Padi hibrida, permata para petani Indonesia di masa depan

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Ilustrasi padi (sue emran/Flickr)

Padi hibrida di Indonesia mungkin masih dipandang sebelah mata, padahal varietas ini bisa menjadi harapan baru dalam menggenjot hasil pertanian. Di negeri asalnya, Tiongkok, padi hibrida justru menjadi primadona dan permata di lahan petani.

Hasil kajian menyebutkan bahwa padi hibrida mempunyai potensi hasil lebih tinggi dibandingkan varietas padi inbrida. Hal ini pernah dibuktikan dalam demonstrasi penerapan teknologi pengelolaan tanaman terpadu (PTT) di 28 kabupaten.

Lalu bagaimana padi hibrida jadi permata dunia? Dan potensi padi hibrida di negara Indonesia? Berikut uraiannya:

1. Padi hibrida permata petani

Ilustrasi padi (ePi.Longo/Flickr)

Padi hibrida di Indonesia mungkin masih dipandang sebelah mata, padahal varietas ini bisa menjadi harapan baru dalam menggenjot hasil pertanian. Di negeri asalnya, Tiongkok, padi hibrida justru menjadi primadona dan permata di lahan petani.

Dimuat dinastph.lampungprov.go.id, varietas hibrida adalah varietas padi yang hanya sekali tanam. Kelebihan padi varietas hibrida adalah potensi hasil panen yang maksimal. Hasil dapat mencapai dua kali lipat dari hasil padi lokal.

Tetapi varietas hibrida sendiri memiliki kelemahan , yaitu kualitas hasilnya akan berkurang jauh apabila berasal dari tanaman turunannya. Artinya, padi harus berasal dari bibit original, karena apabila hasil panen ditanam ulang, hasilnya akan berbeda.

  Ini alasan yang jadi biang kerok kenaikan harga telur ayam

Dimuat dari laman bbpadi.litbang,pertanian.go.id, padi hibrida dapat dianalogikan sebagai gelas dengan ukuran yang lebih besar sehingga daya tampungnya pun lebih banyak. hal ini menyebabkan hibrida sangat responsif terhadap berbagai input teknologi yang diberikan.

Sementara itu, optimalisasi daya tampung untuk memaksimalkan produktivitas sangatlah penting, sehingga dukungan riset teknologi budidaya spesifik padi hibrida sangat diperlukan. Apalagi berkaca dengan kesuksesan padi hibrida negara Tiongkok.

“Oleh karena itu, dukungan pemerintah maupun swasta pun sangat diharapkan agar Indonesia mampu mengejar ketertinggalan akan teknologi pada hibrida,” tulis dalam laman itu.

2. Potensi hibrida di Indonesia

Budidaya padi Rojolele Delanggu (Dok. GAPOKTAN dan FSRD UNS)

Penelitian pertama pengembangan padi hibrida di Indonesia dimulai pada tahun 1983 oleh Balai Tanaman Padi. Selama 10 tahun berikutnya perkembangan penelitian padi hibrida berjalan sangat lambat.

Tetapi kebuntuan tersebut berakhir ketika IRRI mendukung penelitian secara intensif pada tahun 1993. Ketika masa itu ada tiga faktor yang menghambat proses pengembangan padi hibrida di Indonesia.

“Pertama adalah kurangnya sumber daya manusia yang terlatih, kedua tidak adanya jaringan yang terorganisir secara baik, dan ketiga lemahnya kegiatan kerja sama,” jelas Anshari dan I Wayan Rusastra dalam Pengembangn Padi Hibrida: Pengalaman dari Asia dan Prospek Bagi Indonesia.

Dengan berbagai kendala dan tantangan, Indonesia akhirnya berhasil melepas varietas padi hibrida yaitu Maro dan Rokan pada tahun 2002. Kemudian pada tahun 2007 jumlah varietas padi hibrida meningkat secara drastis mencapai 31 varietas.

  Semangat petani milenial penyandang autisme yang tercermin dari sosok Maisa

Satoto dan B Suprihatno dalam Pengembangan Padi Hibrida di Indonesia menyebutkan bahwa padi hibrida mempunyai potensi hasil lebih tinggi dibandingkan varietas padi inbrida jika memanfaatkan teknik budidaya yang sesuai.

Hal ini pernah dibuktikan dalam demonstrasi penerapan teknologi pengelolaan tanaman terpadu (PTT) yang dilakukan 28 kabupaten. Dua varietas ini menunjukkan rata-rata hasil 9,05 dan 8,87 ton/hektare.

“Berbagai percobaan dan pengalaman baik di Indonesia maupun di luar negeri menunjukan bahwa padi hibrida berpotensi menghasilkan 10-25 persen lebih tinggi dibandingkan padi inbrida,” tulisa Balai Padi.

3. Budidaya padi hibrida

Ilustrasi padi (sue emran/Flickr)

Demi mendukung pengembangan padi hibrida, Badan Litbang Pertanian pada 2007 telah memetakan daerah-daerah potensi pengembangan padi hibrida, terutama di Pulau Jawa dan Bali.

Tetapi pemanfaatan padi hibrida di kalangan petani masih belum optimal. Salah satu alasannya adalah harga benih padi hibrida yang relatif mahal menjadi kendala besar dalam modal awal yang dibutuhkan petani.

Menurut Eris Wulandari selaku penyuluh BPP Proppo menyebut harga benih padi hibrida berkisar Rp80.000 hingga Rp150.000 per kilogram. Sedangkan harga benih padi inbrida hanya sekitar Rp10.000.

  Mengenal deretan petani muda Indonesia di Hari Tani Nasional

Tetapi kebutuhan benih padi hibrida lebih sedikit dibandingkan dengan benih padi inbrida. Hal ini dikarena cara tanam bibit padi hibrida hanya memerlukan satu bibit per lubang tanam, sedangkan bibit padi inbrida memerlukan 2-3 bibit per lubang tanamnya.

“Memang lebih mahal di modal awal pembelian benih hibridanya, tetapi provitasnya jauh lebih tinggi. Jika dikaitkan dengan harga beras yang sama maka lebih menguntungkan padi hibrida,” ungkapnya yang dimuat Swadaya Online.

Kini petani di Kecamatan Proppo sudah dua tahun ini merasakan keuntungan menanam padi hibrida. Selain produksi gabah yang meningkat, ketahanan terhadap serangan hama penyakit juga lebih kuat dibandingkan dengan padi inbrida.

“Tidak mudah mengajak petani untuk menggunakan benih padi hibrida yang harganya mahal. Selain penyuluhan yang berkelanjutan, penyediaan benih padi hibrida yang sesuai potensi lokal, kemudahan membeli serta membuat demplot atau lahan percontohan, menjadi alternatif yang dapat mengenalkan padi hibrida kepada petani sehingga tertarik untuk mencoba,” pungkasnya.

Artikel Terkait

Artikel Lainnya