Keunggulan sorgum yang diwacanakan jadi sumber pangan masa depan Indonesia

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Sorgum (Rod Pilbeam/Flickr)

Kepala Staf Presiden, Moeldoko mengatakan sorgum merupakan sumber pangan masa depan. Hal ini karena bahan pangan ini dapat diolah menjadi berbagai macam produk dengan rasa yang lezat. Sorgum diketahui bisa diolah menjadi kue, nasi goreng, bubur sumsum, hingga pisang.

Sorgum juga bisa diolah ke berbagai kebutuhan seperti sumber pangan, pakan, energi, serat, bahan farmasi, pupuk organik, dan manfaat lain yang menyenangkan seperti bahan kerajinan tangan. Dari sisi karbohidrat, sorgum lebih baik dari beras.

Lalu bagaimana sorgum bisa menjadi sumber pangan masa depan? Dan benarkah ini akan terwujud? Berikut uraiannya:

1. Sorgum makanan masa depan

KSP Moeldoko (Instagram/Moeldoko)

Kepala Staf Presiden (KSP), Moeldoko mengatakan sorgum bisa menjadi sumber pangan masa depan. Hal ini karena sumber pangan ini dapat diolah menjadi berbagai macam produk, seperti kue, nasi goreng, bubur sumsu dengan rasa lezat.

“Semua makanan ini diolah dari sorgum. Saya sudah cicipi semua, rasanya enak dan lezat. Sudah, mulai sekarang pindah ke sorgum. Jangan ragu-ragu lagi. Sorgum jawaban pangan masa depan,” kata Moeldoko dalam keterangannya di Jakarta, Jumat, 12 Agustus 2022.

Moeldoko yang mencicipi berbagai olahan makanan berbahan dasar sorgum hasil kreasi siswa SMK PGRI 2 Kudus, Jawa Tengah mengaku sangat terkejut. Pasalnya ketika mencicipi berbagai kuliner berbahan dasar sorgum mulai dari kue, nasi goreng, hingga bubur sumsum ternyata rasanya enak.

  Kerugian sampah makanan di Indonesia mencapai ratusan triliun per tahun, ironi di tengah krisis pangan

Selain enak, menurut Moeldoko kandungan sorgum ternyata juga lebih sehat, apalagi bila dikonsumsi oleh masyarakat yang sedang melakukan diet karena kandungan karbohidrat, kalori dan gula dalam sorgum cukup rendah.

Pria yang juga merupakan Ketua Umum Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) itu mengatakan pemerintah telah mendorong pemanfaatan sorgum sebagai alternatif pangan dan pengganti gandum. Apalagi di tengah perang Rusia dan Ukraina yang menyebabkan harga gandum naik.

Dijelaskan oleh Moeldoko, Kementerian Pertanian mulai mengembangkan 15 ribu hektare tanaman sorgum. Direncanakan pada tahun 2023 akan dikembangkan lahan sorgum dari 40 ribu hektare menjadi 50 ribu hektare.

“Pemerintah sedang menyiapkan eksosistemnya agar masyarakat tertarik menanam sorgum,” ujar Moeldoko.

2. Manfaat sorgum

Sorgum (Anthony Petterson/Flickr)

Profesor dari Institut Pertanian Bogor, Supriyanto menyebut manfaat sorgum tidak hanya menjadi sumber pangan, namun juga energi, bahan farmasi, pupuk organik, dan manfaat lain yang menyengangkan seperti bahan kerajinan tangan.

Selain itu dari sisi karbohidrat, jelasnya sorgum ternyata jauh lebih baik daripada beras. Sorgum ternyata per 100 gram hanya 73 gram dan 332 kilo kalori, sedangkan beras 78,9 gram dan 360 kilo kalori.

  Indonesia raih penghargaan swasembada beras sebagai kado kemerdekaan

Selain itu, sorgum unggul dalam kandungan protein, per 100 gram hanya 11 gram protein, 28 mg kalsium, 44 mg zat besi, dan 287 mg posfor. Begitupun kandungan gula, sorgum lebih banyak fruktosa dibanding glukosa.

“Jadi cocok untuk penderita diabetes,” katanya yang dimuat VOI.

Dirinya yang sudah melakukan penelitian tentang sorgum sejak 2011 menyebut panganan ini  menjadi satu di antara lima makanan pokok masyarakat dunia. Merupakan komoditas alternatif untuk pangan, pakan ternak, bioenergi, dan industri farmasi maupun kimia yang tidak mudah terpengaruh hama.

Kaseno dari Akademisi Bioteknologi Universitas Indonesia juga sependapat  bahwa sorgum adalah produk pertanian yang nirlimbah. Setiap bagian dari sorgum bisa dimanfaatkan. Sehingga cocok untuk menjadi panganan masa depan.

“Bijinya bisa diolah menjadi beras dan diolah menjadi tepung. Batangnya bisa diolah menjadi gula cari, gula kristal, atau bioetanol. Setelah semua proses itu, sisa batang, daun dan akarnya bisa diolah jadi pupuk pertanian dan pakan ternak,” ucapnya.

3. Masih kurang populer

Sorgum (Grant Booth/Flickr)

Walau banyak manfaat, sorgum masih belum sepopuler beras. Padahal proses budidayanya tidaklah terlalu sulit, karena sorgum termasuk tanaman ‘bandel’ yang bisa hidup di lahan kering sekalipun. Cocok dengan iklim tropis seperti Indonesia.

  Krisis pangan ancam masyarakat global, apakah food estate bisa menjadi solusi?

Menurut Program Manager Indonesia Berseru, Ida Pardosi ada beberapa faktor yang membuat pangan alternatif khususnya sorgum sulit hidup di Indonesia. Antara lain, kebijakan pangan nasional masih menempatkan beras sebagai pangan utama.

Hal ini memnjadikan mayoritas lahan mulai tergerus oleh tanaman pangan lain. Kalau tidak sawah jadi sekun sawit, misal yang terjadi di wilayah Riau atau Pupua. Selain itu, adanya perubahan pola konsumsi akibat promo besar-besaran beras, roti, dan mi instan.

Walau begitu Moeldoko berkomitmen untuk terus mengembangkan sorgum. Insititusi riset tenaga nuklir di bawah naungan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) sudah mengembangkan tiga varietas benih sorgum unggulan, yakni Pahat.

“Saat ini harus dipikirkan bagaimana membangun industri sorgum agar petani semangat untuk menanam. Petani sorgum harus bertani untuk kehidupan. Ini kuncinya,” tandas pria yang dikenal dengan sebutan Bapak Sorgum Indonesia.

Artikel Terkait

Artikel Lainnya