Melacak sejarah Probolinggo dari taburan candi-candi di lereng Gunung Argopuro

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Candi Jabung di Probolinggo (Aryz Badr Photography/Flickr)

Berkunjung ke Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur, belum lengkap bila tidak menelusuri lereng Gunung Argopuro. Di sini tersebar peninggalan sejarah Majapahit pada abad ke 14, termasuk di antaranya Candi Kedaton.

Pajarakan pernah menjadi kota penting pada masa Majapahit. Dalam Pararaton dan Kidung Sorandaka, wilayah ini disebut sebagai benteng Mpu Nambi (Patih Amangkubhumi pertama Majapahit era Jayanegara).

Lalu bagaimana sejarah Probolinggo pada masa lalu? Sepenting apakah kota tersebut? Berikut uraiannya:

1. Candi dalam muatan sejarah

Candi Kedaton (Hari Daryantoo/Flickr)

Berkunjung ke Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur, belum lengkap bila tidak menelusuri lereng Gunung Argopuro. Di sini tersebar peninggalan sejarah Majapahit pada abad ke 14, termasuk di antaranya Candi Kedaton.

Meski begitu, keelokan candi yang disebut Candi itu tidak turut hilang. Hampir di tiga sisinya terdapat cerita relief yang menyimpan misteri masa lalu, yaitu kisah Arjunawiwaha di sisi barat, Garudeya di sisi selatan, dan Bhomantaka di sisi timur.

“Keberadaan candi ini menjadi salah satu penanda penting kawasan di lereng Argopuro ini. Darah sini dahulu bisa dibilang merupakan kawasan pertapaan atau karesian dan bisa jadi juga merupakan suatu kawasan otonom kecil yang keberadaannya diperhitungkan oleh penguasa Majapahit,” tutur sejarawan dari Universitas Negeri Malang, Dwi Cahyono yang dimuat Kompas.

Disebutkan oleh Dwi, pada zamannya, daerah tersebut diduga menjadi aktivitas masyarakat Hindu, khususnya sekte Syiwa. Perkembangan agama Hindu sekte Syiwa ditunjukkan pada relief batur Candi Kedaton yang menggambarkan kisah Arjunawiwaha.

  Misteri Candi Kayen: jejak peradaban India di tanah Jawa

Di mana seorang pertapa telanjang bertemu dengan Arjuna. Ini dipercaya merupakan salah satu budaya ekstrem Hindu Syiwa kalai itu, di mana untuk bertemu dewata harus melakukan tindakan ekstrem seperti telanjang atau menyerahkan bagian tubuhnya.

2. Pusat peradaban

Candi Jabung di Probolinggo (Aryz Badr Photography/Flickr)

Di seberang Candi Kedaton, melewati Sungai Tekong (berjarak lebih kurang 1 kilometer) pernah ditemukan Arca Bima dengan ketinggian lebih dari dua meter. Kini, arca tersebut disimpan di Museum Trowulan, Mojokerto.

Menurut Dwi Cahyono, lingga besar seperti itu biasanya berada di pusat kota atau pemerintahan. Lingga merupakan sumber kekuatan magis atau kerajaan. Karena itu didiga dahulu kawasan Tiris dan sekitarnya merupakan pusat peradaban Probolinggo.

“Bukan saja karena adanya Candi Kedaton dan arca Bima besar, melainkan di daerah sepanjang lereng Argopuro ini banyak ditemukan punden berundak sebagai salah satu peninggalan zaman megalitik,” paparnya.

Bahkan menurut Dwi, ramainya peninggalan sejarah di kawasan Tiris dan sekitarnya dimungkinkan menjadi latar belakang penamaan Probolinggo. nama Probolinggo diduga berasal dari kata prabha (sinar) dan lingga (dewi).

  Jejak Dewi Sri yang berikan kesuburan di Magetan

“Orang setempat mengartikan Probolinggo sebagai tempat yang bersinar,” jelasnya.

3. Kota penting

Candi Kedaton (Senasana Wira/Flickr)

Turun dari wilayah pegunungan dengan ketinggian 600 meter di atas permukaan laut (mdpl), melewati jalan berkelok ke arah utara lebih kurang 22 kilometer, wisatawan akan sampai di wilayah pesisir pantai utara Jawa, tepatnya di daerah Pajarakan.

Pajarakan pernah menjadi kota penting pada masa Majapahit. Dalam Pararaton dan Kidung Sorandaka, wilayah ini disebut sebagai benteng Mpu Nambi (Patih Amangkubhumi pertama Majapahit era Jayanegara).

Benteng ini pula yang pada tahun 1316 Masehi dihancurleburkan oleh Majapahit karena Nambi dinilai memberontak terhadap Majapahit. Sayangnya, sisa benteng Pajarakan ini hingga kini belum ditemukan.

Ke timur lebih kurang 5 kilometer, terdapat Candi Jabung. Candi ini juga merupakan salah satu penanda penting era Majapahit. Candi yang terletak di Desa Jabungcandi, Kecamatan Paiton, Kabupaten Probolinggo ini menjadi tempat singgah Hayam Wuruk pada tahun 1359.

“Singgahnya Hayam Wuruk oleh sebagian orang juga dianggap menjadi dasar penamaan Probolinggo, yaitu berasal dari kata prabu (raja) dan linggih (duduh atau berada).

  Upacara Melasti, ritual penyucian diri melalui air sebagai sumber kehidupan

Candi Jabung dibuat dari bata merah. Ukuran panjang candi 13,11 meter dan lebar 9,58 meter serta tinggi 15,58 meter. Candi berdiri pada lahan 35 x 40 meter dan setelah pemugaran lahannya diperluas menjadi 20.042 meter persegi.

Candi ini dalam Kitab Negarakertagama pupuh XXXI menjadi salah satu persinggahan Raja Hayam Wuruk saat melakukan perjalanan ke timur. Rute Pajarakan-Jabung-Bremi-Tiris sampai Lumajang merupakan rute Hayam Wuruk kala itu.

“Diduga, inilah rute zaman klasik di wilayah yang kini disebut Probolinggo,” ucapnya.

Artikel Terkait

Artikel Lainnya