Mengembalikan kejayaan jeruk sambas, buah kebanggaan Provinsi Kalbar

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Ilustrasi jeruk (Dmitry Valberg/Flickr)

Menggerakkan ekonomi tanpa merusak sumber daya alam bisa dilakukan. Salah satunya adalah pertanian jeruk yang menjadi urat nadi perekonomian Kabupaten Sambas, Kalimantan Barat.

Budidaya jeruk sambas sudah dilakukan setidaknya pada tahun 1984. Ketika itu, lahan-lahan masyarakat yang semula digunakan untuk menanam padi atau palawija mulai ditanami oleh jeruk.

Lalu bagaimana komoditas jeruk yang berada di Kalimantan? Dan apa keuntungan yang didapat oleh petani? Berikut uraiannya:

1. Jeruk sambas

Jeruk (Anton andi Nugroho/Flickr)

Menggerakkan ekonomi tanpa merusak sumber daya alam bisa dilakukan. Salah satunya adalah pertanian jeruk yang menjadi urat nadi perekonomian Kabupaten Sambas, Kalimantan Barat.

Budidaya jeruk sambas sudah dilakukan setidaknya pada tahun 1984. Ketika itu, lahan-lahan masyarakat yang semula digunakan untuk menanam padi atau palawija mulai ditanami oleh jeruk.

“Ini dilakukan untuk meningkatkan nilai ekonomi lahan,” jelas AHA dalam Jeruk: Menggerakkan Ekonomi Tanpa Melukai Alam terbitan Litbang Kompas.

Kemudian perlahan-lahan luas tanaman jeruk bertambah dan akhirnya mencapai 11.000 hektare pada tahun 2008. Sektor budidaya jeruk sambas lambat-laun menggerakkan ekonomi masyarakat Sambas.

  Potensi minyak dan gas bumi dalam kepentingan Australia klaim Pulau Pasir

Diketahui ada ribuan petani dan pekerja yang terlibat dalam proses budidaya dan pasca panen, mulai dari menanam, merawat, memanen, hingga mendistribusikan keluar dari Sambas yang sebagian besar berada di Kecamatan Tebas.

“Produksi jeruk sambas rata-rata 10.000 ton per bulan. Produksinya fluktuatif, antara lain bergantung pada musim,” ucapnya.

2. Penuhi kebutuhan Jawa

Jeruk (Harry Pasaribu/Flickr)

Selain memenuhi kebutuhan jeruk di wilayah Kalbar, produksi jeruk sambas juga memenuhi kebutuhan jeruk di beberapa wilayah di Pulau Jawa, seperti Jakarta dan Semarang. Para petani yang bergabung pada umumnya sudah mengikat kontrak.

Kegiatan pemerintah melarang impor buah memberikan angin segar kepada petani buah lokal, termasuk petani jeruk sambas. Harga komoditas buah lokal terkatrol dan pasar buah lokal terbuka lebar di Indonesia.

Tetapi para petani jeruk sambas hanya beberapa bulan menikmati harga buah hingga Rp10.000 per kilogram. Hal ini karena pemerintah kembali membuka keran impor buah berhadapan dengan jeruk impor China yang harganya lebih murah.

“Jeruk sambas harus kembali ke siklus semula, harganya jatuh saat pasokan buah ke pasar tinggi.

  Lele Mutiara, sebagai generasi terbaru ikan populer di Indonesia

Hal ini belum dihitung tanaman jeruk yang terserang penyakit CVPD sehingga perlahan-lahan mati. Hama itu menyerang tanaman jeruk di satu hamparan yang sama sehingga biasanya kematian tanaman jeruk terjadi massal.

Hazairin, Kepala Dinas Pertanian Kalbar saat itu menuturkan sudah terbentuk sebuah kelompok usaha untuk mengolah jeruk menjadi minuman kemasan. Idenya, kelompok usaha itu menumpuk jeruk petani saat harga jatuh atau saat panen raya.

3. Kembalikan kejayaan

Jeruk (omahndeso/Flickr)

Karena itu pemerintah Provinsi Kalbar melalui Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura serta Pemerintah Sabas yang didukung pemerintah pusat, terus melakukan upaya untuk pengembalian kejayaan jeruk siam sambas.

“Jeruk siam sambas atau lebih dikenal jeruk siam Pontianak sempat jaya pada 1992. Namun hingga ke sini dari luasan dan produksi turun. Untuk itu perlu dikembalikan kejayaannya karena itu merupakan komoditas unggulan tanaman hortikultura Kalbar,” ujar Kepala Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura Provinsi Kalbar, Florentinus Anum yang dimuat Antaranews.

Anun menjelaskan dari sisi budaya dan teknologi untuk jeruk siam sambas sudah tidak masalah. Hanya saja perlu menghadirkan panen yang terus ada sepanjang musim. Menurutnya selama ini musim panen sama dan menumpuk.

  Ini dia 5 Provinsi penghasil kopi terbesar di Indonesia

Karena itu, agar buah jeruk selalu hadir setiap saat, pengembangan jeruk dengan teknologi buah berjenjang sepanjang tahun (Bujangseta) di Sambas sudah dihadirkan. Kegiatan ini pun sudah dituangkan dalam Inpres Nomor 1 tahun 2021.

Anum mengatakan dari beberapa pengalaman di lapangan, secara histori pasang surutnya jeruk sambas bukan terletak pada budidaya namun pasca panen. Namun petani butuh pasar luas dan harga tetap stabil.

“Kemudian perlu industri pengolahan. Sehingga produksi yang maksimal bisa diserap pasar. Harga tentu akan stabil. Dengan begitu maka keberlangsungan kejayaan jeruk pasti hadir,” katanya.

Artikel Terkait

Artikel Lainnya