Lebih jauh mengenal jajaran ‘baris kolot’ di Kasepuhan Adat Banten Kidul

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Diskusi antar Kolot lembur di Kasepuhan Ciptagelar (dok. bahadur)

Kasepuhan Banten Kidul adalah kumpulan kelompok masyarakat adat sub-etnis Sunda yang tinggal di sekitar Gunung Halimun-Salak–masuk dalam wilayah Taman Nasional Gunung Halimun-Salak (TNGHS), terutama di wilayah Kabupaten Sukabumi sebelah barat hingga ke Kabupaten Lebak, Banten, dan ke utara hingga ke daerah selatan Kabupaten Bogor. 

Kasepuhan merujuk pada adat istiadat lama dari nenek moyang yang masih dipertahankan dalam kehidupan sehari-hari oleh masyarakatnya.

Masyarakat Kasepuhan Banten Kidul melingkupi beberapa desa tradisional dan setengah tradisional, yang masih mengakui kepemimpinan adat setempat.

Di wilayah itu terdapat beberapa kasepuhan, di antaranya adalah Kasepuhan Gelar Alam (dulu bernama Ciptagelar), Kasepuhan Cisungsang, Kasepuhan Cisitu, Kasepuhan Cicarucub, Kasepuhan Citorek, serta Kasepuhan Cibedug. 

Kasepuhan Ciptagelar sejatinya melingkup dua kasepuhan yang lain, yakni Kasepuhan Cipta Mulya dan Kasepuhan Sinar Resmi.

Pemimpin adat di masing-masing Kasepuhan itu digelari Abah, yang dalam aktivitas pemerintahan adat sehari-hari dibantu oleh para pejabat adat yang disebut baris kolot.

Sebagai gambaran, Kasepuhan Ciptagelar saat ini dipimpin oleh Abah Ugi, yang mewarisinya dari ayahnya, Abah Anom (meninggal dunia pada 2007). Wilayah pengaruh kasepuhan Ciptagelar ini di antaranya meliputi desa-desa Sinar Resmi dan Sirnarasa di Sukabumi.

  Kasepuhan Gelar Alam, siklus adaptasi Kasepuhan Ciptagelar di era modern

Sementara di Kasepuhan Cisungsang yang berlokasi di Desa Cisungsang, Lebak, Banten, dipimpin oleh Abah Usep.

Lantas, siapa sajakah deretan Baris Kolot yang membantu ketua adat kasepuhan? Berikut daftar dan tugas- tugas mereka.

Ilustrasi rapat yang dilakukan di kasepuhan adat (dok. bahadur)

Kolot lembur

Merupakan warga dengan status istimewa yang ditugaskan oleh Abah menjadi wakil ketua adat di kampung-kampung yang menginduk pada Kasepuhan. Dalam kesehariannya, Kolot lembur merupakan kepanjangan tangan ketua adat di setiap kampung. Selain itu, ia juga sebagai perantara bagi ketua adat dan warganya, atau tamu yang datang berkunjung.

Gandek

Adalah warga yang ditugaskan untuk menjadi pengawal pribadi ketua adat kasepuhan. Sebagai seorang pengawal pribadi, Gandek haruslah seorang laki-laki yang memiliki sifat cerdas, kuat, cekatan, jujur, sabar, setia, dan selalu siap kapan pun dibutuhkan oleh ketua adat.

Dukun

Sama seperti di desa-desa lainnya, Dukun adalah amanah yang ditujukan pada warga yang ditugaskan oleh ketua adat kasepuhan untuk menjaga kehidupan warga kasepuhan dari berbagai gangguan, utamanya gangguan yang datang dari kekuatan gaib.

  Abah Epi dan cikal bakal Kasepuhan Cipta Mekar

Bengkong

Adalah warga yang bertanggung jawab atas pelaksanaan khitanan warga kasepuhan, baik yang dilakukan secara massal atau individu.

Paraji ngalahirkeun

Karena bertugas untuk memmatu kelahiran seorang warga kasepuhan, maka Paraji ngalahirkeun umumnya seorang wanita yang didapuk ketua adat untuk menangani ibu hamil, membantu persalinan dan pasca persalinan, serta merawat bayinya.

Paraji ngalahirkeun juga bertugas memimpin pelaksanaan ritual adat di seputar kehamilan dan persalinan warga yang akan melahirkan.

Paraji panganten 

Nama ini merupakan panggilan bagi seorang wanita yang mendapat tugas dari ketua adat untuk mengurusi pasangan yang akan menikah, mulai dari persiapan, saat pernikahan berlangsung, hingga usai pernikahan.

Pamoro

Tugas yang tak kalah berat yang dibebankan kepada seorang warga kasepuhan adalah Pamoro, yang diberi mandat untuk menjaga tanaman di ladang dari serangan hama berupa jedut (babi hutan dan kera).

Ia juga mendapat tugas mencari lauk pauk untuk keperluan upacara Seren Taun dan Nganyaran. Umumnya, binatang sembelihan yang dicari untuk jamuan upacara-upacara itu adalah kijang.

  Mengenal makna dan filosofis 'Leuit Si Jimat' bagi masyarakat kasepuhan adat

Panghulu

Panghulu adalah warga yang diberi tugas untuk memimpin doa kepada Tuhan dan mengirim hadiah doa kepada leluhur dalam berbagai acara atau upacara adat, serta perayaan hari-hari besar Islam.

Ia juga menjadi sosok yang istimewa untuk membantu mengurus jenazah, dari memandikan hingga menguburkan. Lain itu, iia kerap diminta jasanya untuk menyembelih hewan ternak milik warga, seperti ayam, kambing, dan kerbau.

Giliran

Adalah julukan bagi warga yang ditugaskan untuk membantu menyelesaikan pekerjaan rumah tangga, seperti memasak, mencuci piring, melayani tamu, membersihkan rumah dan halaman rumah.

Kemit

Tugas Kemit tak kalah istimewa, karena ia adalah warga yang ditugaskan ketua adat untuk menjaga keamanan tempat tinggal ketua adat di lingkungan omah gede–rumah utama kasepuhan.

Amil

Orang yang ditugaskan menikahkan sepasang calon pengantin di kasepuhan agar sah menurut aturan pemerintah dan tercatat secara resmi di Kantor Catatan Sipil.

 

Artikel Terkait

Artikel Lainnya