Kenikmatan kopi Flores yang bawa kesejahteraan petani Manggarai

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Petani kopi Flores (Miguel Valle de Figueiredo/Flickr)

Keberadaan komoditas kopi di Indonesia termasuk di wilayah Manggarai, NTT, menyimpan sejarah panjang. Petani Manggarai mulai mengenal tanaman kopi sejak akhir tahun 1920-an. Hal ini berawal di kawasan Colol, Kecamatan Poco Ranaka, Manggarai Timur.

Kopi pun tercatat mampu mensejahterakan warga Colol. Salah satu buktinya adalah tahun 1977, belasan mahasiswa, sebagian besar dari Colol memiliki mencarter pesawat terbang ke Kupang agar tetap tepat waktu mengikuti kuliah.

Lalu bagaimana sejarah mengenai kopi di Colol? Dan bagaimana kondisi kesejahteraan masyarakat di sana? Berikut uraiannya:

1. Kopi di Manggarai

Petani kopi Flores (Australian Embassy Jakarta/Flickr)

Keberadaan komoditas kopi di Indonesia termasuk Manggarai menyimpan sejarah panjang. Petani Manggarai mulai mengenal tanaman kopi sejak akhir tahun 1920-an. Hal ini berawal di kawasan Colol, Kecamatan Poco Ranaka, Manggarai Timur.

Syahdan, pemerintah kolonial Belanda pada tahun 1937 menggelar sayembara penanaman kopi yang disebut Pertandingan Keboen. Peserta ketika itu hampir semuanya adalah warga Manggarai Raya.

Sayembara itu sejalan dengan kebijakan Raja Manggarai saat itu, Alexander Baruk (1931-1945) yang gencar mengenalkan budidaya padi dan tanaman perkebunan kepada rakyatnya saat itu.

  Aradea dan bukti ketangguhan domba garut bernilai fantastis

Melalui seleksi ketat, seorang petani Colol bernama Bernadus Odjong keluar sebagai pemenang Pertandingan Keboen itu. Dia dihadiahi bendera tiga warna, berukuran 160 sentimeter x 200 sentimeter.

Benda itu kini tersimpan dalam wadah bambu khusus di rumah Aloysius Lesin di Kampung Biting, Desa Uluwae, Colol. Lesin merupakan putra Bernadus Odjong yang meninggal sekitar tahun 1987.

Kepala Desa Uluwae Fransiskus Barus dan tetua Colol memperkirakan Pertandingan Keboen pada tahun 1937 itu berlangsung saat kopi mulai berbuah. Itu berarti setelah tanaman berusia sekitar tujuh tahun.

“Kami tidak punya catatan pasti kapan kopi mulai dikenal di NTT, khususnya di Manggarai Raya. Namun dari kisah ini bisa menjadi masukan, kopi diperkirakan mulai dibudidayakan di kawasan ini setidaknya sejak akhir tahun 1920-an,” ungkap Donatus Datur Kepala Dinas Pertanian, Perkebunan dan Kehutanan Manggarai Timur yang diwartakan Tanah Air: Bendera Tiga Warna Maknai Kopi di Colol terbitan Litbang Kompas.

2. Kesejahteraan dari kopi

Kopi Flores (Anton Muhajir/Flickr)

Memasuki kawasan Colol, sejauh mata memandang tanaman kopi memang memadati wilayah tersebut. Warga di kawasan itu hampir total bergantung pada komoditas kopi. Kopi tidak bisa terpisahkan dari warga Colol.

  Kisah penghormatan masyarakat kepada sumber air panas Wae Bobok di Flores NTT

Misalnya saja kopi di kawasan ini ditanam hingga tepi jalan yang seharusnya untuk parit. Hal ini karena produksi kopi rakyat dari kawasan Colol memang menonjol dibandingkan kawasan lain di Manggarai Raya.

Dalam perjalanannya hingga sekarang, Manggarai Raya adalah sentra utama kopi di Nusa Tenggara Timur (NTT). Posisi itu tidak terpisahkan dari peran kawasan Colol sebagai penyumbang utama kopinya.

Produksi kopi Manggarai Raya tahun 2010 sekitar 6.000 ton dan sekitar 3.000 ton merupakan sumbangan dari kebun kopi rakyat di kawasan Colol yang kini merupakan wilayah tujuh desa.

Pasaran kopi pun tercatat mampu mensejahterakan warga Colol. Salah satu buktinya adalah tahun 1977, belasan mahasiswa, sebagian besar dari Colol memilih mencarter pesawat terbang ke Kupang agar tetap tepat waktu mengikuti kuliah.

Hingga tahun 1985, perumahan warga terutama di perkampungan sentra kopi yang semula memakai ilalang diubah menjadi seng. Pergantian itu tidak dirasakan sebagai beban karena harga selembar seng setara dengan harga satu kilogram kopi.

3. Kembalikan kejayaan

Ilustrasi kopi (27500/Flickr)

Namun belakangan harga kopi terus surut. Bahkan walau Manggarai Raya masih tetap menyandang predikat sebagai sentra, bahkan induk budidaya kopi di NTT. Namun produksi kopi di daerah ini bila diekspor harus menumpang dengan Kabupaten Ngada.

  Hasil kekayaan bumi Flores dalam secangkir minuman hangat

“Kalau mengekspor kopi, kami harus berinduk ke Ngada. Itu memalukan. Ngada yang seharusnya berinduk ke Manggarai, bukan sebaliknya,” keluh Fransiskus Barus, Kepala Desa Uluwae dalam Tanah Air: Induk yang Tertinggal Jauh.

Kepala Dinas Pertanian, Perkebunan, dan Peternakan Manggarai Timur Donatus Datur dan John Sentis tidak membantah ketertinggalan pengembangan kopi di Manggarai Raya. Mereka sedang berupaya membangkitkan kembali kejayaan kopi Manggarai Raya.

Apalagi bila mendengar kopi petani Ngada sejak tahun 2006 bisa menembus pasar ekspor hingga Amerika Serikat. Ditegaskan ini menjadi masukan berharga untuk berupaya mengembalikan kejayaan kopi sebagai ikon Manggarai.

Karena itu Direktur PT Kopi Manggarai Nusantara Knut Christian Kiene yang juga eksportir kopi di Ruteng, NTT mengingatkan, petani kopi di Manggarai Raya membutuhkan pendampingan petugas teknis.

“Dengan demikian, petani diharapkan mampu membudidayakan tanaman itu sehingga pengolahan hasilnya berstandar ekspor,” jelasnya.

Artikel Terkait

Artikel Lainnya