Belajar ketahanan pangan dari masyarakat adat kasepuhan

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Kasepuhan adat | @Kahfi Irawan (shutterstock)

Pada April 2021 lalu, Bulog sempat menyiapkan sagu untuk mengganti beras bila terjadi kelangkaan pangan. Walau tidak sempat terjadi, tentunya pandemi memberikan tantangan berat bagi ketahanan pangan.

Tapi bagi masyarakat adat kasepuhan, ketahanan pangan sudah jadi bagian kehidupan. Tanpa ketahanan pangan keseimbangan hidup masyarakat adat akan bermasalah. Bagi mereka, beras tidak hanya makanan untuk memberi energi sehari-hari, tapi juga bagian dari kehidupan yang perlu dijaga.

“Dewi Kesuburan atau Dewi Pohaci (Dewi Sri) yang melahirkan dan memberikan kesuburan kepada anak cucu kita,” ucap Abah Jaya, Ketua Adat Desa Cengkuk.

Bagi Abah, filosofi Dewi Sri merupakan pedoman hidup bagi masyarakat adat. Hal ini jelasnya karena sosok Dewi ini yang berlambang perempuan.

“Disebut Dewi Kesuburan itu karena wanita, tidak ada laki-laki yang bisa melahirkan, segala-galanya wanita, bisa mengandung, bisa melahirkan,” tegasnya.

Larangan menjual beras

Leuit (lumbung padi) untuk menyimpan hasil panen di kasepuhan adat (Herlambang Jaluardi/Flickr)

Masyarakat adat kasepuhan pun melarang secara tegas untuk memperjualbelikan beras, meski dalam situasi panen besar sekalipun. Beras yang dihasilkan dari sektor pertanian desa adat kasepuhan, sejatinya hanya digunakan untuk konsumsi masyarakat adat setempat.

  Abah Epi dan cikal bakal Kasepuhan Cipta Mekar

Aturan soal larangan memperjualbelikan beras tersebut sudah sejak lama dilakukan, bahkan sudah turun menurun. Bagi mereka, beras merupakan bagian dari kehidupan.

“Masa kita menjual kehidupan,” tandas Abah Asep Nugraha, Ketua Adat Kesepuhan Sirnaresmi.

“Hanya boleh untuk konsumsi saja, jadi kami tidak boleh menjual. Makanya kalau ada yang datang, kami wajib menyuguhkan makanan. Jangan sampai datang ke sini terus pulang ada bahasa lapar.”

Selain menjaga kebutuhan pokok sehari-hari untuk masa yang akan datang, larangan menjual padi membuat masyarakat Kasepuhan juga memiliki solidaritas dan budaya gotong royong yang cukup tinggi.

Bagi masyarakat kampung adat kasepuhan, padi sangat dihormati, karena dalam bahasa masyarakat adat kasepuhan disebut dipusti, namun tidak berarti mempertuhankannya.  Mereka tetap meyakini keberkahan diturunkan dari Tuhan lewat padi sebagai kebutuhan pokoknya.

“Padi itu bagi kami sangat istimewa sebagai lambang keberkahan, leluhur kami mengajarkan untuk menghormatinya seperti anak, istri, atau keluarga,” 

Leuit sebagai lumbung penyimpanan

Kasepuhan Ciptagelar (dokumentasi stok foto/Flickr)

Meyakini hal tersebut, setiap keluarga diwajibkan memiliki leuit untuk menyimpan hasil panen. Leuit merupakan lumbung untuk menyimpan stok beras bagi masyarakat adat kasepuhan. Karenanya tak mengherankan jika leuit menjadi salah satu ornamen yang berjajar indah di setiap pekarangan rumah masyarakat adat kasepuhan.

  Masyarakat Kasepuhan Urug dan pemberdayaan berbasis tanaman buah

Bangunan leuit berbentuk rumah panggung, berbahan lempengan kayu segi empat. Sementara, atapnya meruncing ke atas membentuk segi tiga. 

Biasanya, leuit akan berjajar di halaman samping, belakang, atau depan rumah warga setempat. Tak jarang, leuit dibangun di sebelah pematang sawah.

Menjaga generasi petani

Upacara adat Seren Taun di Kasepuhan (Neng etta/Shutterstock)

Tantangan yang cukup berat saat ini yang dialami oleh masyarakat adat kasepuhan adalah menciptakan generasi petani. Teknologi dan modernitas yang telah masuk ke kampung adat kasepuhan membuat pada ketua adat perlu membuat siasat khusus.

Abah Asep misalnya, ia menyatakan mempersilahkan warganya untuk bekerja di luar bertani. Tapi hal ini hanya alternatif karena bertani harus menjadi pekerjaan pokok.

“Setiap masyarakat Kasepuhan Sirnaresmi, harus menjadi petani. Walau mereka bisa bekerja dalam bidang apa saja,” tegasnya.

Hal ini ternyata juga berefek kepada akses pendidikan, karena menurut data Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN) pada 2018, sekitar 20 persen dari jumlah total penduduk di Indonesia (250 juta) adalah masyarakat adat. Dari jumlah tersebut, hanya sedikit yang bisa mengakses pendidikan di sekolah.

  Pasca berakhirnya Kerajaan Pajajaran (Bagian 3): Kondisi bekas Ibu Kota Pajajaran

Selain masalah akses, pihak kementerian belum menemukan formula yang cocok untuk pendidikan masyarakat adat. Hal ini karena setiap masyarakat adat mempunyai nilai-nilai dan ciri khas sehingga pendidikannya pun harus disesuaikan.

Tapi bagi Abah Asep, anak-anak muda di kasepuhan pun diharapkan mampu menjaga dan melestarikan adat istiadat mereka. Untuk cara menanam, warga Sirnaresmi juga tetap mempertahankan cara tradisional.

Hal inilah yang membuat tradisi berusia lebih dari enam abad masih tetap bertahan, karena warganya tak pernah lepas dari tradisi dan sistem pertanian yang sudah diturunkan sejak zaman nenek moyang.

Artikel Terkait

Artikel Lainnya