Cerita Kota Cengkeh yang kerap menyelamatkan petani

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Cengkeh (Rokok Indonesia/Flickr)

Bila berkunjung ke Celebes, coba sempatkan bertandang ke Tolitoli. Tolitoli merupakan salah satu kota kabupaten di Sulawesi Tengah yang seringkali disebut Kota Cengkeh. Tentu saja sebutan ini bukan tanpa alasan.

Tolitoli dikenal sebagai penghasil cengkeh. Bahkan di pusat kota Tolitoli dibangun sebuah tugu cengkeh. Cengkeh sejak tahun 1975 sampai sekarang sudah identik dengan perekonomian Tolitoli.

Lalu bagaimana cengkeh ini hadir di Tolitoli? Dan mengapa menjadi identik dengan kota tersebut? Berikut uraiannya:

1. Kota cengkeh

Cengkeh (Rokok Indonesia/Flickr)

Bila berkunjung ke Celebes, coba sempatkan bertandang ke Tolitoli. Tolitoli merupakan salah satu kota kabupaten di Sulawesi Tengah yang seringkali disebut Kota Cengkeh. Tentu saja sebutan ini bukan tanpa alasan.

Tolitoli dikenal sebagai penghasil cengkeh. Bahkan di pusat kota Tolitoli dibangun sebuah tugu cengkeh. Cengkeh sejak tahun 1975 sampai sekarang sudah identik dengan perekonomian Tolitoli.

Cengkeh pertama kali hadir di Tolitoli atas prakarsa J.H.L Tatontos yang merantau dari Sulawesi Utara ke Kota Tolitoli. Tatontos ketika itu mulai menanam cengkehnya tahun 1930-1934 sebanyak 100 pohon di bukit Panasakan.

  Indonesia akan jadi produsen kratom terbesar dunia, warga AS peminat utama

Dari sekadar mencoba menanam cengkeh di Panasakan, ternyata tanaman ini bisa tumbuh subur. Hingga kini belum ada kabupaten di Indonesia yang hanya berpenduduk sekitar 300.000 jiwa, tetapi memiliki pohon cengkeh lebih dari 12 juta pohon.

Wajar saja kalau warga Tolitoli di mana saja berada menyebut daerahnya sebagai pemilik pohon cengkeh terbanyak di Indonesia. Bahkan mereka kini telah mendeklarasikan diri sebagai Kota Cengkeh.

“Adam Malik, mantan Wakil Presiden, ketika berkunjung di Tolitoli dengan akrab memberi tambahan Toli-Toli sebagai Kota Cengkeh,” jelas Helmy D Yambas dalam Wajah Negeri Cengkeh dimuat Litbang Kompas.

2. Wajib tanam

Pemetik cengkeh (Rokok Indonesia/Flickr)

Panen cengkeh Tatontos pada tahun 1940-an menjadi perhatian pemerintah setempat. Lalu pada tahun 1968, Bupati Tolitoli Moh Kasim Razak memproklamirkan awal program wajib tanaman komoditas tersebut.

Hal ini lantas disambut secara luas oleh penduduk. Lima tahun kemudian program itu dipacu, bahkan beberapa hasilnya mulai terwujud. Pengembangan berlanjut di masa kepemimpinan Bupati Eddy Soeroso di mana tanaman cengkeh memasyarakat.

  Prediksi sampah menggunung saat masa libur Nataru 2023

“Daripada ketinggalan kala itu, saya juga ambil bagian tanam cengkeh,” kenang Musa, warga Tolitoli.

Kini pohon-pohon cengkehnya mulai memberikan hasil terutama untuk membiayai pendidikan anaknya. Tetapi laju pertumbuhan tanaman cengkeh yang begitu pesat, mengundang masalah yakni kesejahteraan penduduk dan kelestarian lingkungan.

Misalnya saja, tercatat sekitar 60-70 peren pemilik cengkeh itu justru berada di luar Tolitoli, seperti Jakarta, Surabaya, Makassar, dan Palu. Menjawab masalah tersebut, Pemda Tolitoli mulai membatasi izin penanaman.

3. Pengaruh komoditas

Cengkeh (Rokok Indonesia/Flickr)

Cengkeh sejak tahun 1975 sampai sekarang sudah identik dengan perekonomian Tolitoli. Kalau panen sepi atau belum tiba saat panen, kegiatan ekonomi juga sepi, wajah daerahnya seolah-olah muram.

Tetapi kalau masa panen tiba, biasanya berlangsung beberapa bulan, Tolitoli diberondong tamu yang datang untuk bisnis cengkeh, bahkan mendapat tempat dalam pemberitaan di media nasional.

“Bukan cuma itu. Panen cengkeh di sini juga dimanfaatkan hadirnya wanita tuna susila (WTS), masing-masing orang datang dengan kiatnya,” tutur Dahyar Alatas, tokoh mahasiswa Toli-Toli.

  Indonesia akan terima suntikan dana Rp6,3 triliun untuk penanganan krisis iklim

Hingga saat ini tanaman cengkeh memiliki peranan besar dan menjadi komoditas unggulan bagi petani di Kabupaten Tolitoli. Berdasarkan data Dinas Perkebunan dan Peternakan luas lahan cengkeh sebesar 37,799 hektare dengan produksi sebesar 12,120 ton.

“Kabupaten Tolitoli telah memiliki resi gedung yang dapat menampung sekitar 5.000 ton hasil pertanian, namun kami berharap kedepannya komoditas cengkeh dapat masuk dalam skema kredit pada lembaga jasa keuangan,” ujar Anggota Komisi B DPRD Kabupaten Tolitoli Jemy Yusuf yang dimuat Sulteng Raya.

Di sisi lain, Muslimin, petani Kecamatan Galang mengutarakan agar pemerintah juga ikut mendorong supaya harga cengkeh tetap stabil. Menurutnya tak masalah jika alat perlengkapan panen mahal asalkan harga jual cengkeh jangan di bawah Rp100 ribu.

“Biaya pembelian satu buah tangga bambu untuk dipakai tukang petik cengkeh itu dijual oleh pedagang bambu di kisaran Rp500 ribu, bahkan lebih, jadi kami harap harga jual cengkeh kering juga bisa stabil agar tidak merugikan petani,” jelasnya.

Artikel Terkait

Artikel Lainnya