Prasasti Talang Tuo dan cerita Raja Sriwijaya lindungi alam untuk capai kemakmuran

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Prasasti Talang Tuo (baka_neko_baka/Flickr)

Prasasti Talang Tuo merupakan maklumat Raja Sriwijaya Sri Baginda Sri Jayanasa pada 23 Maret 684 Masehi. Di dalamnya salah satunya termuat tentang pentingnya perlindungan terhadap lingkungan.

Tetapi ironinya, salah satu wilayah yang lingkungannya mengalami kerusakan tersebut adalah Sumatra Selatan. Padahal penataan lingkungan ini sudah diamanahkan Raja Sriwijaya pada masa silam.

Lalu bagaimana sejarah Prasasti Talang Tuo? Dan apa peran Raja Sriwijaya untuk menata lingkungan? Berikut uraiannya:

1. Lingkungan bagi Sriwijaya

Taman Purbakala (baka_neko_baka/Flickr)

Prasasti Talang Tuo merupakan maklumat Raja Sriwijaya Sri Baginda Sri Jayanasa pada 23 Maret 684 Masehi. Di dalamnya salah satunya termuat tentang pentingnya perlindungan terhadap lingkungan.

Yenrizal dalam bukunya yang berjudul Lestarikan Bumi dengan komunikasi Lingkungan mengatakan Talang Tuo merekam peristiwa saat baginda Dapunta Hyang Sri Jayanasa, raja pertama Kerajaan Sriwijaya memerintahkan penataan lingkungan.

“Karena lingkungan alam ini adalah untuk kemakmuran (semua) umat manusia, bukan segelintir orang saja, tidak hanya untuk kerabat kerajaan, atau pula untuk pemilik modal,” tulisnya.

Misalnya saja dalam prasasti tersebut diperintahkan agar tanaman-tanaman dengan bendungan dan kolam-kolamnya dapat digunakan untuk kebaikan semua mahluk, agar terkena malapetaka.

  Butuh perhatian serius, ini 5 masalah lingkungan paling besar di Indonesia

Kemakmuran menjadi kata kunci bagi Raja Sriwijaya masa itu. Kemakmuran tidak sekadar kata atau janji, melainkan suatu tindakan nyata yang dilakukan raja untuk membahagiakan semua makhluk yang hidup di muka bumi.

“Kelola lingkungan untuk kemakmuran semua mahluk. Andai amanat itu dilaksanakan di zaman ini, alangkah bahagianya semua makhluk yang hidup di Bumi Sriwijaya sekarang,” kata Budayawan Nurhadi Rangkuti dalam Mongabay Indonesia.

2. Pembuatan taman

Taman Purbakala (baka_neko_baka/Flickr)

Talang Tuo merupakan prasasti berbahasa Melayu kuno yang dinamakan berdasarkan tempat penemuan. Talang ialah kosa kata Melayu yang salah satu artinya dukuh (kampung), sedangkan kata Tuo berarti tua atau lama.

Seolah prasasti yang ditulis sejak 684 Masehi ini tergambar melalui nama wilayah di mana dia terkubur: Talang Tuo (kampung yang tua). Menjadi pertanyaan apakah leluhur Sriwijaya sengaja menamakan lokasi itu Talang Tuo agar generasi selanjutnya tidak melupakan?

Hal yang jelas adalah semangat penjagaan lingkungan hidup dari Prasasti Talang Tuo adalah kemakmuran. Seperti tertuang dalam kata pembukaan isi Prasasti Talang Tuo yakni selamat sejahtera!

  5 publik figur Indonesia yang aktif sebagai pegiat lingkungan

Karena itu, agar mencapai kemakmuran tersebut, manusia harus memperlakukan alam atau lingkungan secara baik. Kondisi ini bisa terlihat dari kisah dalam prasasti ini yang memuat peristiwa pembangunan Taman Sriksetra atas perintah raja.

“Di taman itu ditanam berbagai tumbuhan seperti pohon kelapa, pinang, aren, sagu, bambu haur, wuluh, dan sebagainya.” ucap Nurhadi.

Menurut Nurhadi, Taman Sriksetra menjadi acuan untuk pengembangan taman-taman atau kebun-kebun lainnya yang dilengkapi dengan bendungan-bendungan dan kolam-kolam pada masa mendatang.

Pada masa itu, jelasnya, taman, kebun, bendungan dan kolam tersebar di berbagai tempat. Semua itu untuk kebahagian semua manusia, tumbuhan, dan hewan. Raja menginginkan semua kebun dipenuhi tumbuhan, demikian pula ternak terus bertambah.

“Raja mempunya komitmen tidak ada lagi orang yang lapar, tidak ada lagi pencuri, pembunuh, atau pezinah,” paparnya.

3. Mulai dari rumah

Prasasti Talang Tuo (baka_neko_baka/Flickr)

Nama Talang Tuo juga mengisyaratkan bahwa dalam berkontribusi memajukan peradaban, bisa dimulai dari yang terkecil yakni lingkungan sekitar rumah. Makna ini diperoleh dari kata Talang yang berarti kampung sebagai kesatuan administrasi terendah.

  Bobeto, sumpah turun-temurun masyarakat Kalaodi untuk menjaga alam

Sedangkan kata Sriksetra yang termaktub dalam prasasti Talang Tuo bisa dimaknai dengan kebijaksanaan memanfaatkan alam serta peniadaan eksploitasi manusia. Bahkan ada juga ajaran untuk menjalin persaudaraan.

“Selalu itu semoga mereka yang datang merupakan kawan dan penasehat yang baik, dan dalam jiwanya terlahir pikiran Bodhi serta persahabatan.”

Konsep konservasi tanah dan air juga telah diinisiasi dengan titah raja kepada penduduk untuk menanam jenis pohon mulai dari kelapa, sagu, pinang, bumbu wuluh. Tamanan ini tidak hanya bermanfaat bagi manusia tetapi juga binatang.

Dr Najib Asmani menilai bangsa Indonesia umumnya bangsa di Asia Tenggara, harus bangga telah memiliki amanah dari pemimpin Sriwijaya tersebut.Terutama pesan untuk melindungi lingkungan agar bisa selamat.

“Prasasti Talang Tuo jelas amanah bagi kita, jika kita ingin selamat di dunia maupun akhirat, jagalah lingkungan, jagalah bumi,” paparnya.

Artikel Terkait

Artikel Lainnya