Upaya kembalikan Situ Cisanti untuk perlindungan terhadap ekosistem

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Situ Cisanti (Matiinu Iman Ramadhan/Flickr)

Terletak di Tarumajaya, Kertasari, Bandung, Situ Cisanti yang merupakan danau buatan itu memiliki luas kurang lebih sekitar 5 hektare dan berada di lahan seluas 7 hektare di kawasan perhutani, kaki Gunung Wayang, dengan ketinggian 1.500–1.700 mdpl.

Di sekitar Situ Cisanti pula tempat pertama kali sungai purba Citarum mengalirkan air dari kawasan hutan Gunung Wayang, Bandung Selatan, terdapat beragam mitos yang diungkapkan sejumlah juru kunci.

Mitos ini bisa menjaga Situ Cisanti dari kerusakan selama beratus-ratus tahun. Tetapi titah leluhur Priangan, Jawa Barat, terkait dengan pelestarian alam itu kini tinggal cerita. Kini mitos tersebut mulai dikembalikan.

Lalu bagaimana warisan mitos itu merawat Situ Cisanti? Dan bagaimana juga upaya mengembalikan mitos tersebut? Berikut uraiannya:

1. Mitos Situ Cisanti

Situ Cisanti (iq ronaldo/Flickr)

Di sekitar Situ Cisanti, tempat pertama kali sungai purba Citarum mengalirkan air dari kawasan hutan Gunung Wayang, Bandung Selatan, terdapat beragam mitos yang diungkapkan sejumlah juru kunci.

Mitos ini bisa menjaga Situ Cisanti dari kerusakan selama beratus-ratus tahun. Tetapi titah leluhur Priangan, Jawa Barat, terkait dengan pelestarian alam itu kini tinggal cerita. Kini mitos tersebut mulai dikembalikan.

Oman, seorang juru kunci turun temurun yang tinggal di sana mengungkapkan bahwa dahulu pamali (tabu) ada orang yang masuk hutan Gunung Wayang. Larangan ini sudah dipatok oleh karuhun (leluhur).

  Keindahan Priangan dalam kenangan Franz Wilhelm Junghuhn

Disebutkan olehnya siapa saja yang berani masuk, apalagi beritikad buruk, bakal tersesat dan terkena musibah. Disebutkannya pernah ada orang yang masuk dan menebang pohon di Gunung Wayang, pulangnya meninggal.

“Dulu hutan ini angker, siapa saja yang masuk ke hutan ini sering kasarung (tersesat). Dia terus berputar-putra di sekitar hutan dan tidak bisa pulang,” timpal Ma Abu, juru kunci lainnya dalam Tanah Air: Ketika Kearifan Lokal Tergerus Zaman yang diwartakan Litbang Kompas.

Disebutkannya makna dari ketabuan itu sebenarnya adalah agar hutan di kawasan itu tidak rusak dijamah oleh tangan-tangan manusia yang tidak bertanggung jawab. Tetapi disebutkannya kini warga sudah tidak lagi memperdulikan ketabuan.

“Sekarang zamannya sudah lain,” katanya.

2. Kerusakan alam

Situ Cisanti (Irwan Fathurrahman/Flickr)

Pasang surut peradaban juga pernah mendera Cisanti pasca Reformasi tahun 1998. Ketua Lembaga Masyarakat Desa Hutan Wana Lestari Tarumajaya, Agus Drajat, mengisahkan, kawasan petak 73 seluas 265 hektare di hulu Cisanti dirambah 334 keluarga petani.

Komoditas yang ditanam adalah kentang, kubis, atau wortel. Tanah di daerah kaki Gunung Wayang ini subur sehingga 1 hektare lahan bisa menghasilkan 15-20 ton kentang dalam sekali panen.

Aktivitas perambahan juga terkait dengan kepemilikan tanah yang sempit akibat ledakan penduduk. Akibat perambahan hutan di sekitar Situ Cisanti, di lekukan gunung yang melingkari danau itu hanya terlihat warna kecoklatan dan kadang hitam.

  Ironi di tanah Priangan: nasib petani yang tak seharum aroma teh

Peristiwa yang menimpa bagian hulu pasti berdampak lebih parah bagi hilir. Malah sebagian dari tujuh mata air setempat tak mengeluarkan air. Akibatnya, air danau menyusut, mirip rawa-rawa, karena tertimbun tanah erosi air hujan.

Agus mengungkapkan komitmen masyarakat untuk mengembalikan hijaunya Situ Cisanti amat penting. Buktinya, setelah 334 keluarga petani tersebut tidak menggarap kawasan itu lagi sejak 2003, debit air Cisanti agak stabil.

Namun, sebagian besar kawasan berlereng terjal di sekitarnya masih dipenuhi lahan pertanian semusim yang mengabaikan konservasi. Pada awalnya kawasan itu gundul, lalu warga Citarum Bergetar (Bersih, Geulis, Lestari) berinisiatif menyadarkan petani.

“Mereka akhirnya mau turun, tetapi tetap menggarap dengan menanam kopi. Mereka tidak lagi menanam sayur yang selama ini menyumbang laju erosi cukup tinggi terhadap sungai,” jelas Dedi Muhtadi dan James Eudes Wawa dalam Tanah Air: Cisanti, Menerangi Peradaban Pulau Jawa-Bali terbitan Litbang Kompas.

3. Mengembalikan mitos

Situ Cisanti (Matiinu Iman Ramadhan/Flickr)

Disebutkan oleh warga sekitar, penggunaan mitos atau kepercayaan masyarakat setempat untuk mengeramatkan sebuah tempat masih efektif sebagai upaya melestarikan alam di sekitar tempat tersebut.

“Itulah sebabnya, banyak komunitas adat yang dulu sering menggelar ritual adat di sebuah lokasi bertujuan agar menimbulkan kesan angker atau harus diperlakukan dengan hati-hati oleh masyarakat biasa,” kata Dadan Madani, tokoh pemuda dari Kecamatan Kertasari.

  Tata ruang Situs Gunung Padang yang dikelilingi mitos dan spiritual

Generasi keenam dari kuncen atau penjaga Gunung Wayang, Ujung Suhanda, menambahkan institusi formal seperti undang-undang disertai aparatnya sebenarnya bisa berjalan bersama dengan institusi budaya.

“Masyarakat masih percaya ada peraturan tersendiri ketika memasuki kawasan yang dianggap angker. Peraturan tersebut bisa berupa pantangan ataupun kewajiban yang harus dilakukan sebelum beraktivitas,” tuturnya.

Di hulu Citarum, penggunaan mitos belum sebanyak yang dilakukan berbagai komunitas adat untuk melindungi alam dari perusakan oleh manusia. Pasalnya, mitos sering dibenturkan dengan agama sehingga yang tampak hanya ideologi atau keyakinan.

Acara ritual adat untuk menyelamatkan hutan dan air yang pernah ada di sana, misalnya, upacara Kuwera Bakti Darma Wisada. Terakhir, upacara ini digelar pada pertengahan 2007 dan tidak pernah digelar lagi karena menuai kontroversi.

“Kami akhirnya melakukan pendekatan rasional bahwa sumber air itu milik bersama dan harus dilestarikan. Pengetahuan warga kami cukup terbuka karena akses pendidikan di Kota Bandung relatif dekat,” ungkap Agus Darajat, Ketua Lembaga Masyarakat Desa Hutan Wana Lestari, Desa Tarumajaya, Kecamatan Kertasari.

 

Artikel Terkait

Artikel Lainnya