Situs pertahanan alam milik Kerajaan Lamajang yang terpendam

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Situs Biting (Mitcha_Dewi/Flickr)

Belasan arkeolog dari Universitas Gajah Mada (UGM) Yogyakarta pada tahun 2014 silam sibuk mengorek-orek tanah merah di Dusun Biting, Desa Kutorenon, Kecamatan Sukodon, Lumajang, Jawa Timur.

Para arkeolog itu berusaha menguak misteri Situs Biting yang tertanam di perut bumi Kabupaten Lumajang. Tim arkeolog itu menduga, di bawah tanah seluas 135 hektare itu ada sebuah benteng yang terkait dengan Kerajaan Majapahit.

Lalu bagaimana usaha arkeolog untuk menguak Situs Biting? Dan ada bangunan apa di dalam situs tersebut? Berikut uraiannya:

1. Situs Biting

Situs Biting (urmilah08/Instagram)

Belasan arkeolog dari Universitas Gajah Mada (UGM) Yogyakarta pada tahun 2014 silam sibuk mengorek-orek tanah merah di Dusun Biting, Desa Kutorenon, Kecamatan Sukodon, Lumajang, Jawa Timur.

Para arkeolog itu berusaha menguak misteri Situs Biting yang tertanam di perut bumi Kabupaten Lumajang. Tim arkeolog itu menduga, di bawah tanah seluas 135 hektare itu ada sebuah benteng yang terkait dengan Kerajaan Majapahit.

“Entah seperti apa lengkapnya bangunan abad 13 ini, Bisa jadi adalah sebuah benteng,” kata Masyhudi, Ketua Tim Penelitian UGM kala itu yang dimuat Bappeda Jatim.

Diperkirakan situs tersebut adalah bagian dari Kerajaan Lamajang yang terpendam. Kerajaan ini memiliki hubungan erat dengan Majapahit. Di Babad Tanah Jawa, Kerajaan Lamajang sering disebut Majapahit Timur.

  Situs Gondang dan jejak peninggalan Mataram Kuno yang bisa ubah narasi sejarah

Di areal situs memang ditemukan tumpukan-tumpukan batu bata besar. Satu bata berukuran ukuran 40 x 20 x 5 centimeter. Diduga tumpukan bata yang satu terangkai dengan tumpukan lain dengan penghubung masih tertanam di dalam tanah.

Ekskavasi dilakukan di dua titik, yaitu di titik yang diduga pintu gerbang ibu kota Lumajang (sisi barat) serta di dinding benteng dekat titik bastion (menara pandang) atau pangungakan (sisi utara).

“Kami memetakan dan berusaha mengetahui kepastian keberadaan situs sejarah di Lumajang ini. Penggalian ini bertujuan untuk menyelamatkan situs bersejarah ini,” ujar Gunadi Kasno Wiharjo arkeolog dari Balai Arkeologi Yogyakarta yang dimuat Kompas.

2. Pertahanan alam

Situs Biting (yeremiasatria1194/Instagram)

Dari penelitian diketahui, Situs Biting merupakan kawasan permukiman dan di dalamnya ditemukan pertahanan alam, meliputi Sungai Bondoyudo di sebelah utara, Sungai Bodang di sebelah timur, Sungai Ploso di sebelah barat, dan Sungai Cangkring di sebelah selatan.

Luas kawasan situs ini lebih kurang 135 hektare. Kawasan ini diperkokoh benteng dengan panjang lebih kurang 10 kilometer. Di dalam dinding benteng terdapat beberapa situs seperti blok percandian, blok jading (Taman Sari), Blok Minak Koncar, dan Blok Kraton.

  Jejak Dewi Sri yang berikan kesuburan di Magetan

Ketua Masyarakat Peduli Peninggalan Majapahit Timur, Mansur Hidayat mengatakan benteng ini diduga melindungi pusat kota Lumajang Tigang Juru mulai dari era pemerintahan Nararya Kirana dari Singasari hingga Mataram Islam dari berbagai serangan.

Dengan bukti-bukti temuan selama ekskavasi nanti, Balai Arkeologi Yogyakarta kemudian mendorong pemerintah pusat menetapkan kawasan Situs Biting sebagai kawasan cagar budaya sekitar 135 hektare.

“Sehingga, kita tidak terus-terusan berharap kepada pemerintah daerah yang selama ini hanya bisa berjanji. Jika terlalu lama tidak ada ketetapan atas Situs Biting, bisa jadi kawasan bersejarah ini rusak,” ujar Mansur.

3. Ditetapkan sebagai cagar budaya

Situs Biting (Mitcha_Dewi/Flickr)

Penetapan Situs Biting menjadi cagar budaya memang tidak mudah. Masifnya pada tahun 2011, banyak masyarakat yang sadar akhirnya mendorong situs tersebut menjadi cagar budaya Provinsi Jawa Timur.

Penetapan situs yang merupakan peninggalan Kerajaan Lamajang ini berdasarkan keputusan Gubernur Jatim Soekarwo tanggal 10 April 2018. Tetapi ketika sudah ditetapkan, penelitian dan pengungkapan ilmu pengetahuan banyak terkendala.

Mansur berharap agar kedepannya masyarakat beserta pemerintah bekerjasama dalam melestarikan situs. Supaya situs arkeologi tersebut masih dapat dinikmati oleh anak cucu dan generasi Lumajang pada masa depan.

  Petirtaan Jolotundo, mata air terbaik kedua di dunia setelah zam-zam

“Saya berharap kedepannya masyarakat dan pemerintah Lumajang bisa bekerjasama melestarikan situs ini,” ungkapnya yang dimuat Radar Jember.

Dirinya menambahkan akan bekerja keras dalam melestarikan situs tersebut. Bersama aktivis dan masyarakat akan terus membantu dalam pelestarian situs ini. Tentunya diharapkan ada dukungan dari pemerintah.

“Saya juga berharap pemerintah lebih aktif membantu kami,” ujarnya.

Artikel Terkait

Artikel Lainnya