. Bentuknya menyerupai corong dengan dasar danau yang dalam dan mengandung sedimen mineral jadi bukti penguat status Ranu Grati sebagai danau vulkanik.

Lalu bagaimana proses pembentukan danau alami ini? Lalu apa saja pesona dari danau tersebut? Berikut uraiannya:

1. Kisah Ranu Grati

Ranu Grati (Ciput Ranoe/Flickr)

Ranu Grati danau alami yang berada di kaki Gunung Bromo, secara geografis tersebar di tiga desa: Grati, Tunon, dan Ranu Klindungan, sekaligus akses utama masuk, serta Desa Sumberdawesari. Ketiganya berada di Kecamatan Grati.  Danau ini disebut-sebut sebagai danau di dataran rendah Jawa Timur

Ranu Grati merupakan danau alami yang terbentuk karena aktivitas gunung berapi. Bentuk menyerupai corong dengan dasar danau yang dalam dan mengandung sedimen mineral jadi bukti penguat status Ranu Grati sebagai danau vulkanik. 

  Fakta dan bukti kekayaan yang dimiliki laut Indonesia

Arif Darmawan, Dkk., dalam risetnya yang dimuat di jurnal Oseanologi dan Limnologi di Indonesia terbitan LIPI 2019 menyebut, Ranu Grati merupakan danau alami yang terbentuk secara vulkanis. Dia didukung peta geologi skematis karya van Bemmelen yang dibuat 1947.

Menurut Arif, lokasi Ranu Grati merupakan pusat erupsi kecil yang terbentuk karena ada aktivitas vulkanik berupa erupsi kecil dan bersebelahan dengan celah sesar Pegunungan Bromo-Semeru. Berdasarkan pemetaan, Ranu Grati memiliki luas 1.085 hektare, kedalaman rata-rata 74.07 meter.

“Bagian barat daya memiliki dasar lebih curam dibanding bagian utara dengan panjang segmen mencapai 1.688,81 meter atau 1,68 kilometer,” tulis Arif yang dimuat Mongabay Indonesia.

2. Cerita rakyat

Ranu Grati (Jevendes/Flickr)

Ranu Grati sebagai danau kuno juga tak lepas dari cerita legendaris mengani asal-usul terbentuknya. Dikutip dari laman Pasuruankab.go.id, konon awal mula Ranu Grati berawal dari kedatangan Endang Sukarni, putri kerajaan Mataram Kuno di daerah setempat.

Di tempat ini, Endang lantas bertamu ke Begawan Nyampo, sesepuh desa yang kemudian menyatakan minat untuk berguru. Oleh Sang Begawan, Endang kemudian diminta membantu di dapur. Sebuah pisau suci pun diberikan Begawan kepada Endang.

  Ancaman longsor mengintai 10 titik kecamatan di Jakarta

Waktu berlalu, Endang melahirkan anak dari Sang Begawan namun bukan layaknya bayi manusia. Selain kulit bersisik seperti ular, bayi itu juga memiliki ekor. Bayi itu diberi nama Jaka Baru. Bayi ini diyakini dapat menjadi solusi untuk mengatasi paceklik kala itu.

Dirinya juga berhasil menyembuhkan pria buta dengan mengoleskan sisi kulitnya. Warga kemudian memburu Jaka Baru sebagai tumbal. Endang lantas marah, dia menantang warga bila ada yang isa mencabut batang lidi yang dia tancapkan di tanah, dia angkat kaki dari desa setempat.

“Tak satupun berhasil, Endang cabut batang lidi sambil mengucap sumpah serapah. Seketika lubang bekas batang lidi mengeluarkan air deras dan jadilah Ranu Grati,” tulis A Asnawi dalam Ranu Grati, Pesona Danau dari Timur Pasuruan.

3. Tempat wisata

Ranu Grati (Ciput Ranoe)

Ranu Grati menjadi salah satu tujuan wisata pada akhir pekan. Dia yang berada di tepat di sisi timur Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur ini menyuguhkan pemandangan indah, terlebih ketika saat matahari terbenam. Pada sore hari menjadi paling favorit bagi pengunjung datang untuk menikmati sunset.

  5 negara yang dihampiri peluasan gelombang panas ekstrem

“Pagi atau siang ya ndak apa-apa. Kalau sore langit kelihatan keemasan. Lebih eksotis,” kata Slamet, warga sekitar Ranu Grati.

Namun sebagai obyek wisata Pasuruan, pengelolaan Ranu Grati dinilai belum maksimal. Praktisi ekowisata Jawa Timur, Sugiarto mengatakan kendati memiliki panorama menari, Ranu Grati belum mampu bersaing dengan obyek-obyek wisata lain di Jawa Timur.

“Dia masih kalah populer dengan Ranupane di Lumajang atau Telaga Sarangan di Magetan, meski dengan basis sama, wisata air,” kata Sugi, panggilan akrabnya.

Dirinya menyayangkan, mengingat posisi Ranu Grati yang berada daerah lingkar wisata Bromo-Ijen. Sugik menilai pelibatan masyarakat sekitar mutlak untuk menghidupkan wisata di Ranu Grati. Contoh berbagai penjualan tiket, atau penyediaan wahana di lokasi untuk menghadirkan perasaan memiliki.

Artikel Terkait

Artikel Lainnya