Kasepuhan Gelar Alam, siklus adaptasi Kasepuhan Ciptagelar di era modern

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Pembukaan lahan Kasepuhan Gelar Alam (dok. bahadur)

Bagi masyarakat Jawa Barat dan Banten, saat ini mungkin tak ada yang tak mengenal Kampung Gede Kasepuhan Ciptagelar. Kasepuhan pusat pemerintahan dari kasepuhan di wilayah Banten Kidul, yang terletak di wilayah Taman Nasional Gunung Halimun Salak (TNGHS), dan masuk ke wilayah administrasi Kampung Sukamulya, Desa Sirnaresmi, Kecamatan Cisolok, Kabupaten Sukabumi.

Secara umum, Kampung Gede Kasepuhan Ciptagelar adalah masyarakat adat yang bersandar kepada budidaya padi, hingga seluruh sendi-sendi kehidupan adat berpatokan pada kalender siklus padi. Lain itu, kampung adat ini masih memegang kuat adat dan tradisi yang diturunkan sejak 644-an tahun lalu (1368 Masehi). 

Leuit/lumbung bagi warga kasepuhan Ciptagelar tidak hanya bermakna gudang tempat penyimpanan padi, melainkan berkaitan dengan simbol penghormatan pada Dewi Padi, yaitu Nyi Pohaci Sanghyang Asri yang menampakkan dirinya dalam bentuk padi.

Setiap kali panen, dalam upacara adat Seren Taun mereka lazim menyimpan 10 persen padi di leuit utama (Leuit Si Jimat) sehingga tidak heran jika di sana terdapat padi yang usianya ratusan tahun.

Ada keyakinan warga Kasepuhan Ciptagelar, bahwa padi merupakan simbol kehidupan, bila seseorang menjual beras atau padi, berarti menjual kehidupannya sendiri. Pendek kata, di Kasepuhan itu tidak diperkenankan masyarakatnya menjual padi.

  Menjaga habitat lingkungan dan budaya leluhur di Padepokan Lingkung Seni Pasirmuncang
Deretan leuit di Kasepuhan Gelar Alam (dok. bahadur)

Keterikatan dengan Kerajaan Pajajaran

Kampung Gede Kasepuhan Ciptagelar memiliki keterikatan sejarah dengan salah satu kerajaan Sunda Pajajaran dengan rajanya Prabu Siliwangi.

Masyarakat yang tinggal di Kampung Ciptagelar disebut masyarakat kesepuhan. Kata kasepuhan mengacu pada golongan masyarakat dengan aturan adat istiadat lama. Masyarakat Kampung Ciptarasa menyebut diri sebagai Kasepuhan Pancer Pangawinan, serta merasa kelompoknya sebagai keturunan Prabu Siliwangi.

Situs Tugu Cengkuk, saksi keruntuhan Kerajaan Pajajaran (dok. Bahadur)

Salah satu buktinya bisa kita lihat situs peninggalan atas sakti dari Kerajaan Pajajaran yang masih masuk dalam wilayah Kasepuhan Ciptagelar, yakni Situs Tugu Cengkuk, yang terletak di Kampung Cengkuk, Kelurahan Margalaksana, Kecamatan Cikakak, Kabupaten Sukabumi, yang saat ini dijaga oleh keturunan adat kesepuhan, yakni Abah Jaya Sastimita.

Abah Jaya sasmita dan para masyarakat selain menjaga situs ini tetap asri dan terawat, juga memonitor artefak peninggalan kerajaan di Museum Tugu Cengkuk yang berada di desa tersebut.

Bertumbuh menjadi Kasepuhan ‘melek’ teknologi

Lokasi awal Kasepuhan Ciptagelar (dok. Bahadur)

Telah melewati 10 generasi kepemimpinan kasepuhan, tentunya Kasepuhan Ciptagelar terus mengalami proses pertumbuhannya, salah satunya tak menampik dengan masuknya elemen teknologi dan modernitas.

  Lebih jauh mengenal jajaran 'baris kolot' di Kasepuhan Adat Banten Kidul

Oleh sebab itu tak heran jika kampung ini tumbuh menjadi sangat mandiri dan ‘melek’ teknologi. Bagi para pengunjung, tentu mengelola konten dan berfoto untuk kemudian diunggah ke laman media sosial bukan hal yang sulit, berbeda dengan ketika mengunjungi kasepuhan lainnya.

Abah Ugi Sugriana Rakasiwi selaku ketua adat kasepuhan dan masyarakat kampung adat sejatinya tetap mempertahankan nilai-nilai tradisi yang diturunkan lelu­hur. Namun di sisi lain, Abah Ugi tak alergi dengan perkembangan teknologi masa kini.
 
Menurutnya, hal yang terpenting adalah bagaimana memilih dan memilah tek­no­logi, yang membawa manfaat, dan yang sama sekali dilarang.

Perpindahan lokasi

Ki Guru Agus Prana Mulia, memperlihatkan latar deretan leuit masyarakat Kasepuhan Gelar Alam yang baru dibangun (dok. bahadur)
 
Saat ini, lokasi kasepuhan pun mengalami perpindahan lokasi. Kepindahan lokasi Kasepuhan Ciptagelar yang kemudian mengganti namanya menjadi Kasepuhan Gelar Alam memang bukan kali pertama.
 
Menukil sejarahnya, generasi pertama kepemimpinan kasepuhan (1368) berasal dari Cipatat, Bogor. Sejak saat itu, ketua adat berganti secara turun-temurun dan kampung adat terus berpindah tempat. Dari Cipatat Bogor beralih ke Lebak Larang, Lebak Binong, Tegal Lumbu, Pasir Jinjing, Bojong Cisono, hingga Sirna Rasa.
 
Terakhir, pada pertengahan 2001, dari di Kampung Ciptarasa di Desa Sirna­rasa, berpindah ke Desa Sirnaresmi yang berjarak sekira 12 kilometer.
 
Perpindahan itu mau tak mau harus dilakukan karena ber­bagai pertimbangan. Di Desa Sirnaresmi, tepatnya di Kampung Sukamulya, Abah Anom selaku ketua adat menamai Desa Ciptagelar sebagai tempat pindah baru.
 
Mendiang Abah Anom adalah ayah dari pemimpin kampung adat Ka­sepuhan Ciptagelar saat ini, yakni Abah Ugi Sugriana Rakasiwi.
 
Abah Ugi (kiri) dan penulis (dok. Bahadur)
 
Ketika tim Bahadur mengunjungi lokasi baru kasepuhan–Agustus 2022, memang masih berupa lahan yang baru yang berdiri di lokasi perbukitan yang cukup tinggi dan lebih luas dari lokasi sebelumnya.
 
Meski begitu, hanya ditemui Omah Gede yang berdampingan dengan Leuit Si Jimat di dekat pintu masuk, kemudian sejauh mata memandang dapat disaksikan pula leuit-leuit masyarakat adat yang tersusun rapi yang kontras dengan tanah merah.
 
Abah Ugi menyebut bahwa perpindahan tersebut juga merupakan regenasi kampung dan adaptasi wilayah kasepuhan. Meski kemudian tak melupakan lokasi asal sebagai cikal bakal kasepuhan baru.
 
Belum banyak yang bisa kami gali terkait Kasepuhan Gelar Alam, namun kami akan kembali menceritakannya melalui aktivitas penjelajahan di program Kampung Bahadur.
 

Artikel Terkait

Artikel Lainnya