Selimut keangkeran yang menjaga sumber air Telaga Buret dari kerusakan

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Telaga Buret (Tulungagungsprkling/Instagram)

Telaga Buret yang berada di Kabupaten Tulungagung telah terkenal dengan keindahan dan kenyamanannya. Tetapi tempat wisata ini juga menyimpan aura mistis. Ternyata aura mistis ini dirawat agar bisa melestarikan alam sekitar.

Keangkeran telaga Buret selama ini ternyata membuat kawasan yang sekarang setara hutan lindung ini menjadi terjaga. Banyak masyarakat yang tidak berani mengganggu kelestarian lingkungan sekitar karena takut mendapatkan malapetaka.

Lalu bagaimana cerita mistis ini merawat alam Telaga Buret? Dan bagaimana juga cara mereka merawat tradisi tersebut? Berikut uraiannya:

1. Telaga Buret yang angker

Telaga Buret (Tulungagungsprkling/Instagram)

Telaga Buret merupakan tempat yang wajib dikunjungi bila datang ke Kabupaten Tulungagung. Taman pelestarian Lingkungan hidup yang berada di Desa Sawo, Kecamatan Campurdarat ini bisa jadi rujukan sebagai tempat wisata ekologi.

Hawanya sejuk dan bisa melihat hewan kera ekor panjang serta sepasang rusa yang sedang ditangkarkan. Selain juga dapat memandang geliat sejumlah ikan yang berada di telaga berukuran sekitar 40 x 30 menit itu.

Walau diselimuti keangkeran, Telaga Buret memang sangat nyaman dijadikan tempat untuk sekadar bersantai di hari libur. Di tempat ini ada 170 jenis pohon tumbuh di tempat seluas 22 hektare dan ada dikembangkan menjadi 60 hektare tersebut.

Ketua Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis), Telaga Buret, Karsi Nerro Soethamrin menyebut keangkeran Telaga Buret selama ini justru membuat kawasan yang sekarang setara hutan lindung ini menjadi terjaga.

  Selain sesar cimandiri, ini 5 patahan yang masih aktif dan patut diwaspadai di Jawa Barat

“Sampai sekarang tidak ada yang berani mengganggu kelestarian lingkungan di Telaga Buret. Tidak ada yang berani menebang pohon. Masyarakat sekitar hanya memungut ranting pohon yang jatuh, tidak berani menebang pohon,” katanya yang diwartakan Harian Bhirawa.

Menurut Karsi keengganan masyarakat merusak alam ini karena sudah tersebar cerita mistis bahwa bagi orang yang menebang pohon di Telaga Buret akan celaka. Hal ini berdasarkan cerita mistis dari nenek moyang.

Pria berambut gondrong  yang pernah menerima Kalpataru dari Presiden Joko Widodo pada 2016 lalu ini, menyatakan cukup bersyukur dengan adanya cerita angker dan mitos yang menyelimuti Telaga Buret selama ini.

Hal ini karena efektif untuk menjaga kelestarian Telaga Buret dalam mengaliri area persawahan di empat desa di Kecamatan Campurdarat . Karena bila lingkungan Telaga Buret tidak terjaga akan mengancam lingkungan.

“Kalau sampai lingkungan Telaga Buret tidak terjaga dan banyak penebangan pohon bisa jadi tidak ada lagi air untuk mengairi sawah di empat desa,” tuturnya.

2. Legenda Telaga Buret

Hutan Telaga Buret (Tulungagungsprkling/Instagram)

Karsi Nerro mengungkapkan dengan terjaganya lingkungan di sekitar Telaga Buret dari dulu sampai sekarang air yang mengalir dari telaga tersebut tidak pernah surut sekalipun musim kemarau. Hal inilah yang memberikan kesejahteraan bagi masyarakat sekitar.

Air dari Telaga Buret tetap mengalir ke areal persawahan milik warga di Desa Sawo, Desa Ngentrong, Desa Gedangan dan Desa Gamping. Menurut Karsi, hal ini berkat mitos Mbah Jigang Joyo yang dipercaya jadi awal mula terjadinya Telaga Buret.

  3 karya lagu yang suarakan kepedulian bumi dan alam

Konon awal mula munculnya Telaga Buret adalah serombongan penunggang kuda yang dipimpin Jigang Joyo, seorang pejabat Kerajaan Majapahit. Dalam rombongan itu ada seorang pengiringnya yang menggendong bayi yang sedang menangis karena kehausan.

Melihat kondisi itu Jigang Joyo kemudian menggali tanah hingga muncul mata air. Namun anehnya, mata air itu terus mengalir deras dan membuat telaga. Telaga inilah yang kemudian dikenal dengan nama Telaga Buret dan airnya terus mengaliri empat desa.

“Mbah Jigang Joyo kemudian terus menggali tanah, hingga mengeluarkan air. Sumber air itu yang kemudian menjadi Telaga Buret ini,” terang Ketua Paguyuban Sendang Tirtomulyo, Suparman yang diwartakan TribunJatim.

Mitos ini sempat dilupakan oleh masyarakat sehingga banyak hutan dan alam sekitar mulai rusak karena ulah manusia. Tetapi sejak dihidupkan kembali mitos ini, hutan yang sempat rusak akibat penambangan marmer dan pembalakan liar tahun 1990 an kembali terawat.

3. Tradisi menjaga alam

Telaga Buret (Tulungagungsprkling/Instagram)

Agar bisa menjaga ingatan tentang mitos ini, sampai saat ini warga di empat desa yang teraliri air dari Telaga Buret selalu merayakan ritual bernama ulur-ulur. Tradisi ini untuk merawat Telaga Buret.

Tradisi ini dilakukan dengan cara mengarak dua patung simbol Dewi Sri dan Joko Sedono. Sebelumnya mereka pun melakukan ziarah ke makam Mbah Jigang Joyo yang dipercaya berada di sisi barat telaga.

  Konsep pelestarian alam masyarakat dari balik keindahan Danau Ranau

Puncak tradisi ini adalah memandikan dua patung Dewi Sri dan Joko Sedono. Keduanya merupakan simbol kesejahteraan petani di empat desa. Karena berkat keberadaan Telaga Buret, sawah di empat desa tersebut tidak pernah kekurangan air.

Karsi menjelaskan bahwa upacara ulur-ulur memang sengaja dilestarikan. Sekilas memang ada unsur mistis dalam upacara tersebut. Tetapi menurutnya, aura mistis tersebut sengaja diciptakan leluhur untuk memelihara alam.

“Kalau dulu memang tidak ada hukum tertulis maka nenek moyang kita membuat cerita mistis. Misalnya siapa saja yang menebang pohon akan mengalami celaka,” terang Karsi.

Bagi dirinya, aura mistis tersebut ternyata efektif menjaga kelestarian Telaga Buret. Karena itu tradisi tersebut dianggapnya wajib dijaga, agar telaga penghidupan empat desa itu tidak mati yang berakibat rusaknya persawahan warga.

Kini Karsi dan kawan-kawan berupaya memperluas area hutan lindung di sekitar Telaga Buret. Sebelumnya area telaga ini hanya sekitar satu hektare saja. Namun berkat lobi Pemkab Tulungagung ke Perhutani, kini totalnya mencapai 22 hektare.

“Kami akan berupaya meluaskan area hutan lindung ke arah timur dan ke selatan. Total wilayahnya mencapai 60 hektare. Semoga pihak terkait menyetujui rencana ini,” pungkas Karsi.

Artikel Terkait

Artikel Lainnya