Kisah lezatnya soto yang jadi simbol kepribadian masyarakat Klaten

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Pedagang soto (airbags/Flickr)

Berwisata ke Klaten, Jawa Tengah pastinya akan banyak menemukan pemandangan indah serta wisata kulinernya yang khas. Salah satu wisata kuliner khas daerah ini yaitu aneka soto. Karena itu Klaten dijuluki sebagai Kota Soto.

Keberadaan soto di Klaten tidak bisa lepas dari soto Mataraman (Solo dan Yogyakarta) sebagai akar sejarahnya. Soto lebih dulu populer di wilayah pesisir utara Jawa dibandingkan wilayah pedalaman, seperti Klaten.

Lalu bagaimana penyebaran soto di wilayah Klaten? Dan bagaimana juga Klaten bisa menjadi Kota Soto? Berikut Uraiannya:

1. Kota Soto

Ilustrasi soto (Belanga Indonesia/Flickr)

Berwisata ke Klaten, Jawa Tengah pastinya akan banyak menemukan pemandangan indah serta wisata kulinernya yang khas. Salah satu wisata kuliner khas daerah ini yaitu aneka soto. Karena itu Klaten dijuluki sebagai Kota Soto.

Hal ini disampaikan oleh Bupati Klaten, Sri Mulyani yang menyebut soto menjadi menu yang muda ditemukan. Hal ini karena selain harganya terjangkau, soto disebut-sebut cocok dengan lidah banyak orang.

“Sebenarnya soto banyak. Makanan yang murah, segar, dan pasti enak serta semua orang pasti suka,” katanya yang dimuat Solopos.

Menu soto selama ini menjadi salah satu hidangan saat digelar beberapa kegiatan Pemkab. Hidangan soto itu disuguhkan beberapa warung soto yang ada di wilayah kota. Soto juga menjadi menu ketika digelar hajatan dari kalangan wisata atau hajatan warga.

  Daya pikat dari keindahan siulan belibis yang dihargai jutaan rupiah

Hal ini diakui oleh salah satu warga Klaten bernama Nofiq yang kerap menjadi pembawa acara pada kegiatan hajatan atau seremonial lainnya. Pada setiap acara tersebut soto memang menjadi menu idola.

“Seperti kegiatan pesta pernikahan, pensi, dan lain-lain. Biasanya dihidangkan saat kegiatan pagi. Kalau pada menu utama jarang. Soto memang masih menjadi menu idola karena memang biasanya cocok buat menu sarapan sebelum ke acara utama,” kata warga Kecamatan Klaten Selatan tersebut.

2. Berawal dari Mataram

Kuliner soto (Belanga Indonesia/Flickr)

Keberadaan soto di Klaten tidak bisa lepas dari pengaruh budaya Mataraman (Solo dan Yogyakarta). Dua kutub kebudayaan Jawa itu dinilai mempengaruhi aneka makanan di Klaten terutama soto.

Filolog Sastra Jawa Kuno, Rendra Agusta mengatakan pada prinsipnya resep makanan berupa soto berasal dari Tionghoa. Dirinya menyatakan soto berasal dari bahasa Tionghoa, tshau-too, yang berarti jeroan berempah.

Sementara itu solo lebih populer di wilayah pesisir utara Jawa, seperti Kudus, Semarang, atau Pekalongan. Setelahnya soto kemudian menyebar ke wilayah pedalaman seperti Solo dan sekitarnya.

  Mengintip pesona eksotis hutan tropis Pulau Nusakambangan

Sementara itu, Klaten yang termasuk wilayah pedalaman banyak terpengaruh dengan budaya Mataraman. Meski tidak ada perbedaan signifikan antara soto Solo dan Yogyakarta, kuliner kedua kota ini sangat berpengaruh terhadap soto Klaten.

“Secara bentuk dan rasa, soto Klaten tidak berbeda jauh dengan soto Solo atau Yogyakarta. Sotonya bening, biasanya pakai daging sapi dan kerap disajikan saat pagi hari,” kata Rendra yang diwartakan Solopos.

Soto dengan kuah bening, jelas Rendra, sangat berkaitan erat dengan geografis wilayah pedalaman seperti Solo dan sekitarnya. Hal ini karena wilayah pedalaman memiliki komoditas rempah yang lebih sedikit dibandingkan wilayah pesisir.

3. Soto sebagai simbol

Pedagang soto (airbags/Flickr)

Rendra menjelaskan kuliner soto tidak hanya sekadar makanan, tetapi telah hidup menjadi bagian masyarakat Klaten sebagai budaya. Kuliner ini telah mendarah daging sebagai santapan harian warga Klaten.

Dikatakannya posisi soto di Klaten, berbeda dengan kuliner lain. layaknya ketupat yang hanya muncul pada momen tertentu. Soto bisa bernapas panjang, karena selain telah bertahan lama, juga telah menyatu dengan budaya masyarakat.

  Sihir lada hitam yang berikan kekayaan bagi petani Lampung

“Dari semangkuk soto Klaten, kita bisa tahu, bagaimana posisi, geografis, dan budaya Klaten,” ungkapnya.

Dirinya pun menjelaskan wilayah yang menjadi tempat legendaris sejumlah warung soto adalah Kecamatan Ceper. Selain itu sajian soto yang paling terkenal dan sangat unik di Klaten adalah soto garing atau kering.

Disebut demikian karena makanan yang satu ini disajikan tanpa kuah. Kedai soto garing terkenal adalah milik Bu Yati di samping kiri Pasar Delanggu. Soto garing milik Bu Yati ini berisikan aneka sayuran, seperti daun seledri, kubis, kecambah dan potongan daging ayam.

Hal yang unik dari soto ini adalah menggunakan kuah hanya untuk membasahi bagian atas seperti nasi, sayuran dan daging. Kuah itu tidak sampai memenuhi wadah soto. Hal tersebut justru menjadikan soto garing lebih menarik dinikmati.

Artikel Terkait

Artikel Lainnya