Opini: Sebenarnya G20 untuk siapa?

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Acara G20 di Bali (G20 Presidency of Indonesia/Flickr)

Melaku-melaku ke Pulau Bali usai perhelatan event Internasional di Nusa Dua, beberapa waktu lalu, membawa perubahan yang menggembirakan di dunia pariwisata. Saat pandemi Covid-19 silam. Bali begitu memprihatinkan semua pelaku usaha dan jasa pariwisata nyungsep tak berdaya. 

Alhamdulillah, di penghujung tahun 2021 Indonesia ditunjuk menjadi presidensil Group of twenty (G-20), Presiden Joko Widodo yang hadir di Roma, Italia, saat itu bisa saja menolak karena belum siap, lantaran politik dalam negeri serta perekonomian yang morat-marit, bahkan sampai saat ini pun masih morat-marit.

Tapi singkat cerita, data statistik menunjukkan pandemi Covid-19 mulai melandai. Aktifitas sosial ekonomi masyarakat mulai bergerak, ibarat seorang bayi yang baru belajar merangkak. Sangat lambat dan terkadang tersungkur bahkan banyak yang nyungsep tak bergerak, karena kehabisan modal. Begitulah realita yang terjadi di tengah masyarakat, belum lagi cobaan musibah bencana alam.

Secara pribadi, penulis miris mendengar cobaan yang terjadi di Bumi Pertiwi. Terlebih sebagian daerah di Pulau Bali yang menjadi tuan rumah KTT G20 mengalami longsor, rob, serta sebagian jalan protokol di kota Denpasar, seperti Jl. Gatot Subroto Barat mengalami kerusakan parah, akibat erosi.

Tapi Alhamdulillah, KTT G20 telah berlangsung sesuai keinginan, semua cepat dibenahi dan diatasi melalui komando Gubernur Bali I Wayan Koster, beserta tim kerja dan masyarakat yang turut berpartisipasi.

  Opini: Yang beruntung dan yang selamat

Mengutip dari berbagai sumber, acara KTT G20 di Bali menghabiskan dana sekitar Rp800 miliar, mulai dari persiapan sampai acara puncak. Dari pertemuan di Bali menghasilkan kesepakatan kerja sama dengan beberapa negara maju, seperti Amerika Serikat yang menginvestasikan dananya sebesar Rp38,82 triliyun di bidang chemical dan Lingkungan hidup guna menurunkan emisi karbon.

Sementara negara Jepang, Turki, dan Inggris, menanam modal di Indonesia untuk infrastrukstur dan transportasi. Ada juga uang Rp5 Miliar dari China untuk teknologi kendaraan listrik dan Rp75 Triliyun di sektor EBT.

Sebagai rakyat jelata, penulis berharap dari hasil pertemuan Internasional tersebut, semua bisa dimanfaatkan untuk membangun kepentingan ekonomi masyarakat Indonesia khususnya UMKM, akses jalan dan infrastruktur jaringan internet dari Sabang sampai Merauke dari pulau Rote ke pulau Mianggas.

Tidak ada lagi anggaran yang di korupsi dan pungli tender proyek, maupun nepotisme makelar proyek. Semua bergerak atas nama Bangsa Indonesia menuju mercusuar dunia.

Sebenarnya G20 untuk siapa?

Kilas balik ke waktu lampau. Satu hari di Eropa suhu udara terasa dingin membeku, tepatnya awal tahun 1970-an Presiden Amerika serikat saat itu dijabat Ricardh Nixon curhat kepada 3 rekannya yang juga pejabat tinggi negara Inggris, Prancis, dan Jerman.

  Kisah Novilla Aru, penggerak komunitas perempuan adat di Papua

Ternyata apa yang dialami Ricardh Nixon sama dengan ketiga sahabatnya itu setali tiga uang. Lalu pada tanggal 25 Maret 1973, Amerika Serikat dan Inggris mengembangkan teknologi internet sebagai propaganda media komunikasi.

Pada tahun yang sama pula, Jepang ikut hadir dan bergabung membentuk G5 yang saat itu mereka negara kuat perekonomiannya dan teknologinya.

Sang waktu terus bergulir tahun-pun berganti tahun. Kelima Negara Adikuasa dan adidaya selalu melakukan pertemuan berpindah-pindah, ketawa-ketiwi, sembari bergoyang salsa membahas mengenai Geopolitik di negara mereka.

Tahun 1975 bergabunglah Italia yang diikuti kanada pada 1976 menjadi Goup sevent (G7). Melihat mereka asyik terus dan mencari keuntungan untuk grup tersebut, pada 1997 bergabunglah Rusia, dan namanya pun berubah menjadi menjadi G8.

Rusia menganggap Grup yang diikutinya bukan sebuah institusi resmi dan tidak memiliki struktur organisasi maupun kantor serikat bersama, semua kegiatannya tidak resmi.

Mengetahui kondisi grup adikuasa dan adidaya tersebut tidaklah penting bagi Rusia, Vladimir Putin berulah dengan mengganyang wilayah Krimea yang menjadi bagian Ukraina, akibat ulah tersebut dikeluarkan Rusia dari group–G8–pada tahun 2014.

Seiring berjalannya sang waktu, G7 pun berbenah dan menjadi sebuah organisasi resmi dan penting membahas tentang krisis global yang terjadi pada dunia dan pada tahun 1999 menjadi G20 mengganti G7 yang dianggap mengecewakan dan gagal oleh beberapa negara.

  Hutan sakral dan cara warga desa melindungi dari kerusakan

Sedangkan saat ini, anggota dari G20 terdiri dari: Afrika Selatan, Amerika Serikat, Arab Saudi, Argentina, Australia, Brasil, India, Indonesia, Inggris, Italia, Jepang, Jerman, Kanada, Meksiko, Republik Korea, Rusia, Perancis, Tiongkok, Turki, dan Uni Eropa.

Kalau ditinjau penghasilan sebuah negara melalui sumber wikipedia bukan dari badan statistik. Di tahun 2021–2022, Brunei Darussalam adalah negara kaya di Asia Tenggara, karena negeri kerajaan hanya memiliki penduduk dengan jumlah 441.532 jiwa, namun memiliki pendapatan negara 35,555 miliar dolar AS.

Sedangkan Singapura memiliki jumlah penduduk  5.630.000 jiwa dengan pendapatan negara 424,431 miliar dolar AS. Dan Malaysia yang memiliki pendapatan 364,68 miliar dolar AS atas  jumlah penduduk yang tercatat 32,78 juta, bahkan belum menjadi anggota tetap dalam G20.

Sementara Indonesia dengan pendapatan negara sebesar 1,29 triliun dolar AS dengan jumlah penduduk 275,7 juta hiwa dan India memiliki jumlah penduduk mencapai 1.375.586.000 Jiwa (dengan penghasilan negara sebesar 3.469 trilliun dolar AS), menjadi dua negara yang merupakan pasar strategis bagi negara-negara barat.

Lah, pertanyaan di atas tadi belum terjawab. Jadi G20 untuk siapa?

Artikel Terkait

Berdaya