Indonesia lirik sorgum sebagai pengganti gandum yang mulai menipis di pasar

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Sorgum (Rod Pilbeam/Flickr)

Perang Rusia-Ukraina membuat sejumlah negara penghasil gandum menghentikan ekspornya. Pemerintah pun mulai mencari alternatif pengganti gandum untuk mengurangi ketergantuan impor terhadap produk pangan tersebut.

Presiden Joko Widodo (Jokowi) memilih sorgum, sagu, dan singkong sebagai substitusi pengganti gandum yang tengah krisis stok akibat perang Rusia dan Ukraina. Pemerintah juga tengah mendorong kapasitas luasan lahan supaya diperluas untuk penanaman tumbuhan-tumbuhan tersebut.

1. Mencari pengganti gandum

Sorgum (Anthony Petterson/Flickr)

Menteri Koordinator bidang Perekonomian, Airlangga Hartanto mengatakan Presiden Joko Widodo (Jokowi) memilih sorgum, sagu, dan singkong sebagai substitusi pengganti gandum yang tengah krisis stok akibat perang Rusia dan Ukraina.

Airlangga menjelaskan, setidaknya terdapat sembilan negara yang menghentikan ekspor gandumnya, yakni Kazakhstan hingga 30 September, kemudian Krigizstan, India, Afghanistan, Algeria, Kosovo, Serbia dan Ukraina sampai 31 Desember mendatang.

“Tentu kita harus mengembangkan tanaman pengganti ataupun substitusi dari gandum. Indonesia tentu punya beberapa alternatif selain sorgum, itu bisa juga dari tanaman sagu dan singkong,” kata Airlangga di Istana Negara Jakarta yang dimuat Liputan6.

Menko Airlangga menjelaskan bahwa Presiden Jokowi meminta kepada Kementerian Pertanian untuk menyiapkan sintan dan ternak, sedangkan road map-nya kepada Kemenko Perekonomian. Sehingga ekosistem daripada sorgum bisa terbentuk di Kabupaten Waingapu, Nusa Tenggara Timur.

  Porang, logistik Jepang saat perang yang kini populer

Presiden Jokowi, jelas Airlangga, juga meminta kepada Kementerian BUMN dan ESDM agar kesiapan untuk pengembangan bio ethanol. Airlangga juga mencatat saat ini pemerintah tengah mendorong kapasitas luasan lahan supaya diperluas untuk penanaman tumbuh tumbuhan tersebut.

 2. Penanaman sorgum

Sorgum (Grant Booth/Flickr)

Pemerintah sudah mulai mengembangkan sorgum di dalam negeri. Hingga Juli tahun ini, sudah ada sekitar 4.355 hektare lahan yang ditanami sorgum yang tersebar di enam provinsi. Produksi di keenam lahan tersebut dapat mencapai 15.243 ton dan produktivitas sekitar 3,63 ton per hektare.

Pemerintah juga menargetkan pada tahun ini setidaknya terdapat 15.000 hektare lahan yang sudah ditanami sorgum. Kabupaten Wangapu menjadi lahan wilayah prioritas pengembangan sorgum. Di tahun 2023, dipersiapkan lahan sejumlah 115 ribu hektare dan di tahun 2024 sekitar 154 ribu hektare.

Harga jual sorgum sendiri saat ini mencapai Rp3.500 per kilogram, dengan produktivitas sekitar empat ton per hektare. Dari jumlah produksi tersebut, ujar Airlangga, petani akan menghasilkan pendapatan sebesar Rp12,5 juta dengan dikurangi biaya produksi Rp8,4 juta.

  Minyak nabati hadapi krisis pasokan dan harga terus naik

“Kalau dibuat menjadi biji kering sosok itu (pendapatnya dapat mencapai) 9,2 juta per hektare. Harganya Rp15 ribu dan itu memberikan keuntungan sebesar Rp28 juta per panen,” jelasnya.

3. Ekosistem pengembangan sorgum

Sorgum (Rod Pilbeam/Flickr)

Dijelaskan oleh Airlangga, Presiden Jokowi yang sudah mengetahui potensi sorgum juga meminta kepada Kementerian Pertanian untuk menyiapkan eksosistem pengembangan sorgum agar memiliki keberlanjutan produksi yang cukup stabil.

Selain sebagai alternatif pengganti gandum dan jagung, tanaman sorgum ini juga kaya akan manfaat lain. Tanaman ini katanya juga bisa dikembangkan menjadi bioetanol. Maka dari itu, Jokowi meminta Kementerian BUMN dan Kementerian ESDM agar mengembangkan jadi bahan bakar.

Selain itu, Airlangga juga mendorong tentang kapasitas luasan lahan yang diperluasan, kontinuitas produk, dan juga mendapatkan off taker. Salah satu off taker yang dipertimbangkan oleh pemerintah adalah industri pakan ternak.

“Di mana industri pakan ternak sekarang bahan bakunya 50 persen jagung, dan 50 persen protein lain, dan tentu dari protein lain ini salah satunya sorgum bisa dijadikan off taker untuk pakan ternak,” jelasnya.

  Kuota Pertalite dan Solar menipis, kiamat kecil bagi masyarakat

Muhammad Faisal, pengamat ekonomi Core Indonesia menilai langkah pemerintah yang mulai melirik sorgum sebagai alternatif atau subtitusi gandum memang perlu dilakukan. Meski demikian, dibutuhkan proses transisi dan adaptasi yang tidak mudah.

Karena itu menurutnya, walaupun bukan substitusi full, tetapi di beberapa produk turunan gandum ada yang bisa di ganti dengan sorgum, atau mungkin dicampurkan. Karena memang untuk mengubah semua gandum menjadi sorgum tidak gampang.

“Misalnya mie instan, tiba-tiba diganti dari gandum menjadi sorgum kan tidak gampang, karena selera konsumen dan sebagainya,” ucapnya yang dimuat VOA.

Karena itulah, dirinya mendorong para produsen mulai melakukan inovasi dengan beragam jenis tanaman, misal mie instan yang terbuat dari sayuran. Baginya subtitusi gandum ke sorgum merupakan upaya jangka menengah dan panjang.

Artikel Terkait

Artikel Lainnya