Kuota Pertalite dan Solar menipis, kiamat kecil bagi masyarakat

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Bensin (denta ramdani siregar/Flickr)

PT Pertamina (Persero) melalui anak usahanya PT Pertamina Patra Niaga mencatat konsumsi atau kuota Jenis Bahan Bakar Minyak Khusus Penugasan (JBKP) yakni RON atau Pertalite semakin menipis, atau sampai Juni 2022 kemarin tersisa 8,8 juta Kilo Liter (KL) saja.

Hal ini yang membuat masyarakat semakin sulit mendapatkan bahan bakar minyak subsidi akhir-akhir ini, seperti Pertalite dan Solor. Salah satu penyebabnya adalah kebijakan pembatasan penyaluran BBM subsidi.

Lalu bagaimana fakta kondisi Pertalite di lapangan? Dan apa yang perlu dilakukan pemerintah? Berikut uraiannya:

1. Pertalite menipis

Pom bensin (Purnomo Shiddiq/Flickr)

PT Pertamina (Persero) melalui anak usahanya PT Pertamina Patra Niaga mencatat konsumsi atau kuota Jenis Bahan Bakar Minyak Khusus Penugasan (JBKP) yakni RON 90 atau Pertalite semakin menipis, atau sampai Juni 2022 kemarin tersisa 8,8 juta Kilo Liter (KL) saja.

Dimuat CNBC Indonesia, untuk rinciannya, sampai Juni 2022 konsumsi BBM Pertalite sudah menembus 14,2 juta KL dari target yang dicanangkan pemerintah dan DPR pada tahun ini mencapai 23 juta KL.

  Kisah lezatnya soto yang jadi simbol kepribadian masyarakat Klaten

Dalam perhitungan kasar, selama enam bulan atau semester pertama ini, pemakaian BBM Pertalite mencapai 14, 2 juta, artinya selama enam ke depan jika kuota BBM Pertalite tersisa 8,8 juta KL tidak akan mencukupi untuk akhir tahun, artinya akan terjadi over kuota.

“Butuh pembatasan segera penggunaan konsumsi BBM Pertalite tersebut. Karena kalau dilihat konsumsi per Juni, tanpa ada pengaturan, maka akan over kuota,” ucap Corporate Secretary Pertamina Patra Niaga, Irto Ginting.

Saat ini pemerintah dan Pertamina sedang merumuskan pembatasan pembelian Pertalite sesuai dengan kriteria tertentu untuk kendaraan roda empat. Hal itu supaya penggunaan Pertalite bisa lebih tepat sasaran.

2. Mulai berdampak

Pom bensin (Hanjuang XYZ/Flickr)

Pakar Kebijakan Publik Narasi Institute Achmad Nur Hidayat mengungkapkan penyebab semakin sulitnya masyarakat mendapatkan bahan bakar minyak subsidi akhir-akhir ini, seperti Pertalite dan Solar. Hal ini karena kebijakan pembatasan penyaluran BBM subsidi.

Achmad menjelaskan PT Pertamina (Persero) telah melaporkan realisasi penyaluran BBM jenis Pertalite per 31 Juli 2022 sudah mencapai 16,8 juta kiloliter dari kuota yang ditetapkan tahun ini sebesar 23,05 juta kiloliter. Menurutnya, sisa kuota penyaluran katanya sudah sangat menipis.

  Legitnya nilam Aceh yang pernah jadi komoditas penting di pasar internasional

“Artinya hanya tersisa 6,25 juta kiloliter yang hanya mencakupi penyaluran bulan Agustus dan September 2022 saja. Bahkan bisa lebih cepat lagi bila konsumsi dalam negeri tidak dikendalikan,” katanya melalui keterangan tertulis yang dimuat Tempo.

Sementara itu, untuk BBM subsidi berjenis  solar telah disalurkan sebanyak 9,9 juta kiloliter dari total kuota yang telah ditetapkan tahun ini 14,9 juta kiloliter. Artinya, sisa penyaluran BBM solar juga tiga tinggal 5 kiloliter. Karena itu dirinya memperkirakan stok BBM akan sulit dicari.

“Akibatnya, bulan September tidak akan ada lagi Pertalite dan Solar di pasar dan hal tersebut merupakan kiamat kecil bagi masyarakat kecil ke bawah. Ini sebabkan masyarakat akan dipaksa beli BBM non subsidi yang lebih mahal,” ujar Achmad.

3. Berikan efek domino

Bensin (denta ramdani siregar/Flickr)

Achmad memperkirakan ada efek rambatan terhadap perekonomian masyarakat, khususnya yang selama ini menggantungkan biaya transportasinya pada BBM jenis subsidi. Efek ekonominya adalah harga-harga akan ikut terkerek mahal.

Efek domino ini katanya terjadi karena biasanya masyarakat dan mobil transportasi untuk mengeluarkan biaya bahan pokok membayar sekitar Rp7.650/liter karena menggunakan Pertalite, tapi kini menjadi Rp12.500 karena menggunakan Pertamax atau biaya BBM naik 64 persen.

  Gandum mahal imbas Perang-Ukraina, benarkah harga mie instan naik tiga kali lipat?

Baginya kenaikan 64 persen tersebut sangat memberatkan masyarakat dan dampak berikutnya harga-harga bahan pokok akan naik karena naiknya ongkos transportasi. Apalagi pada bulan-bulan ini masyarakat sudah kesulitan mendapatkan Pertalite.

“Tercatat pada pertengahan Agustus 2022 ini, publik sudah merasakan kelangkaan Pertalite dibeberapa SPBU,” ujar Achmad.

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati sebelumnya juga telah kembali meminta agar PT Pertamina (Persero) bisa mengendalikan volume penyaluran BBM bersubsidi Dengan begitu, postur Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) bisa tetap terjaga.

“Tentu saya berharap Pertamina untuk betul-betul mengendalikan volumenya, jadi supaya APBN tidak terpukul,” katanya.

Artikel Terkait

Artikel Lainnya