Rekaman dahsyatnya letusan Gunung Merapi dalam cerita terpendamnya Candi Losari

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Candi Losari (Alida Szabo/Flickr)

Cerita tentang dahsyatnya erupsi Gunung Merapi dapat dirunut dengan berbagai cara, salah satunya dengan belajar dari keberadaan Candi Losari di Kabupaten Magelang. Letak candi yang berada di bawah permukaan tanah konon akibat dari erupsi Gunung Merapi.

Disebutkannya, erupsi Merapi waktu itu mengakibatkan dampak yang cukup besar sehingga menjadikan masyarakat zaman tersebut banyak yang berpindah ke Jawa Timur untuk mendirikan kerajaan di sana.

Lalu bagaimana Candi Losari merekam sejarah letusan Gunung Merapi? Dan bagaimana kondisinya saat ini? Berikut uraiannya:

1. Jejak letusan dalam candi

Gunung Merapi (Wikipedia)

Candi Losari terletak di Dusun Losari, Desa Salam, Kecamatan Salam, Kabupaten Magelang. Candi ini terletak 25 Km dari puncak Gunung Merapi dan ditemukan pada tahun 2004 dalam kondisi tertimbun aliran lahar.

“Dari dulu posisi Candi Losari memang di sini. Namun karena dampak erupsi Gunung Merapi yang diduga sekitar tahun 1006, maka lahar dingin mengubur candi ini,” kata Juru Pelihara Candi Losari, Halimah yang dimuat Berita Magelang.

Disebutkannya, erupsi Merapi waktu itu mengakibatkan dampak yang cukup besar sehingga menjadikan masyarakat zaman tersebut banyak yang berpindah ke Jawa Timur untuk mendirikan kerajaan di sana.

  Ekskavasi Situs Adan-Adan: tabir peradaban di Candi Buddha terbesar di Jawa Timur

Dari beberapa temuan data di lapangan Candi Losari berlatar agama Hindu. Candi Losari diperkirakan terkena endapan lahar hujan letusan Gunung Merapi pada kurun waktu abad ke 10-11 Masehi.

Lahar ini merupakan limbahan dari sungai-sungai yang ada di sekitarnya dan Sungai Krasak yang cukup besar. Karena itulah Candi Losari dapat menggambarkan betapa dahsyatnya letusan Merapi pada masa silam.

2. Penemuan Candi Losari

Candi Losari (Alida Szabo/Flickr)

Halimah menjelaskan bahwa Candi Losari yang berada di wilayah perbatasan Magelang-Yogyakarta tersebut termasuk Candi Hindu dengan struktur satu Candi Utama (Induk), tiga Candi Perwara dan tiga Candi Pendamping.

“Ini (Candi Losari) kemungkinan berdiri di abad 8 dan 9 Masehi. Walaupun belum ditemukan prasasti, arkeolog mengatakan dari relief dan usia batu berasal dari abad itu,” jelasnya.

Situs ini ditinjau oleh tim penelitian Balai Arkeologi Yogyakarta pada bulan Juli 2005, saat sedang melakukan penelitian di Situs Mantingan yang terletak 2 km di sebelah barat Situs Losari tersebut.

Temuan pertama di situs ini berupa batu-batu andesit berhias yang merupakan bagian puncak sebuah bangunan candi. Temuan-temuan yang lain antara lain berupa balok-balok berpelipet dan berhias ceplok bunga, antefiks-antefiks

  Balaraja, tempat favorit istirahat raja-raja Nusantara

Di lokasi situs juga ditemukan struktur batu-batu candi di sebuah lubang bekas galian yang terletak di tengah kebun salak yang berukuran 1,5 x 1,5 meter persegi dengan kedalaman sekitar 1,5 meter.

Dirinya menjelaskan, candi induk pada saat ditemukan sudah dalam kondisi runtuh bersama dengan Candi Perwara. Bahkan mata air yang terdapat di dalam kompleks Candi Losari juga masih ada dan terjaga.

“Mata airnya masih terjaga. Tahun 2017 sudah dibuatkan saluran air. Kalau dulu sebelum ada saluran air. Candi Losari ini terendam air, gak kelihatan kalau musim hujan.

3. Butuh penelitian lebih lanjut

Candi Losari (Alida Szabo/Flickr)

Secara umum Candi Losari merupakan kompleks candi agama Hindu yang tidak terlalu besar, akan tetapi ragam hias serta seni arsitekturnya sangat indah. Di atas pintu masuk Candi Perwara I dan Candi Perwara II terdapat hiasan kepala kata yang masih utuh.

Ragam hias juga terlihat apik yakni berupa artefak pada komponen atap hiasan sudut atap berupa ratna atau keben. Relief arca juga dapat ditemukan di kiri masuk candi induk, kemudian juga relief Gajah di bawah pipi tangga dinding belakang candi induk.

  Legenda Jaka Tarub dan cara warga memuliakannya dengan menjaga alam

Batas situs saat ini adalah batas area penelitian yang pernah dilaksanakan oleh Balai Arkeologi Yogyakarta dan Balai Pelestarian Cagar Budaya Jawa Tengah yang ditindaklanjuti dengan tindakan pengamanan berupa pembebasan lahan.

Akan tetapi, kejelasan mengenai wilayah secara keseluruhan Situs Losari masih diperlukan wilayah secara keseluruhan Situs Losari masih diperlukan penelahan lebih lanjut sehingga dapat ditentukan batasan area pengamanan, pelestarian serta pengembangan.

Halimah menjelaskan bila dilihat secara struktur, Candi Losari merupakan tempat peribadatan waktu itu karena memiliki Satu Candi Utama dan Tiga Candi Perwara. Walaupun itu masyarakat belum banyak yang mengetahui candi ini.

 

Artikel Terkait

Artikel Lainnya