Cerita para penyesap di balik keharuman minuman teh

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Teh (Aryani Leksonowati/Flickr)
Teh (Aryani Leksonowati/Flickr)

Kebun Teh Wonosari terletak di kaki Gunung Arjuna, lokasi tepatnya berada di Desa Toyomarto Singosari, Malang. Kebun Teh Wonosari ini sebetulnya memang merupakan perkebunan teh asli dijadikan tempat wisata.

Di tempat ini juga hidup para pencicip teh yang mengetes dan mencoba minuman ini secara rutin, dua kali sepekan. Proses mencicip teh bagaikan ritual magis untuk menentukan kualitas teh produksi perkebunan.

Lalu bagaimana kisah pencicip teh di Wonosari? Dan apakah kebun Teh Wonosari merupakan wisata edukasi yang baik? Berikut uraiannya:

1. Pencicip teh dari Wonosari

Ilustrasi minum teh (Gitu Aja/Flickr)

Kebun Teh Wonosari terletak di kaki Gunung Arjuna, lokasi tepatnya berada di Desa Toyomarto Singosari, Malang. Kebun Teh Wonosari ini sebetulnya memang merupakan perkebunan teh asli dijadikan tempat wisata.

“Slrup!” Merupakan bunyi yang ditimbulkan mulut ketika menghirup air itu sedemikian nyaring. Sejenak bunyi lebih samar terdengar, kali ini suara air menyentuh dasar wadah alumunium.

Bunyi yang membentuk ritme itu terdengar bergantian. Selebihnya, ruangan di pabrik teh milik PT Perkebunan Nusantara XII di perkebunan teh Wonosari sunyi. Biasanya proses mengetes atau mencoba teh dilakukan secara rutin, dua kali sepekan.

  Ironi di tanah Priangan: nasib petani yang tak seharum aroma teh

Proses mencicip teh bagaikan ritual magis untuk menentukan kualitas teh produksi perkebunan. Kualitas teh yang baik akan membuat pencicip bahagia dan bangga. Sebaliknya kualitas teh yang buruk akan membuat mereka bersedih dan kecewa.

Sri Wahyuni yang sudah 29 tahun bekerja di pabrik Teh Wonosari mengisahkan ada tahapan yang harus dilalui calon pencicip teh. Mereka mengawali proses belajar dengan mengenal teh, bisa satu bulan atau lebih lama, bergantung pada insting.

Dirinya selalu bertemu dengan sesama pencicip teh. Di ajang itu, para pencicip teh biasa berkomunikasi, bertukar informasi, dan menambah ilmu. Setiap pencicip teh diminta merasakan teh dari seluruh dunia dan membandingkan.

“Pencicip teh tidak boleh sakit. Kalau sakit, bisa mempengaruhi kemampuan indera untuk merasakan teh,” ujar Wahyuni yang dimuat Kompas.

2. Ritual para pencicip

Ilustrasi cicip teh (Tommy Indra Prayoga/Flickr)

Dewi Indriastuti dalam Jejak Peradaban: Kisah Teh Wonosari menjelaskan proses mencicip teh dimulai dari melarutkan 5,6 gram teh ke dalam 280 mililiter air panas bersuhu maksimal 90 derajat celcius selama 5-6 menit.

“Air yang dipakai untuk merendam teh memiliki kandungan mineral serendah mungkin,” paparnya.

  Indonesia raih penghargaan swasembada beras sebagai kado kemerdekaan

Disebutnya para pencicip teh menunjukkan semua peralatan untuk mencicip teh. Ada cangkir bertutup untuk merendam teh, dengan lubang kecil untuk menuangkan air rendaman.

Ada juga mangkuk, tempat air teh yang akan dicicip dituang dari cangkir. Lalu wadah bercorong lebar sebagai tempat membuang hasil cicip. Air teh yang siap dicicip dituang ke dalam mangkuk.

“Pencicip menyeruput air teh itu dengan keras hingga berbunyi slurp. Cara itu dilakukan agar air teh memenuhi rongga mulut,” paparnya.

Setelah itu, air teh dari mulut dibuang. Pencicip sudah menemukan rasanya. Ada tiga hal yang dinilai, yakni tampilan, rasa cairan, dan ampas, dengan rentang penilaian tersendiri. Seperti untuk tampilan, ada kategori sangat baik, berkisar 41 hingga 50.

Teh yang memiliki tampilan ini memiliki ciri berwarna hitam, butiran bulan, bersih, dan teksturnya tak rapuh. Rasa cairan bisa sangat enak, enak, sedang, kurang enak, dan tidak enak.

“Kategori ampas teh adalah berwarna cerah seperti tembaga, cukup cerah, dan gelap. Setiap unsur dinilai untuk menentukan kualitas teh,” ucap Dewi.

  Teh kejek: teh injak legendaris yang berasal dari Swiss van Java

3. Mereka yang bertahan

Pemetik teh dari Wonosari (Farid Ruliawan/Flickr)

Kebun teh Wonosari mengelilingi pabrik teh yang dilengkapi penginapan dan restoran tempat minum teh. Di kebun itu, setiap pagi, pemetik teh, mencurahkan perhatian dan kehati-hatiannya, memetik daun di pucuk tanaman.

Poniti (53) yang sudah 33 tahun menjadi pemetik teh di kebun teh Wonosari, atau Sarmini (54) yang sudah 35 tahun bekerja di kebun teh itu, setiap pagi naik kendaraan yang disediakan PT Perkebunan Nusantara XII di titik kumpul dekat jalan besar Lawang.

Sarmini, warga Wonosari ini setiap hari ditargetkan memetik 48 kilogram daun teh basah. Itu berarti daun yang belum melalui proses lanjutan untuk menjadi teh yang siap diseduh para penikmat.

Sarmini tidak selalu bisa memenuhi target itu. Kadang kala dia tak mencapainya, dia memperoleh upah-upah rata-rata Rp1,4 juta per bulan. Dirinya mengatakan akan menjadi pemetik teh selama masih mampu.

Pendapatnya cukup untuk membantu suaminya memenuhi kebutuhan hidup keluarga. Namun, tak satupun dari tiga anaknya yang mau menjadi pemetik teh. Sebaliknya, dua anaknya juga bekerja di Kebun Teh Wonosari.

Artikel Terkait

Artikel Lainnya