Tertidur lama, benarkah Gunung Lawu akan kembali meletus?

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Gunung Lawu (Zim-Zum/Flickr)

Gunung Lawu memliki ketinggian 3.265 mdpl yang membentang di perbatasan Jawa Tengah dan Jawa Timur. Gunung ini merupakan gunung api yang masih aktif dan memiliki potensi meletus di masa depan, namun saat ini masih berada dalam fase istirahat.

Letusan terakhir yang terjadi di gunung ini sekitar satu abad yang lalu tepatnya pada tanggal 28 November 1885. Karena erupsi gunung lawu menyebabkan abu vulkanik yang membanjiri beberapa wilayah di Jawa Timur maupun Jawa Tengah.

Lalu kapan Gunung Lawu ini meletus lagi? Dan apa dampak dari letusan ini? Berikut uraiannya:

1. Gunung yang beristirahat

Gunung lawu (Zim Zum/Flickr)

Gunung Lawu merupakan gunung api yang masih aktif, namun saat ini berada dalam fase istirahat. Dikutip dari laman Solopos, Gunung Lawu tergolong gunung api tipe B. Gunung api tipe B merupakan gunung api yang sesudah tahun 1600 belum mengalami erupsi magmatik.

Akan tetapi gunung api ini masih memperlihatkan gejala seperti adanya solfatara (tumarol yang mengeluarkan gas-gas belerang). Gunung api tipe B ini dapat mengalami erupsi kembali setelah beberapa ratus tahun mengalami dorman (istirahat).

  Menyibak penyebab kebakaran hutan di sekitar Danau Toba

Tercatat bahwa gunung lawu mengalami erupsi terakhir pada 28 November 1885. Setelah letusan itu, gunung tersebut tidak pernah aktif, apalagi meletus. Bahkan kini telah menjadi destinasi wisata olahraga dan religi yang paling banyak diminati.

Namun berdasarkan penelitian dengan metode vulkanostratigrafi yang dilakukan oleh Dudi Hermawan dan Lano Adhitya Permana, diketahui Gunung Lawu memiliki dapur magma berukuran besar. Dapur magma yang berukuran cukup besar sebagai sumber panas.

Peneliti dari Pusat Sumber Daya Mineral Batubara dan Panas Bumi itu menentukan parameter-parameter karakteristik vulkanik Gunung Lawu, meliputi, volume dan pola struktur geologi sebagai data primer, serta umur vulkanisme dan evolusi magma sebagai data sekunder.

2. Gunung yang kembali meletus

Gunung Lawu (Wahyu Widhi/Flickr)

Subandriyo, Kepala BPPTKG Yogyakarta pada saat itu juga mengatakan kalau contoh gunung-gunung tersebut masuk dalam kategori gunung muda. Di mana gunung muda ini masih dimungkinkan untuk aktif kembali walau sempat lama beristirahat.

Dimuat dalam Utara Times, sifat dorman atau istirahat yang dimiliki oleg Gunung Lawu dirasa mirip dengan Gunung Sinabung. Di mana kedua gunung tersebut sudah tertidur sejak ratusan tahun lalu tetapi ternyata Gunung Sinabung meletus kembali di tahun 2013 lalu.

  Mengenal subak, warisan budaya dunia asal Bali yang dijadikan Doodle Google

Jenis gunung lain yang dinilai sangat mirip dengan Gunung Lawu adalah Gunung Pinatubo di Filipina. Di mana gunung tersebut sudah tertidur selama 600 tahun lamanya, namun pada bulan Juni tahun 1991, gunung ini ternyata kembali aktif.

Bahkan pada peristiwa letusan Gunung Pinatubo sangatlah mengerikan. Di mana pada tanggal 12 Juni 1991 letusan pertama terjadi dan mengirimkan kolom abu sepanjang 19 kilometer ke atmosfer. Setelah letusan ke dua tanggal 13 Juni 1991, abu vulkanik menyelimuti pedesaan dan awan abu mencapai 40 km ke atmosfer.

3. Kapan Gunung Lawu meletus lagi?

Gunung Lawu (Perkasa/Flickr)

Hingga saat ini Gunung Lawu belum pernah dilaporkan mengalami erupsi letusan kembali. Hal ini artinya bahwa gunung api ini telah lebih dari 100 tahun tidak mengalami erupsi. Meski demikian, bukan berarti Gunung Lawu tidak bisa meletus lagi karena di dalam perut gunung masih terdapat aktivitas magma.

Gunung api dorman ini dapat mengalami letusan kembali dan memiliki potensi ancaman dengan intensitas letusan yang mungkin akan lebih besar.  Namun tidak ada yang bisa menentukan kapan gunung tersebut meletus, fenomena alam tersebut masih menjadi rahasia Tuhan.

  Penjelasan fenomena ‘salju’ embun upas yang langganan terjadi di Dieng

Menurut Subandriyo, gunung api dorman menjadi aktif kembali salah satunya bergantung pada dinamika di dalam gunung api itu sendiri. Seperti kembali aktifnya dapur magma. Namun khusus gunung api dorman di Jateng hingga saat ini belum ada data penelitian secara pasti.

Sehingga Subandriyo belum bisa memastikan kondisi gunung api dorman di Jateng. Dia mengatakan perlu penelitian lebih jauh lagi terkait  aktivitas gunung api dorman. Dicontohkannya, seperti gempa bumi yang mengumpul di satu titik beberapa waktu yang lalu.

“Tetapi sesekali muncul gempa-gempa yang meragukan seperti di Ambarawa itu perlu diteliti lebih jauh,” jelasnya.

Artikel Terkait

Artikel Lainnya