Gandum mahal imbas Perang-Ukraina, benarkah harga mie instan naik tiga kali lipat?

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Mie Instan (Maicih Pusat/Flickr)

Menteri Pertanian (Mentan) Syahrul Yasin Limpo menyebutkan perang Rusia-Ukraina akan memberikan dampak terhadap rantai pasokan bahan makanan yang tersendat ke Indonesia. Ketergantungan impor seperti gandum juga akan mengerek kenaikan harga mie instan.

Mentan menjelaskan, pasokan gandum Ukraina yang menjadi bahan baku pembuatan mie instan saat ini mengalami masalah. Bahkan ada sekitar 180 juta ton gandum di Ukraina yang tidak bisa keluar dari negara tersebut.

Lalu berapakah kenaikan harga mi instan? Dan apa solusi dari pemerintah? Berikut uraiannya:

1. Harga mi instan naik 

Mie instan (Gitu Aja/Flickr)

Dikabarkan harga mie instan akan naik tiga kali lipat yang kini menjadi perhatian masyarakat. Hal ini disampaikan oleh Mentan Syahrul Yasin Limpo melihat adanya perang antara Rusia-Ukraina yang berdampak terhadap rantai pasokan bahan makanan ke Indonesia.

Di mana saat ini pasokan gandum Ukraina yang menjadi bahan baku pembuatan mie instan mengalami masalah. Dirinya menyebut terdapat kurang lebih 180 juta ton gandum di Ukraina yang tidak bisa keluar dari negara.

  Indonesia raih penghargaan swasembada beras sebagai kado kemerdekaan

“Jadi hati-hati yang makan mie banyak dari gandum, besok harganya 3 kali lipat itu, maafkan saya, saya bicara ekstrim saja ini,” ujar Mentan yang dimuat Inews.

Mentan menambahkan kalau ketersediaan gandum dunia sebetulnya ada, namun dengan adanya konflik tersebut sehingga membuat masalah pada rantai pasok menjadi mahal. Mentan pun menghimbau masyarakat mencari makanan alternatif yang lain.

“Ada gandum, tetapi harganya akan mahal banget, sementara kita impor terus ini, kalau saya jelas tidak setuju, apapun kita makan saja, seperti singkong, sorgum, sagu,” pungkasnya.

2. Naik tapi tidak tinggi

Mie Instan (peytonsuzanne/Flickr)

Dikutip dari situs Alfamart di Instagram dan website, terpantau harga mie instan merek Indomie dengan ukuran 70 gram harganya Rp3.000 per bungkus. Bila nantinya naik tiga kali lipat maka harga Indomie tersebut bisa mencapai Rp9.000 per bungkus.

Adapun merek mie instan lain yakni Mie Sedap ukuran 90 gram harganya Rp3.100 per bungkus, kalau mengalami kenaikan tiga kali lipat maka bisa menembus 9.500 per bungkus. Tentunya harga ini bila benar mengalami kenaikan akan membuat masyarakat terkejut.

  Melihat perburuan gigi hiu megalodon yang bisa hasilkan ratusan juta rupiah

Direktur PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF), Franky Welirang ikut buka suara terkait isu kenaikan harga mie instan. Dirinya tak menampik, gandum yang masuk pada Agustus hingga September besok saja menjadi harga gandum tertinggi.

“Tapi kenaikan ini tak berdampak banyak terhadap harga mie,” ujar Frank yang diwartakan CNBC.

Menurutnya kenaikan harga mie tak akan signifikan. Sebab terigu yang dihasilkan dari biji gandu, bukan satu-satunya komponen utama. Selain itu, Indonesia pun tidak hanya mengimpor gandum dari Ukraina saja.

“Hari ini di bulan, dari bulan Juli-Agustus Amerika, Kanada, panen. Rusia panen, nanti sebentar lagi Argentina panen. Enggak usah diributin lah. Engga ada yang perlu ditakut-takutin kepada konsumen kita,” katanya.

3. Perlu mencari solusi

Mie Instan (Maicih Pusat/Flickr)

Bhima Yudhistira ekonom Centre of Economic and Law Studies menyebutkan pemerintah perlu mencari alternatif pemasok gandum yang berasa dari negara seperti Australia, Amerika Serikat, dan China dengan penandatangan kontrak jangka panjang.

“Peran pemerintah dan Bulog penting untuk membantu dan memfasilitasi importir guna mencari negara-negara yang siap guna untuk memasok gandum. Kemendag juga diharapkan memfasilitasi importir gandum untuk mengamankan harga,” imbuhnya yang dipaparkan Merdeka.

Dirinya juga meminta kepada pemerintah untuk melakukan komunikasi dengan pelaku usaha makanan dan minuman olahan agar tidak meneruskan kenaikan harga kepada konsumen. Beberapa pengusaha, katanya sudah memahami ini jadi lebih memilih memotong margin keuntungan.

  Kuota Pertalite dan Solar menipis, kiamat kecil bagi masyarakat

Selain itu produsen bahan pangan alternatif pengganti gandum seperti tepung beras dan jagung juga bisa memanfaatkan keterbatasan bahan impor dari Ukraina dan Rusia ini. Bhima menyebut ketergantungan terhadap gandum impor juga bisa berkurang secara bertahap.

Selain gandum, diperkirakan konflik antara Rusia dan Ukraina dapat menggangu rantai pasok komoditas lain seperti minyak bumi dan barang tambang hingga harganya meningkat sehingga menyebabkan inflasi.

Artikel Terkait

Artikel Lainnya