Ini alasan yang jadi biang kerok kenaikan harga telur ayam

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Telur ayam (Seni Pelita/Flickr)

Para ibu rumah tangga dibuat khawatir dengan harga telur ayam ras yang terus mengalami kenaikan. Beberapa harga ayam telur di level pedagang menjadi Rp30.000 per kg yang sebelumnya Rp27.000 per kg dalam seminggu terakhir.

Beberapa alasan menjadi penyebab dari kenaikan harga telur dipicu banyaknya permintaan untuk program bantuan sosial di setiap daerah. Sementara penyebab lain harga telur naik karena populasi ayam yang produksinya baru akan mulai pulih, setelah terkena dampak Covid 19.

Lalu bagaimana kondisi telur ayam di pasar? Dan apa sebenarnya penyebab harganya naik? Berikut uraiannya:

1. Harga telur ayam naik

Telur ayam (Aimi Nasruddin/Flickr)

Harga telur ayam ras di Kabupaten Majalengka mengalami kenaikan pada bulan Juni 2022 lalu. Di Pasar tradisional Sindangkasih, Cigasong, harganya kini mencapai Rp30 per kilogram. Hal tersebut disampaikan langsung oleh Koordinator pengelola Pasar Sindangkasih, Supriadi.

“Update harga telur ayam ras pada hari ini mencapai Rp30 per kilo. Kalau update harga telur ayam ras pada hari Senin (30/5) kemarin masih di angka Rp28 ribu per kilo, artinya naik Rp2 ribu per kilo,” kata Supriadi yang dimuat DetikJabar.

Salah seorang pedagang di Pasar Sindangkasih, Usman mengatakan, harga telur terus berangsur-angsur naik dalam beberapa pekan terakhir, padahal harga normalnya Rp23 ribu per kilo. Disampaikannya, terbatasnya jumlah pengiriman dan naik harga telur dari pemasok menjadi faktor utama.

  Pante tuak dalam rayuan masyarakat Kolang untuk tingkatkan hasil panen

Naiknya harga telur ayam ras di pasaran dikeluhkan oleh pembeli. Menurut salah satu pembeli, Echa mengatakan, dirinya keberatan dengan kondisi tersebut. Apalagi beberapa harga kebutuhan lain semakin meningkat.

Enya rieut kang, sagala wae (iya pusing kang, segala saja). Ya kita mah sebagai masyarakat maunya harga-harga yang normal aja biar dana dapur enggak keteteran,” ucapnya.

2. Faktor penyebab

Telur ayam (M Faizal/Flickr)

Sekretaris Eksekutif Perhimpunan Insan Perunggasan Rakyat Indonesia (PINSAR) Samhadi mengatakan penyebab dari kenaikan harga telur dipicu banyaknya permintaan untuk program bantuan sosial di setiap daerah.

“Jadi karena pada Agustus ini beberapa wilayah khususnya Jawa ada realisasi Bansos, maka banyak sentra produksi telur seperti Blitar yang mengalir untuk program Bansos,” jelas Samhadi.

Selanjutnya katanya, harga telur sendiri di tingkat peternak tidak mengalami kenaikan yaitu di level Rp23.000 per kg – Rp25.000 per kg. Umumnya katanya, saat di tingkat pedagang harganya biasanya dijual menjadi Rp28.000 per kg.

Presiden Peternak Layer Nasional, Ki Musbar Mesdi mengungkapkan penyebab lain harga telur naik karena total populasi ayam yang produksi baru akan mulai pulih, setelah dua tahun terakhir populasi ayam produksi terkoreksi karena harga telur jatuh selama pandemi Covid 19.

  Hasil kekayaan bumi Flores dalam secangkir minuman hangat

“Diharapkan dalam 2-3 bulan total populasi ayam periode akan pulih kembali,” terang Musbar.

3. Dianggap masih wajar

Telur ayam (Seni Pelita/Flickr)

Kenaikan harga telur dianggap masih wajar bagi Menteri Pertanian (Mentan) Syahrul Yasin Limpo. Menurutnya kenaikan harga telur ayam yang terjadi saat ini masih berada dalam batas wajar sehingga tidak perlu ada intervensi pemerintah.

“Sepanjang kenaikan itu dalam batas-batas kendali, pemerintah tentu tidak akan mengintervensi. Intervensi baru dilakukan apabila kenaikannya melampaui batas-batas tertentu, barulah kita lakukan operasi pasar dan pendekatan-pendekatan lain,” ujarnya dalam keterangan resmi pada Januari lalu.

Kementan juga memastikan ketersediaan pangan lainnya, seperti daging-dagingan, disebutnya dalam kondisi cukup dan tidak terjadi kelangkaan. Bahkan stok nasional, jelasnya dalam tren meningkat. Karena itu dirinya menyakinkan bahwa kebutuhan pokok ini akan terpenuhi setiap hari.

“Perhatian serius kita sesuai perintah Bapak Presiden adalah ketersediaan pangan, kita menghadapi kondisi dan cuaca ekstrem. Tidak saja padi, jagung, lain-lain, tetapi termasuk juga ayam, daging, telur harus dalam kondisi cukup. Tidak boleh kurang,” tukasnya.

  Cerita keharuman kopi Cianjur yang pernah mendunia

Artikel Terkait

Artikel Lainnya