Harmoni manusia dan alam di Taman Nasional Gunung Halimun Salak

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Kasepuhan Ciptagelar (dokumentasi stok foto/Flickr)

Apa yang Anda bayangkan ketika mendengat kata ”Harmoni”? Ya, tentu Anda akan beranggapan hubungan yang saling memahami dan menguntungkan satu sama lain. Pendek kata, sebuah hubungan yang ideal yang menjadi dambaan.

Jika saat ini kita sering mendengar hubungan harmonis di rumah tangga, organisasi, ruang lingkaup pekerjaan. Lantas, bagaimana jika hubungan harmoni itu terjadi dengan alam?

Tentu banyak faktor yang membuat hubungan harmoni manusia dengan alam terusik, umumnya ”usikan” pertama datang dari tangan manusia, hingga kemudian alam ”marah” dan memberi petaka/bala. Jika sudah demikian, manusia kerap mengaitkan dengan ”alam yang tak bersahabat”, ”kerusakan iklim”, atau kalimat sanggahan lainnya.

Berbicara antara hubungan harmoni manusia dengan alam, berikut penulis sedikit beberkan cerita di antaranya. 

Kerusakan Lingkungan dan data deforestasi hutan

Ilustrasi deforestasi hutan (Auriga Nusantara/Flickr)

Kerusakan lingkungan menjadi salah satu masalah yang sangat menonjol pada era industri 4.0 ini. Beberapa masalah lingkungan hidup yang menjadi sorotan secara global, antara lain masalah polusi, pemanasan global, penipisan lapisan ozon, efek rumah kaca, hujan asam, pembuangan limbah, dan penggundulan hutan. 

Pemasalahan tersebut menjadi perhatian dan perlu tindakan serius untuk kelangsungan hidup manusia.

Kecepatan laju kehilangan keanekaragaman hayati yang diakibatkan oleh berkurangnya luasan hutan di Indonesia sebagaimana digambarkan oleh berbagai pihak membuat kita sangat prihatin.

  Lebih jauh mengenal jajaran 'baris kolot' di Kasepuhan Adat Banten Kidul

Penyebab terbesar kerusakan hutan adalah penebangan hutan, dimana yang menjadi alasan utama adalah pembukaan lahan untuk area industri, terutama industri kayu.

Laju penebangan hutan (deforestasi) di Indonesia menurut perkiraan World Bank antara 700 ribu sampai 1.2 juta hektare/tahun. Sedangkan menurut FAO, laju kerusakan hutan di Indonesia mencapai  1,3 juta hektare/tahun atau luas areal hutan berkurang sebesar 1 persen dalam setahun.

Berbagai LSM peduli lingkungan mengungkapkan kerusakan hutan mencapai 1,6-2 juta hektare/tahun dan lebih tinggi lagi data yang diungkapkan oleh Greenpeace, bahwa kerusakan hutan di Indonesia mencapai 3,8 juta hektare/tahun yang sebagian besar adalah penebangan liar atau illegal logging.

Sedangkan ada ahli kehutanan yang mengungkapkan laju kerusakan hutan di Indonesia adalah 1,08 juta hektare/tahun.

Konservasi

Keanekaragaman hayati hutan hujan (lee woods/Flickr)

Kehilangan keanekaragaman hayati yang diakibatkan oleh berkurangnya luasan hutan tentu harus diimbangi dengan kegiatan konservasi. Konservasi diperuntukkan bagi pemanfaatan keanekaragaman kekayaan alam yang lestari.

Salah satu pemanfaatan sumber daya alam secara lestari dan berkesinambungan dapat dijumpai dalam pengelolaan taman nasional.

Taman nasional sendiri sebagai suatu kawasan pelestarian alam yang memiliki ekosistem asli, dikelola dengan sistem zonasi yang dapat dimanfaatkan untuk kegiatan pendidikan, penelitian, pengembangan budidaya, rekreasi dan pariwisata.

  Belajar ketahanan pangan dari masyarakat adat kasepuhan
Salah satu wilayah di TNGHS (Gandhi Prabowo/Flickr)

Taman Nasional Gunung Halimun Salak (TNGHS) ditetapkan menjadi kawasan konservasi melalui SK Menteri Kehutanan No.175/Kpts-II/2003 dengan luas total 113.357 hektare.

Mayoritas kawasan ini berkarakter hutan hujan datarann rendah, hutan sub-montana, dan hutan montana yang berupa aluvium/kal dan kipas aluvium/kpal.

Dengan karakter tersebut, kawasan ini menjadi surga bagi hewan dan tumbuhan. Owa Jawa, kancil, surili, lutung budeng, kijang, macan tutul, anjing hutan dan sekitar 204 jenis burung banyak kita temui.

Penulis saat menjelajah salah satu medan di TNGHS (dok. pribadi)

Kawasan TNGHS memiliki ketinggian antara 500–2.211 mdpl.  Beberapa gunung yang pernah disinggahi penulis, antara lain; Gunung Wayang, Gunung Beser (1.217 mdpl), Gunung Aul (880 mdpl), Gunung Sorandil (1.311 mdpl), Gunung Pangkulahan (132 mdpl), Gunung Karancang, Gunung Bongkok (1.035 mdpl),  Gunung Pameungpeuk (145 mdpl), Gunung Kendeng (1.784 mdpl), Gunung Halimun Selatan (1.758 mdpl), Gunung Manapa (928 mdpl), Gunung Salak 1 (2.211 mdpl), Gunung Salak 2,  Gunung Salak 3, dan Gunung Panenjoan (1.350 mdpl).

Berdasarkan data gunung yang berada di wilayah ini, maka puncak gunung tertinggi adalah Gunung Salak 1 dengan 2.211 mdpl yang terletak di bagian timur laut taman nasional.

Masyarakat Adat

Kasepuhan Adat di TNGHS (dok. bahadur)

TNGHS sebagai salah satu kawasan pelestarian alam, beruntung memiliki banyak komunitas adat Sunda yang menjadi pustaka lokal yang hidup dan nyata, serta sarat akan pituduh yang arif dan bijaksana dan tersebar di kabupaten Bogor, Sukabumi, dan Lebak.

  Desa wisata sebagai ladang konservasi alam dan budaya

Masyarakat adat menunjukan kepada kita semua bahwa nilai-nilai, regenerasi, dan tata simbol yang sangat berarti  bagi kehidupan sekarang dan yang akan datang. Masyarakat adat yang bercirikan tradisi dan budaya ini sangat hidup harmonis dengan ekosistem TNGHS.

Penulis dengan Ketua Adat Kasepuhan Negla Sari, Abah Olot Omik (dok. pribadi)

Beberapa nama masyarakat adat yang mendiami kawasan TNGHS adalah; masyarakat adat Kanekes (Baduy) dan masyarakat adat Banten Kidul.

Masyarakat adat Banten Kidul yang utama antara lain bisa ditemui di;

Bogor:

  • Kasepuhan Urug,
  • Kasepuhan Cipatat,
  • Kasepuhan Sihuut. 

Sukabumi:

  • Kasepuhan Gelar Alam/Ciptagelar,
  • Kasepuhan Cipta Mulya,
  • Kasepuhan Sinaresmi. 

Lebak:

  • Kasepuhan Citorek,
  • Kasepuhan Cicarucub,
  • Kasepuhan Cisungsang,
  • Kasepuhan Cisitu, dan
  • Kasepuhan Guradog.
Penulis dengan Ketua Adat Kasepuhan Gelar Alam, Abah Ugi Sugriana (dok. pribadi)

Secercah Asa

Berbagai ujian yang menimpa kawasan TNGHS seperti longsor, banjir, dan perubahan cuaca yang cukup ekstrem, akan semakin meningkatkan kesadaran seluruh warga negara dan pemerintah Republik Indonesia akan pentingnya memelihara lingkungan khususnya hutan konservasi.

Sudah saatnya nilai-nilai keber-agama-an yang kita anut selama ini dibumikan secara nyata dalam kehidupan sehari-hari. 

 

Artikel Terkait

Artikel Lainnya