Masyarakat Kasepuhan Urug dan pemberdayaan berbasis tanaman buah

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Kasepuha Urug (Agenda Indonesia)

Istilah pemberdayaan masyarakat sangat populer dalam diskursus ekonomi pembangunan, terutama kasus-kasus yang terjadi di negara yang sedang berkembang. 

Hakekat dari sebuah pemberdayaan masyarakat adalah sebagai upaya untuk mempersiapkan kedewasaan individu, kelompok, dan masyarakat, di mana pun agar mereka memiliki kemampuan untuk melakukan pilihan dan mengontrol lingkungannya agar dapat memenuhi keinginan-keinginannya, termasuk aksesibilitasnya terhadap sumber daya yang terkait dengan pekerjaannya dan aktivitas sosialnya.

Bank Dunia (2001) mengartikan pemberdayaan sebagai upaya untuk memberikan kesempatan dan kemampuan kepada kelompok masyarakat (miskin) untuk mampu dan berani bersuara (voice) atau menyuarakan pendapat, ide, atau gagasan-gagasannya, serta kemampuan, dan keberanian untuk memilih (choice) sesuatu (konsep, metoda, produk, tindakan, dll.) yang terbaik bagi pribadi, keluarga, dan masyarakatnya.

Singkatnya, pemberdayaan masyarakat merupakan proses meningkatkan kemampuan dan sikap kemandirian masyarakat.

Dalam prakteknya  pemberdayaan masyarakat yang dilakukan oleh siapa pun, seringkali terbatas pada pemberdayaan ekonomi dalam rangka pengentasan kemiskinan (poverty alleviation) atau penanggulangan kemiskinan (poverty reduction).

Kegiatan pemberdayaan masyarakat selalu dilakukan dalam bentuk pengembangan kegiatan produktif untuk peningkatan pendapatan. Karena itu sangat penting sekali terwujud pembinaan sumber daya manusia (SDM), usaha dan lingkungan, terutama sekali dalam sebuah masyarakat adat.

Pemberdayaan di Kasepuhan Urug

Kasepuhan Urug (Serambi Nusantara)

Kampung Adat Urug berlokasi di Kampung Urug, Desa Urug, Kecamatan Sukajaya, Kabupaten Bogor.  Kecamatan Sukajaya mempunyai 11 desa, yakni:

  • Urug,
  • Sukajaya,
  • Cisarua,
  • Kiara Pandak,
  • Sukamulih,
  • Cileuksa,
  • Jaya Raharja,
  • Kiara Sari,
  • Harkat Jaya,
  • Sipayung, dan
  • Pasir Madang.
  Sawen dan ikhtiar keselamatan hidup manusia

Masyarakat Kampung Urug dalam kehidupannya tidak terlepas dari kegiatan-kegiatan upacara adat. Upacara utama berjumlah lima upacara, yaitu;

  • Sedekah ruwahan,
  • Seren Taun,
  • 1 Muharram,
  • Maulid Nabi, dan
  • Sedekah Bumi.

Upacara adat tersebut dilaksanakan oleh lembaga adat atau struktur kumpulan kesepuhan ketua adat.

Kampung Urug selain memiliki kegiatan upacara adat juga memiliki situs peninggalan bagunan dan makam leluhur yang masih di jaga sampai sekarang, berupa bagunan Gedong Gede atau Rumah Adat yang ditempati oleh ketua adat beserta istrinya yang memiliki enam ruang, salah satu ruangannya digunakan sebagai kegiatan upacara-upacara adat.

Ketua Adat Abah Ukat Raja Aya menjadikan kegiatan pertanian sebagai jalan kehidupan masyarakat dan khususnya diwajibkan untuk menanam padi selama satu tahun sekali.

Masyarakat kampung ini juga masih sangat menjaga tradisi dalam bidang pertanian, seperti masih menggunakan irigasi tradisional atau irigasi sederhana, menggunakan kerbau dan cangkul untuk membajak tanah, serta air yang digunakan untuk sawah berasal dari sungai dan mata air yang ada dekat di persawahan mereka, terutama dari sungai Cidurian.

Sungai Cidurian (Selatsunda.com)

Kearifan lokal masyarakat Kampung Urug berupa larangan untuk mengambil yang bukan haknya, sama halnya diterapkan terhadap hutan larangan dan Gunung Manapa yang berfungsi sebagai hutan lindung dan sebagai sumber mata air bagi persawahan dan pemukiman masyarakat.

Menurut Ichmi Yani Arinda, masyarakat Adat Kampung Urug memiliki sistem sosial ekonomi yang bersifat dinamis. Pada era modernisasi pola kehidupan masyarakat cenderung mengalami sebuah perubahan, termasuk sistem sosial ekonomi masyarakat adat.

  Greg Hambali, bapak aglaonema yang pernah hasilkan tanaman seharga Rp600 juta

Menurutnya sistem sosial ekonomi masyarakat adat mengalami perubahan dari sistem sosial ekonomi tradisional dan tertutup menjadi sistem sosial ekonomi modern dan terbuka. Hal tersebut menjadi salah satu faktor pendorong kesejahteraan masyarakat adat di bidang sosial dan perekonomiannya.

Kaum wanita kampung Urug lebih fokus  kepada pekerjaan rumah tangga. Sedangkan mayoritas mata pencaharian kaum prianya adalah pada bidang pertanian, dan membuka warung sebagai penghasilan sampingan. Generasi muda Desa Urug rata-rata memiliki pekerjaan di luar kota untuk membantu perekonomian keluarganya.

Perbukitan di Kasepuhah Urug (dok. pribadi)

Hasil penelitian Mentari Aurelia dan kawan-kawan (2020), menujukan bahwa Kampung Urug memiliki potensi ekologi yaitu jenis flora yang dimanfaatkan oleh masyarakat kampung ini berupa pohon rasamala, pohon gintung, pohon durian, pohon kirai, dan bambu, serta jenis fauna yang ditemukan berupa jenis lutung, monyet ekor panjang, elang jawa, cekakak jawa, dan srigunting.

Bentang alam yang dimiliki desa ini merupakan sawah terasering dan sungai. Potensi-potensi ini bisa menjadi suatu kegiatan tambahan seperti wisata alam dan edukasi serta meningkatkan kualitas hidup masyarakat kampung ini melalui peluang pekerjaan seperti guide lokal, pedangan (warung campuran, warung makan, dan warung kopi), dan ojek.

Tanaman berbuah

Kepala Adat Kampung Urug Abah Ukat Raja Aya dan penulis (dok. pribadi)

Untuk melengkapi tanaman-tanama keras yang sudah ditanam oleh warga kampung Urug, Abah Ukat Raja Aya menginginkan adanya tanaman berbuah yang bisa diperoleh hasilnya minimal setiap tahun.

Keinginan tersebut dikuatkan oleh Bambang Supriono dan Ichwan Rahamnu Widjaya, Dosen dari Universitas Nusa Bangsa (UNB) Bogor yang menyarankan selain tanaman berbuah juga bisa dikombinasikan dengan tumbuhan yang daunnya bisa dijual seperti daun salam.

  Lebih jauh mengenal jajaran 'baris kolot' di Kasepuhan Adat Banten Kidul

Tanaman berbuah yang cocok dengan ketinggian tanah di daerah Kampung Urug, antara lain;

  • Durian (durio zibethinus),
  • Duku (lansium domesticum),
  • Kelengkeng (dimocarpus longan),
  • Kesemek (diospuros kaki), 
  • Mangga (magnifera indica),
  • Jeruk mipis (citrus aurantifolia),
  • Lemon (citrus limon),
  • Manggis (garcinia mangostana),
  • Nangka (artocarpus heterophyllus), 
  • Apel (malus sylvestris),
  • Alpukat (persea americana),
  • Cempedak (arthocarpus champeden), 
  • Srikaya (annona squamosa),
  • Sawo (manilkara kauki),
  • Pisang (banana),
  • Pepaya (carica papaya),
  • Kelapa (cocos nucifera),
  • Gandaria (bouea mcrophylla),
  • Sukun (artocarpus communis), dan lain-lain.

Tanaman buah-buahan di daerah tropika pada umumnya hanya berbuah sekali saja dalam satu tahun, dan terjadi di waktu musim yang relatif pendek. Pada waktu itu, buah melimpah dan sering lebih cepat rusak. Akibatnya petani buah mengalami kesulitan dalam penyimpanan serta menimbulkan kerugian besar.

Untuk mengatasi hal itu, para ahli telah menemukan teknologi, agar tanaman dapat berbuah setiap saat. Tujuannya menjaga ketersediaan buah setiap saat di pasaran, serta dapat memperoleh keuntungan dari harga jual buah yang tinggi.

Teknologi yang telah dihasilkan itu adalah dengan cara memanipulasi fisik maupun kimiawi pohon. Perontokan daun, stress kekeringan air dan penggunaan zat pengatur tumbuh (ZPT), merupakan cara yang sudah dilakukan untuk memproduksi buah sepanjang waktu.

 

Artikel Terkait

Artikel Lainnya