Melihat perburuan gigi hiu megalodon yang bisa hasilkan ratusan juta rupiah

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Gigi hiu megalodon (Greel1/Flickr)

Selama pandemi, perburuan fosil binatang laut khususnya gigi hiu purba, baik megalodon atau sejenis hiu putih besar di kawasan Pajampangan Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat makin masif. Pasalnya benda purbakala ini bisa dihargai ratusan juta.

Namun karena efek perburuan ini ternyata memberikan dampak kepada lingkungan sekitar. Banyak wilayah di daerah tersebut rusak karena proses perburuan gigi hiu. Kini masyarakat mulai meninggalkan perburuan dan menjadikannya tempat wisata.

Lalu bagaimana kisah perburuan gigi hiu megalodon ini? Dan apa dampak yang diberikan kepada lingkungan?

1. Perburuan gigi hiu

gigi hiu megalodon (chewy_fruit_loop/Flickr)

Perburuan gigi hiu di kawasan Pajampangan, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat kian masif selama pandemi. Salah satu kawasan perburuan gigi megalodon atau huntu gelap dalam istilah warga setempat dengan mudah ditemui di Desa Gunung Sungging.

Diwartakan Teras.id, masyarakat menyebutkan ciri tempat yang terdapat benda purbakala tersebut yakni banyak ditemukan bekas tambang tanah, banyak pecahan batu dan bekas galian di tebing-tebing perbukitan.

Dari data setidaknya ada lima kampung di Desa Gunung Sungging yang dijadikan lokasi pencarian fosil gigi hiu purba oleh warga, yaitu di Kampung Cigulingan, Kampung Selenggang, Kampung Curuglubang, Kampung Cigintung, dan Kampung Cilutung.

  Digemari masyarakat AS, teh Indonesia berpotensi besar rajai pasar global

Pada tahun 2021, banyak warga yang mendadak jadi jutawan karena menjual fosil hasil perburuan mereka. Kini, banyak fosil yang telah berpindah tangan untuk sekadar jadi koleksi warga di luar negeri. Beberapa warga pun menyesalkan hal tersebut.

“Kalau sekarang hanya tinggal kenangan, sekarang banyak yang punya mobil (dari) megalodon, motor dari megalodon, begitu ya istilahnya untuk mereka yang sukses menjadikan fosil itu sebagai komoditi,” kata Mansyur, warga sekaligus pengelola Museum Megalodon Desa Gunung Sungging, Kecamatan Surade, mengutip Detikcom.

2. Harga membengkak

Gigi hiu megalodon (Greel1/Flickr)

Perbukitan Kampung Cigulingan menjadi tempat yang ramai dikunjungi para pemburu huntu gelap. Di sini sejumlah warga sudah berhasil menemukan satu atau dua bahkan ada yang rangkaian gigi hiu purba dari ukuran sebesar kelingking hingga telapak tangan.

Ceun salah seorang pemilik lahan galian huntu gelap di Kampung Cigulingan menyebut agar bisa menemukan fosil gigi hiu purba, warga memang harus menggali atau mencari bebatuan khas di bawah tanah yang disebut batu papan.

“Tidak semuanya perbukitan ada huntu gelap. Biasanya pemburu survei dulu, mencari tanda-tanda yaitu fosil kerang. Biasanya jika ditemukan banyak fosil kerang di bebatuannya, maka di sekitar lokasi itu ada fosil gigi hiu purbanya,” ucapnya.

  Kerugian sampah makanan di Indonesia mencapai ratusan triliun per tahun, ironi di tengah krisis pangan

Di lokasi milik Ceun ini banyak pemburu yang berhasil mendapatkan gigi hiu purba, sehingga makin banyak warga yang datang untuk berburu dan menggali. Diungkapnya bila dapat fosil gigi hiu yang mulus dan berukuran 14 cmbisa dijual dengan harga sekitar Rp7-8 juta.

Menurut Eli salah seorang pegiat wisata, perburuan masif tersebut dilakukan karena belum adanya regulasi. Ketika itu harga jual fosil tersebut membengkak seiring dengan ramainya persaingan para tengkulak adu tawar dengan warga.

“Sampai sekarang harganya antara Rp3 juta hingga Rp150 juta, harga itu tergantung dari jenis, ukuran, dan mulusnya barang. Karena ada kelir (list) fosil yang bermacam warnanya,” ungkapnya.

3. Upaya perlindungan

Gigi hiu megalodon (Mark Bisgrove/Flickr)

Semakin banyak pemburu yang datang ke lokasi tersebut ternyata membuat kawasan itu menjadi rusak. Saat ini bebatuan yang digali untuk mencari fosil gigi hiu pun berhamburan di punggung-punggung bukit.

“Warga di sini khawatir longsor karena memang banyak juga pohon yang ditebang di lokasi ini,” jelasnya.

Eli bersama Mansyur berbeda dengan masyarakat kebanyakan, mereka berdua lebih sadar dengan kondisi kerusakan masif di desanya akibat perburuan fosil. Proses penggalian oleh pemburu, jelas mereka, sering merusak lingkungan.

  Ketika BBM murah hanya tinggal mimpi

Padahal menurut mereka, bila kampung ini dikelola dengan baik, mungkin bisa mengabadikan dan menjadikannya taman fosil purba. Karena itu dirinya berharap pemerintah bisa datang untuk melakukan penelitian.

Pendekatan persuasif saat itu, baginya perlu dilakukan agar warga lebih sadar bahwa yang mereka buru dan dijadikan komoditas adalah benda langka. Sebuah warisan yang perlu dipertahankan demi generasi selanjutnya.

Perjuangan itu tidak sia-sia, seiring berdirinya sebuah museum kecil yang mendapatkan dukungan dari sejumlah pihak. Perlahan perburuan mulai menghilang, karena warga mulai merasakan dampak dengan datangnya wisatawan.

“Kami secara perlahan membuat batasan, dan masyarakat akhirnya mengerti tujuan kami tidak ada lagi aktivitas jual beli fosil. Kami memberi contoh dari apa yang kami lakukan sendiri, kami mengoleksi tapi tidak menjual dan kami simpan di museum. Warga malu dengan sendirinya, karena dampak bisa dirasakan seperti jalanan bagus, banyak wisatawan datang,” pungkasnya.

Artikel Terkait

Artikel Lainnya