Minyak nabati hadapi krisis pasokan dan harga terus naik

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Bunga Matahari (Johann G/Flickr)

Harga minyak nabati telah mencapai rekor tertinggi tahun ini didorong oleh permintaan yang kuat. Penggunaannya untuk memasak dan bahan makanan serta diversifikiasi penggunaan minyak nabati menjadi bahan bakar nabati (biofuel) menyebabkan komoditas ini semakin banyak dicari.

Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) memproyeksikan pada semester I tahun 2022 pasokan minyak nabati di pasar bakal mengalami defisit. Hal ini disebut karena dampak dari konflik antara Rusia dan Ukraina.

Lalu bagaimana kondisi harga minyak nabati saat ini? Dan apa dampaknya untuk Indonesia? Berikut uraiannya:

1. Harga minyak nabati

Minyak Nabati (Can Pac Swire/Flickr)

Harga minyak nabati telah mencapai rekor tertingginya. Hal ini terjadi karena permintaan yang kuat, apalagi penggunaannya untuk memasak dan bahan makanan serta diversifikasi penggunaan minya nabati menjadi bahan bakar nabati (biofeul) menyebabkan komoditas ini semakin banyak dicari.

Dipaparkan dari Sari Agri, pasar  minyak nabati diperkirakan akan tumbuh pada tingkat majemuk sebesar 7,6 persen antara saat ini hingga 2029. Namun pasokan minyak sawit dan kedelai saat ini belum mampu mengimbangi peningkatan permintaan.

Hal ini terutama disebabkan penggunaan kedua minyak tersebut untuk bahan bakar nabati. Pohon-pohon kelapa sawit membutuhkan waktu cukup lama untuk tumbuh dan menghasilkan, sementara tidak ada peningkatan yang signifikan dari lahan pertanian yang diberikan untuk produksi kedelai.

  Kerugian sampah makanan di Indonesia mencapai ratusan triliun per tahun, ironi di tengah krisis pangan

Akibat ketidaksesuaian antara penawaran dan permintaan ini, harga naik. Pada saat yang sama, kenaikan tajam harga energi telah memberikan tekanan lebih lanjut pada minyak nabati, karena penggunaannya sebagai biofuel.

2. Dampak perang Rusia-Ukraina

Sementara itu, perang di Ukraina semakin memicu harga minyak nabati. Rusia dan Ukraina menyumbang hampir 80 persen dari ekspor minyak bunga matahari global, tetapi ekspor Rusia terhenti karena sanksi, sedangkan pelabuhan Ukraina ditutup.

“Dalam pasar minyak nabati, semester pertama 2022 diperkirakan akan terjadi defisit pasokan, apalagi Ukraina sebagai salah satu produsen bunga matahari dan rapeseed. Sehingga mendorong naiknya harga minyak nabati dan berakibat minyak sawit akan menjadi harapan utama negara importir,” papar Direktur Ekskutif Gapti, Mukti Sardjono melalui keterangan tertulis yang dimuat Sindonews.

Salah satu dampak yang saat ini sudah dirasakan karena adanya ketegangan kedua negara tersebut jelas Muti adalah harga minyak bumi yang sudah melampaui USD100 per barel. Diungkapnya, hal tersebut telah mendorong permintaan yang besar pada minyak nabati.

  Padi hibrida, permata para petani Indonesia di masa depan

Penyebab lonjakan harga yang juga sangat signifikan adalah kebijakan larangan ekspor minyak sawit yang diterapkan Indonesia pada akhir April lalu. Meskipun larangan tersebut dicabut tiga minggu kemudian, hal itu menciptakan ketidakpastian dalam pasar.

Hal ini karena Indonesia menyumbang 60 persen dari pasokan global. Larangan ekspor ini serta gangguan pasokan lain seperti dijelaskan di atas, telah mendorong harga minyak sawit naik ke rekor tertinggi baru setelah mengalami lintasan kenaikan yang kuat sejak Mei 2020.

3. Memastikan produksi minyak nabati

Minyak nabati (Cottonseed Oil/Flickr)

Pemerintah Indonesia fokus mengembangkan minyak nabati berkelanjutan untuk mengantisipasi krisis energi. Hal ini juga merupakan wujud transformasi energi hijau berkelanjutan dan inklusif. Pernyataan ini disampaikan oleh Menko Perekonomian, Airlangga Hartanto.

Airlangga menuturkan meski di tengah krisis pangan, energi, dan keuangan yang terjadi saat ini, pemerintah tidak hanya berupaya untuk memulihkan kondisi ekonomi seperti sebelum pandemi, tetapi juga mengupayakan transformasi energi menjadi lebih hijau, berkelanjutan, dan inklusif.

“Di tengah krisis ini, memastikan ketersediaan, aksesibiltas, dan keterjangkauan komoditas pertanian di pasar global, termasuk minyak nabati, menjadi salah satu fokus utama kami,” ungkap Airlangga.

  Kenikmatan kopi Flores yang bawa kesejahteraan petani Manggarai

Dirinya menjelaskan untuk memenuhi target SDGs 2030 muncul beberapa tantangan-tantangan besar seperti inflasi yang tinggi, lonjakan suku bunga, lonjakan harga pangan dan energi, serta terganggunya pasokan dan perdagangan komoditas pertanian.

Dengan mempertimbangkan pertumbuhan populasi global dan meluasnya penggunaan minyak nabati di berbagai industri, maka diperkirakan ukuran pasar global minya nabati akan meningkat dari 199,1 juta metrik ton pada tahun 2020 menjadi 258,4 juta metrik ton pada tahun 2026.

Sebelum terjadinya krisis global, minyak nabati telah lama menjadi sumber mata pencaharian bagi petani skala kecil serta sumber mesin pembangunan di banyak negara berkembang. Dengan demikian, sangat penting untuk memastikan kesinambungan pasokan minyak nabati ke pasar global.

“Dalam hal ini, kami terus percaya bahwa upaya bersama untuk memastikan keberlanjutan di pasar minyak nabati harus dilakukan secara holistik dan nondiskriminatif,” ungkap Menko Airlangga.

Artikel Terkait

Artikel Lainnya