Wisata Gunung Tangkuban Perahu, layaknya bertamu ke rumah para dewa

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Gunung Tangkuban Perahu (Wahyu Sena/Flickr)

Menjelajahi keindahan Gunung Tangkuban Perahu layaknya bertamu ke rumah para dewa. Gunung ini menyuguhi tamu yang datang dengan hijau pepohonan, segarnya air, bebatuan cadas yang menantang, dan lembutnya lumpur belerang.

Pada hari libur, ratusan mobil berjajar di pelataran Kawah Ratu. Turis datang dari dalam dan luar negeri. Turis yang datang dalam beberapa tahun terakhir sebagian besar berasal dari Asia, seperti Jepang, Korea, dan Malaysia.

Lalu bagaimana kepercayaan masyarakat mengenai Tangkuban Perahu? Dan keindahan ini menyedot perhatian bagi wisatawan? Berikut uraiannya:

1. Tempat para dewa

Gunung Takuban Perahu (iq ronaldo/Flickr)

Menjelajahi keindahan Gunung Tangkuban Perahu layaknya bertamu ke rumah para dewa. Gunung ini menyuguhi tamu yang datang dengan hijau pepohonan, segarnya air, bebatuan cadas yang menantang, dan lembutnya lumpur belerang.

“Dewa-dewa dan orang sakti tinggal di sini. Sebutan awalnya bukan Tangkuban Perahu, tetapi Panguban Parahu. Artinya, wadah orang sakti di masa leluhur dulu,” kata Suhandi, juru kunci Gunung Tangkuban Perahu yang dimuat Tanah Air: Bertamu ke Rumah Para Dewa terbitan Litbang Kompas.

Kepercayaan itu terkait bentuk Gunung Tangkuban Perahu yang menyerupai perahu terbalik. Suhandi menuturkan, layaknya pangauban (Sunda) atau wadah, Tangkuban Perahu tidak berbentuk lancip.

  Jejak kereta kuda, transportasi andal orang kaya Paris van Java

Ahli geologi Budi Brahmantyo dan T Bachtiar dalam buku Wisata Bumi Cekungan Bandung menerangkan bentuk tidak lancip itu disebabkan banyaknya lubang kepundan (kawah tempat keluarnya magma atau gas.

2. Sederetan kawah

Gunung Tangkuban Perahu (gb2/Flickr)

Di Tangkuban Perahu berderet 12 kawah, dari barat hingga ke timur. Kemunculan kawah-kawah itu merupakan hasil erupsi selama ribuan tahun. Gunung Tangkuban Perahu lahir dari kaldera Gunung Sunda akibat letusan besar sekitar 150.000 tahun lalu.

Warga di sekitar Tangkuban Perahu menamai kawah-kawah itu dengan ciri fisik mereka. Kawah paling besar disebut Kawah Ratu, ada Kawah Upas yang mengeluarkan gas beracun, serta Kawah Orok yang mengeluarkan suara seperti rintihan bayi.

Ada juga Kawah Pangguyangan Badak yang dipercaya sebagai tempat mandi badak, Kawah Jurig (setan) yang angker, Kawah Jarian yang menyerupai tempat pembuangan sampah. Kawah Brahma yang ditinggali Dewa Brahma.

Tak ketinggalan Kawah Suci yang menjadi tempat ziarah, Kawah Siluman, Kawah Jagal yang mematikan karena setiap kali hewan melintasi kawah itu pasti mati, Kawah Baru yang belakangan muncul, dan Kawah Domas yang jadi tempat pandai besi Ki Domas.

  Keindahan Priangan dalam kenangan Franz Wilhelm Junghuhn

Untuk melihat Kawah Ratu yang dikisahkan sebagai tempat Dayang Sumbi menceburkan diri, gara-gara obsesi cinta anaknya Sangkuriang itu. Pandangan bebas ke dasar Kawah Ratu membuat takjub.

“Genangan air hujan yang jatuh di dasar kawah bisa berubah warna-warni: kadang biru, lain dari hijau. Halimun yang turun perlahan dari pucuk pepohonan menerbitkan eksotisme alam,” papar Rini Kustiasih dan Adi Prinantyo dalam Tanah Air: Tangkuban Perahu yang Penuh Legenda.

3. Keindahan dari legenda

Gunung Tangkuban Perahu (iq ronaldo/Flickr)

Pada hari libur, ratusan mobil berjajar di pelataran Kawah Ratu. Turis datang dari dalam dan luar negeri. Khamin, sudah puluhan tahun menjadi pemandu wisata, menuturkan turis yang datang sebagian besar dari Asia, seperti Jepang, Korea dan Malaysia.

“Pada tahun 1980-an yang banyak datang bule-bule dari Belanda, Prancis, dan Jerman. Sampai sekarang saya punya langganan turis Prancis yang dalam setahun bisa berkunjung tiga kali,” katanya.

Sesampai di Gunung Tangkuban Perahu, wisatawan akan disambut dengan hawa dingin dan bau belerang Kawah Ratu. Di dinding kawah, turis bisa menyaksikan sisa lava yang membantu dan pasir berlapis-lapis.

  Kampung Banceuy yang sejahtera karena warisan berdamai dengan alam

Kawah Upas menyerupai danau dengan air berwarna hijau. Kawah itu tidak aktif, namun pengunjung dilarang ke dasar kawah karena potensi gas beracun. Ada juga pepohonan rimbun di hutan bisa mengurangi rasa lelah.

Di kawasan itu juga hidup macan kumbang, surili, lutung, babi hutan, kijang, trenggilis, jelarang, dan berbagai jenis burung. Fungsi etnologi juga merekatkan hubungan masyarakat Sunda dengan Tangkuban Perahu.

Tangkuban Perahu memasok 60 persen sumber air bagi cekungan Bandung. Kerusakan ekologis bisa menjadi ancaman bagi warga Bandung. Tangkuban Perahu kini berubah jadi sandaran hidup ribuan orang.

 

Artikel Terkait

Artikel Lainnya