Tidak hanya di Timur Tengah, fenomena laut mati juga terdapat di Indonesia

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Pantai Tureloto (Flickr/an_duong_pham)

Laut Mati merupakan salah satu fenomena alam mengagumkan yang juga disebut dengan nama laut asin. Perairan ini disebut hipersalin karena kandungan garamnya yang cukup tinggi, bahkan dinilai salah satu danau paling asin (salt lake) di dunia.

Namun Laut Mati ternyata tidak hanya berada di Yordania, di wilayah Kepulauan Indonesia fenomena alam tersebut juga terjadi, tepatnya di Kabupaten Nias Utara, Sumatra Utara (Sumut). Di tempat ini juga banyak ditemukan fenomena alam salah satunya terumbu karang yang unik.

Lalu bagaimana cerita Laut Mati dari Indonesia ini? Dan mengapa tempat ini wajib dikunjungi oleh para wisatawan? Berikut Uraiannya:

1. Laut Mati di Indonesia

Pantai Tureloto (Flickr/Hidayat Arifin)

Laut Mati merupakan salah satu fenomena alam mengagumkan yang juga disebut dengan nama laut asin. Perairan ini disebut hipersalin karena kandungan garamnya yang cukup tinggi, bahkan dinilai salah satu danau paling asin (salt lake) di dunia.

Selain itu alasan mengapa perairan ini disebut Laut Mati, karena tidak ditemukannya kehidupan di lokasi tersebut, berkat kandungan garamnya yang cukup tinggi. Ikan dan ganggang pun disebut tidak bisa hidup di lokasi ini.

Dimuat dari Kompas, Laut Mati adalah salah satu titik paling rendah di Bumi, sekitar 430,5 meter di bawah permukaan laut (mdpl). Laut Mati sendiri berada di antara dua negara yakni, Israel dan Yordania.

  72 persen tanah pertanian Indonesia sedang sakit, bagaimana solusinya?

Namun bagi masyarakat Indonesia, tidak perlu jauh-jauh pergi ke Timur Tengah untuk merasakan sensasi Laut Mati. Di wilayah Nusantara, tepatnya di Kabupaten Nias Utara, Sumatra Utara (Sumut) juga ditemukan “Laut Mati”.

Lokasinya berada di Pantai Tureloto yang terletak di Desa Balefadorotuho, Kecamatan Lahewa, Kabupaten Nias Utara, Sumut. Agar bisa mencapai lokasi, wisatawan bisa berkendara dari Kota Gunungsitoli selama kira-kira dua jam.

“Air laut terasa hangat dari Laut Baltik dan sangat jauh dari Kutub Utara, bahkan tak perlu berenang hanya dengan mengapungkan badan saja sudah cukup dan akan terapung dengan sendirinya,” jelas Knutch, wisatawan asal Jerman.

2. Fenomena Laut Mati

Pulau Tureloto (Hidayat Arif/Flickr)

Seperti versi Yordania, Laut Mati ala Pantai Tureloto hadir dengan kandungan garam hingga 33,7 persen atau sembilan kali lebih banyak daripada kandungan garam air laut pada umumnya yang hanya berkisar 3,5 persen.

Karena kadar garam yang tinggi membuat air lautnya terasa lebih padat. Hal ini sesuai dengan teorinya, ketika massa jenis benda lebih kecil daripada massa jenis airnya, maka benda tersebut akan mengapung.

Dengan massa tubuh manusia yang 0,985 gram/cm3 sedangkan massa jenis air laut adalah 1,24 gram/cm3, sehingga tidak heran bila Anda bisa mengapung. Tetapi bila beban yang terapung di atas laut lebih berat, pasti akan tenggelam juga.

  Hutan Gunung Rinjani terbakar, ancaman laten yang terjadi pada musim kemarau?

Karena kadar air garam yang tinggi pula, Anda tidak akan menemukan kehidupan bawah laut seperti pada umumnya. Mengingat, tidak ada makhluk hidup yang sekecil apapun akan bertahan dengan kadar garam tinggi.

Laut Mati, baik di Pantai Tureloto maupun Yordania biasanya dipengaruhi oleh kondisi iklim yang kering. Sehingga evaporasi atau penguapan tinggi menyebabkan mineral yang terdapat di dalam air tersebut berubah.

Hal ini ditambah kandungan garam, gipsum dan kapur yang terdapat di sekitar retakan, membentuk danau dengan konsentrasi garam yang sangat tinggi. Namun terlepas dari faktanya, Laut Mati di Pantai Tureloto bisa memberikan liburan yang menyenangkan.

3. Terumbu karang nan indah

Pantai Tureloto (Boy Simangungsong/Flickr)

`Kehadiran batu karang di Pantai Tureloto juga menambah nilai yang cukup besar bagi para pengunjung saat mendatangi tempat ini. Batu karang di Pantai Tureloto ini ternyata menjadi salah satu bukti sejarah terjadinya gempa 12 tahun lalu.

Di mana sejumlah karang mengalami kenaikan sebesar satu sampai dua meter. Batu karang yang terbentuk tersebut akhirnya menambah keindahan dari pantai, bahkan banyak pengunjung yang mengabadikan gambar di batu karang tersebut.

  Krisis pangan ancam masyarakat global, apakah food estate bisa menjadi solusi?

Selain itu batu karangnya juga unik. Salah satunya berbentuk lingkaran seperti otak manusia yang terlihat menonjol, sehingga masyarakat menyebutnya dengan batu otak. Kemudian pada tengah hari, panorama laut dan langit akan menciptakan gradasi biru kehijauan yang akan memanjakan mata.

“Kita bisa melihat keseluruhan taman indah di bawah laut di Pantai Tureloto, susunan batu karang berupa atol kecil di tengah lautan luas,” sebut Knutch.

Salah seorang warga setempat, Yanuarman Gulo yang juga pemilik Tureloto Park menyebutkan Pantai Tureloto memang mirip Laut Mati yang ada di Yordania. Menurutnya Desa Tureloto memiliki pantai yang tenang tanpa ombak.

Di tepi pantai terdapat gugusan karang-karang berbagai ukuran seperti otak, dan air lautnya biru serta jernih. Dirinya menyebut, pasca gempa 12 tahun lalu, sejumlah karang mengalami kenaikan setinggi satu hingga dua meter.

“Di permukaan dapat melihat karang-karang yang kasar. Namun di bawah laut, kita dapat menikmati terumbu karang yang indah dengan biota karang yang banyak, dan saat ini sudah mulai banyak terumbu karang yang terlihat mulai tumbuh,” katanya.

Biasanya Pantai Tureloto ramai dikunjungi pada bulan Februari hingga September, kala itu air laut tenang dan pancaran sinar matahari tidak begitu terik namun bersinar dengan indahnya.

Artikel Terkait

Artikel Lainnya