Kasepuhan Cisungsang dan upayanya menjaga dampak modernisasi

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Kasepuhan Cisungsang, Lebak, banten (Dispar Provinsi Banten)

Kasepuhan Cisungsang menjadi salah satu kampung adat di wilayah Kabupaten Lebak, Provinsi Banten, yang hingga saat ini tetap menjaga tradisi adat warisan nenek moyang. Salah satunya dalam bentuk tetap melakukan upacara tahunan Seren Taun sebagai bentuk rasa syukur kepada Sang Pencipta.

Secara geografis, kasepuhan ini terletak di kaki Gunung Halimun–masuk dalam wilayah Taman Nasional Gunung Halimun-Salak (TNGHS)–tepatnya secara administratif masuk dalam wilayah Desa Cisungsang, Kecamatan Cibeber, Kabupaten Lebak, Provinsi Banten.

Dari Kota Serang–Ibu Kota Provinsi Banten–menuju Desa Cisungsang sekira harus menempuh jarak sejauh 200 km, yang setara dengan 5 jam perjalanan. Meski begitu, lokasi kasepuhan ini tak terlalu sulit dijangkau karena akses transportasi yang cukup memadai.

Makna dasar dan sejarah Cisungsang

Upacara Seren Taun Kasepuhan Cisungsang (Pesona.Travel)

Menilik bahasanya, kata Cisungsang, terbentuk oleh dua kata dalam bahasa Sunda, yakni Ci dan Sungsang. Kata Ci atau Cai memiliki makna air, sementara Sungsang berarti terbalik atau berlawanan. Tapi jika berpedoman pada Kamus Bahasa Sunda Lama, Sungsang adalah sejenis tumbuhan yang berbau dan beracun yang bentuknya menyerupai anggrek.

Nah, jika merujuk pada pemaknaan tersebut, maka Cisungsang dapat diartikan air yang mengalir kembali–ke hulu. Yang artinya nilai tradisi atau adat sejatinya akan kembali kepada aturan lama yang telah diamanatkan oleh nenek moyang mereka.

Dalam catatan sejarah lainnya, tanah Cisungsang dipandang sebagai tanah titipan dari Prabu Walangsungsang yang merupakan Raja Pajajaran yang telah mengalami situasi Ilang Galuh Pajajaran. Dia dipercaya sebagai raja yang tidak mempunyai istana.

  Lebih jauh mengenal jajaran 'baris kolot' di Kasepuhan Adat Banten Kidul

Kesederhanaan Sang Raja digambarkan dengan hidup beratap hateup salak dan bertiang cagak, tujuannya agar mudah menempatkan kayu di atasnya. Salah satu keturunannya adalah Mbah Rukman, yang diyakini sebagai orang yang menjadi babat alas (pembuka/pembangun kampung) wilayah Cisungsang, yang kini telah menjelma menjadi sebuah desa.

Tercatat, tak kurang dari 9 kampung ada di wilayah Desa Cisungsang, di antaranya Kampung Cipayung, Lembur Gede, Pasir Kapundang, Babakan, Sela Kopi, Pasir Pilar, Gunung Bongkok, Suka Mulya, dan Bojong.

Gambaran umum Kasepuhan Cisungsang

Gambaran geografis Kasepuhan Cisungsang (Travelplus Indonesia)

Karakter geografi Desa Cisungsang bisa dilihat dalam bentuk kombinasi antara perkampungan dan persawahan pada kontur lembah yang subur. Pada era 1960-an, sebagian wilayah Desa Cisungsang didominasi oleh hamparan huma (ladang atau lahan kering yang ditanami padi).

Karena hasil huma dianggap sedikit, lahan persawahan pun dibuka agar dapat memperoleh hasil padi yang maksimal. Ladang ‘huma’ ditinggalkan dan beralih fungsi menjadi kebun yang ditanami buah-buahan, pohon kayu albasiah, dan cengkeh.

Tak heran, bertani adalah mata pencaharian pokok masyarakat Kasepuhan Cisungsang, karenanya hamparan sawah terlihat semakin meluas karena padi merupakan tanaman pokok yang sangat istimewa.

Saat ini, rumah-rumah penduduk Desa Cisungsang telah dibangun secara permanen dengan berdinding bata dan beratap genting. Namun, kita masih bisa menemukan sejumlah rumah dengan konsep Julang Ngapak, yang merupakan rumah panggung khas Suku Sunda yang berbahan baku kayu dan bambu serta beratap nipah.

  Menjaga habitat lingkungan dan budaya leluhur di Padepokan Lingkung Seni Pasirmuncang

Rumah-rumah yang masih mengusung konsep Julang Ngapak ada pada wilayah yang dikenal dengan sebutan Padepokan Pasir Koja. Padepokan ini berada tepat di pintu gerbang masuk Desa Cisungsang dan menempati tanah yang cukup luas di atas lereng perbukitan dengan ornamen Omah Gede (rumah Ketua Adat/Abah) yang menawan.

Omah Gede menjadi lokasi sentral diadakannya berbagai kegiatan adat, serta tempat utama untuk menerima tamu besar maupun kunjungan tamu jauh dari berbagai daerah. Rumah tinggal tetua adat ini juga acapkali menjadi tempat menginap para tamu yang melakukan kunjungan dalam beberapa hari.

Sementara di sekeliling Omah Gede juga terdapat deretan rumah para Baris Kolot yang tugasnya membantu Ketua Adat (Abah). Tak lupa, masih di wilayah Padepokan Pasir Koja juga terhampar, leuit Si Jimat, serta leuit-leuit lain berukuran kecil milik warga serta saung lisung (tempat menumbuk padi).

Guna menjaga tradisi, Kasepuhan Cisungsang hingga sekarang masih melaksanakan beberapa ritual adat. Di antaranya ritual malam opatbelas (setiap bulan purnama), prah prahan (cacah jiwa dilakukan hari Jum’at pertama bulan Muharam), dan yang tak kalah penting adalah upacara seren taun. 

Dalam kesehariannya, Masyarakat Kasepuhan Cisungsang yang merupakan kelompok Suku Sunda tetap menggunakan Bahasa Sunda sebagai bahasa pengantar. Meski begitu, mereka juga mampu dan mengerti Bahasa Indonesia secara baik serta menjadi sarana komunikasi dengan para tamu.

  Masyarakat Kasepuhan Urug dan pemberdayaan berbasis tanaman buah

Pusat pelestari budaya

Leuit Si Jimat Kasepuhan Cisungsang (Majalah Teras)

Padepokan Pasir Koja merupakan pusat pertitahan Kasepuhan Cisungsang. Dari sanalah Ketua Adat (Abah) mewarisi dan menjaga tanah titipan karuhun, menjalankan amanat adat, dan melindungi masyarakat dari serangan kebudayaan baru yang boleh jadi sulit dibendung.

Struktur lembaga Kasepuhan Cisungsang diduduki para Baris Kolot yang terdiri atas Abah (ketua adat), penasehat, dukun, paraji, panei, bengkong, amil, dan rendangan.

Sosok yang menjabat sebagai Abah sejatinya adalah keturunan Mbah Rukman adalah orang yang memiliki hak penuh untuk memimpin Kasepuhan Cisungsang atau menjadi ketua adat. Hanya anak laki-laki yang akan mewarisi tampuk kepemimpinan, yang penunjukannya terjadi melalui proses wangsit (petunjuk mimpi) dari leluhur.

Sampai saat ini, kepemimpinan di Kasepuhan Cisungsang telah mencapai empat generasi. Nama-nama ketua adat dari generasi pertama hingga yang keempat adalah Embah Buyut yang mencapai usia sekitar 350 tahun, Uyut Sarkim yang berusia sekitar 250 tahun, Olot Sardani yang berumur 126 tahun; dan Abah Usep.

Dalam menjalankan tugasnya, Abah dibantu seorang penasihat (Kolot Lembur), yang bertugas memberikan berbagai pertimbangan, dan sekaligus sebagai utusan abah yang melaksanakan tugas-tugas kasepuhan. Kedua pemimpin adat itu juga dibantu beberapa orang yang memiliki keahlian khusus. 

Hingga sekarang, masyarakat Kasepuhan Cisungsang masih memelihara kepercayaan leluhur yang tergambar dalam kultur dan budaya kehidupan keseharian mereka. Aturan adat itu juga meliputi beberapa aspek, seperti membangun rumah.

Artikel Terkait

Artikel Lainnya