Arab Saudi dan China berebut beras Indonesia, kenapa pemerintah menolak?

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Ilustrasi padi (ePi.Longo/Flickr)

Pemerintah Republik Indonesia berhasil memperoleh penghargaan dunia dari International Rice Research Institute (IRRI) karena berhasil mencapai swasembada beras. Bahkan Organisasi Pangan dan Pertanian (FAO) juga mengakui bahwa sistem ketahanan pangan Indonesia tangguh.

Karena ketangguhan ini pemerintah mengatakan ada permintaan beras dari China dan juga Arab Saudi. Hal ini menjadi peluang bagi pengusaha tanah air karena adanya krisis pangan dunia. Walau begitu pemerintah tak langsung menyanggupinya.

Lalu mengapa banyak negara berebut beras dari Indonesia? Dan apa alasan Indonesia menolak permintaan tersebut? Berikut uraiannya:

1. Permintaan beras

Beras (trus tier/Flickr)

Presiden Joko Widodo (Jokowi) menyebut Arab Saudi dan China memesan beras dari Indonesia masing-masing sebanyak 1.000 ton dan 2,5 juta ton. Dia menjelaskan stok beras Indonesia memang sudah aman.

Hal ini terbukti dari penghargaan yang diberikan IRRI kepada Indonesia lantaran dalam tiga tahun terakhir mampu mencapai swasembada beras secara berturut-turut. Sementara itu FAO juga mengakui bahwa sistem ketahanan pangan di Indonesia tangguh meski di tengah krisis pangan global.

  Keunggulan sorgum yang diwacanakan jadi sumber pangan masa depan Indonesia

Oleh karena itu, pihaknya mengatakan bahwa krisis pangan yang tengah melanda dunia bisa menjadi peluang bagi pengusaha di Tanah Air. Bagi Presiden Jokowi salah satu bisnis yang sangat berpeluang saat ini adalah pangan.

“Peluangnya apa? ada krisis pangan, ya berarti peluangnya di pangan, jualan pangan paling cepat sekarang,” ujar Jokowi yang dimuat dari Sariagri.

2. Menolak permintaan

Beras (Naveen See/Flickr)

Kendati demikian, Presiden Jokowi meminta Indonesia tetap berhati-hati karena saat ini beberapa negara menghadapi situasi kesulitan pangan. Oleh karena itu, dia mengaku belum berani memenuhi permintaan dari Arab Saudi dan China.

Namun, katanya, tidak menutup kemungkinan Indonesia akan mengekspor beras ke Arab Saudi dan China bila produksinya sudah meningkat signifikan. Karena itu dirinya meminta Kadin melihat peluang tersebut.

“Tapi begitu produksi melompat karena bapak ibu ke situ (produksi beras), bisa saja kita terjun ke situ dengan harga yang sangat visible sangat baik,” kata Jokowi.

Sebelumnya, Kementerian Pertanian (Kementan) mengatakan China mengajukan impor beras dari Indonesia sebanyak 2,5 juta ton dalam setahun. Tetapi berdasarkan arahan dari Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo, Indonesia hanya bisa mengekspor beras sekitar 100 ribu ton dalam setahun.

  Teladan Nabi Yusuf dalam upaya membangun ketahanan pangan

“Kemudian arahan pimpinan (menteri pertanian) maksimal untuk mengamankan dalam negeri, nanti ekspor maksimal seratus-an ribu ton saja,” jelas Dirjen Tanaman Pangan Kementan, Suwandi yang dimuat CNN Indonesia.

3. Peluang ekspor di tengah krisis

Ilustrasi petani (sobat lama/Flickr)

Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo menjelaskan bahwa permintaan yang datang ke Indonesia bukan hanya komoditas beras, tetapi juga yang lain, salah satunya dari Singapura yang mengajukan permintaan impor telur dan daging ayam.

Menurutnya banyak permintaan ekspor ini karena banyak negara yang menutup diri akibat krisis pangan. Oleh karena itu, langka penutupan keran eskpor oleh sejumlah negara tersebut bisa menjadi peluang bagi Indonesia melakukan ekspor pangan termasuk beras.

“Untuk sementara ini jangan sampai peluang yang ada nanti diambil negara lain,” katanya yang diwartakan Okezone.

Syahrul menjelaskan saat ini sejumlah pelaku ekspor juga sudah mulai menawarkan produknya untuk dieskpor. Seperti teman-teman penggilingan yang kelasnya bagus, sudah berlomba menawarkan diri untuk melakukan ekspor, terutama yang dari Jawa.

Karena itu sekarang akan dimanfaatkan pemerintah untuk meningkatkan produktivitas pertanian. Salah satu yang kemudian digenjot adalah program pemerintah dengan pola tanam indeks pertanian (IP) 400. Lahan-lahan yang disediakan  dengan pola tanam yakni maksimal empat kali panen dalam setahun.

  Ketika BBM murah hanya tinggal mimpi

Syahrul Yasin Limpo menegaskan, program IP 400 didukung subsidi oleh pemerintah dan juga dana desa. Hasil panen satu hektare lahan rata-rata 5-6 ton gabah. Sehingga dalam satu tahun bisa mencapai 20-an ton gabah.

“Kelebihan atau surplus panen inilah yang kemudian dieskspor ke luar negeri,” paparnya.

Artikel Terkait

Artikel Lainnya