Situs Raos Pacinan dalam jejak awal berdirinya Kerajaan Majapahit

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Situs Raos Pacinan (cakapid/Flickr)

Situs Raos Pacinan yang terletak di Dusun Raos, Desa Carat, Kecamatan Gempol, Kabupaten Pasuruan merupakan salah satu peninggalan Kerajaan Majapahit yang tersembunyi.

Situs ini menandai awal berdirinya kerajaan besar yang menguasai Nusantara dan disegani pada masanya. Situs ini juga menjadi saksi ketika Raden Wijaya, pendiri Majapahit bersembunyi dari kejaran pasukan Jayakatwang.

Lalu bagaimana sejarah Situs Raos Pacinan? Dan bagaimana juga kondisinya saat ini? Berikut uraiannya:

1. Situs yang tersembunyi

Situs Raos Pacinan (Cahya_Alam/Instagram)

Situs Raos Pacinan yang terletak di Dusun Raos, Desa Carat, Kecamatan Gempol, Kabupaten Pasuruan merupakan salah satu peninggalan Kerajaan Majapahit yang tersembunyi.

Situs ini berada sekitar 50 meter dari Kali Porong atau sekitar 1,5 kilometer dari perkampungan dan tersembunyi di balik perkebunan tebu. Warga setempat lebih sering menyebut situs ini dengan nama Recoan yang artinya arca.

Dimuat dari Wartabromo, situs ini sudah tidak sempurna karena beberapa bagiannya hilang entah kemana. Hanya tersisa dua arca yang juga tidak sempurna bentuknya serta beberapa bagian situs lainnya.

Selain itu, situs ini juga sepi dari pengunjung. Dan menurut warga memang selalu sepi dari wisatawan yang hadir. Bahkan saking sepinya, menurut warga, Situs Raos ini bahkan tidak memiliki juru kunci sebagaimana situs lainnya.

  Petirtaan Jolotundo, mata air terbaik kedua di dunia setelah zam-zam

2. Jejak pendirian Majapahit

Situs Raos Pacinan (cahya_alam/Flickr)

Situs Raos yang tampak kesepian ini padahal merupakan saksi sejarah Kerajaan Majapahit berawal. Dilansir dari Youtube Join Media, situs ini menjadi tempat Raden Wijaya pendiri Kerajaan Majapahit bersembunyi dari pasukan Jayakatwang.

Berdasarkan keterangan dalam Kitab Pararaton disebutkan ketika Raden Wijaya melarikan diri dari pasukan Jayakatwang. Pasukan ini berhasil lari sampai Rubat Carat bahkan di tempat ini Raden Wijaya harus hidup cukup lama.

Hal ini dibuktikan dari 300 meter dari Situs Raos Pacinan ditemukan struktur dari batu dan sebuah lambang pintu dengan berangka pendek 1319 saka. Namun sayangnya prasasti ini telah hilang pada tahun 2003.

Dahulunya situs ini seperti kolam, hal ini bisa dilihat dari tegel yang memang khusus untuk kolam pada zaman dahulu. Walau begitu, juru pelihara (jupel) Situs Raos Pacinan menyebut awalnya itu bukan kolam, tetapi merupakan pendapa yang menghadap ke Kali Porong.

Berdasarkan keterangan warga secara turun temurun, di bangunan menyerupai kolam itu dahulu tidak hanya terdapat sepasang Dwarapala. Tapi, juga ada patung-patung kecil lainnya, namun kini sudah raib.

  Desa ini menyediakan wisata pemandian dengan nuansa kerajaan

Diduga tulisan tersebut merupakan angka yang menjelaskan tahun. Di mana situs dilakukan pemugaran saat Majapahit di bawah pimpinan Hayam Wuruk. Selain sebagai peninggalan bekas sejarah, Situs Raos Pacinan seringkali digunakan warga untuk Tradisi Ngamong.

3. Bukti aliansi Majapahit dan Mongol?

Situs Raos Pacinan (Cahya_Alam/Instagram)

Di tempat ini pula Raden Wijaya kemudian melakukan pertemuan dengan tentara Mongol untuk menyerang Kediri. Menurut perkiraan beberapa ahli, kemungkinan situs ini adalah gerbang pelabuhan dan pangkalan militer Kerajaan Majapahit.

“Bahkan konon di daerah Sungai Porong yang dekat dengan Sungai Brantas ini yang menjadi pangkalan militer tentara Majapahit dengan tentara Mongol,” paparnya.

Dugaan tersebut karena dalam situs Raosan Pacinan ada sepasang arca Dwarapala yang menghadap ke barat, patung penjaga gerbang atau pintu dalam ajaran Siwa dan Buddha. Arca ini diduga dulunya sebagai pintu masuk sebuah bangunan.

Berdasarkan kamus istilah arkeologi yang diterbitkan pusat bahasa dan sastra Indonesia dan daerah Dwarapala sendiri berasal dari bahasa Jawa Kuno yang memiliki arti Dwara yang artinya pintu dan pala yang artinya penjaga.

  Melacak sejarah Probolinggo dari taburan candi-candi di lereng Gunung Argopuro

“Berarti Dwarapala adalah arca penjaga pintu,” yang dimuat dari Youtube Join Media.

Menurut Sejarawan Agus Aris Munandar, Dwarapala dalam agama Hindu disebut sebagai Yaksa. Yaksa digambarkan sebagai makhluk gaib yang tinggal di hutan untuk menjaga lahan pertanian agar subur.

Seorang peneliti dari Universitas Negeri Malang menyebut Deni Yudo Wahyudi menyebut pahatan dari dua arca berasal dari masa Kerajaan Singosari. Ciri yang tampak adanya ikat kepala, anting, kalung, gelang tangan, sabuk, dan gelang kaki.

Sementara itu angka tahun yang terdapat 300 meter dari Situs Raos Pacinan disebut sebagai bukti cagar budaya ini dipugar ketika Majapahit dipimpin oleh Hayam Wuruk. Sehingga situs ini dianggap sangat penting ketika masa itu.

 

Artikel Terkait

Artikel Lainnya