Peran bakul jamu gendong, pewaris apotek keliling sejak zaman Jawa kuno

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Bakul jamu gendong ( Harry Purwanto/Flickr)

Kata jamu berasal dari bahasa Jawa kuno, yaitu jampi atau usodo yaitu penyembuhan menggunakan ramuan obat-obatan atau doa-doa. Istilah ini banyak ditemukan pada naskah kuno, seperti pada Naskah Gatotkacasraya.

Jamu merupakan warisan leluhur yang sangat berharga. Minuman ini telah memegang peranan penting dalam pemeliharan kesehatan dan kebugaran masyarakat Nusantara sejak ratusan tahun silam.

Lalu bagaimana tradisi jamu ini masih bertahan? Dan mengapa masyarakat masih mempercayai jamu sebagai obat tradisional? Berikut uraiannya:

1. Jamu jampi usodo

Bakul jamu gendong (Agus Triwahyuono/Flickr)

Jamu berasal dari bahasa Jawa kuno yakni jampi atau usodo yaitu penyembuhan menggunakan ramuan obat-obatan atau doa-doa. Istilah ini banyak ditemukan pada naskah kuno, seperti pada Naskah Gatotkacasraya oleh Mpu Panuluh dari Kerajaan Kediri.

Banyak bukti sejarah yang menyebut bahwa jamu telah ada pada zaman Kerajaan Hindu-Buddha. Relief yang menggambarkan pembuatan atau penggunaan jamu dapat ditemukan di beberapa candi, seperti Candi Borobudur, Prambanan, dan Sukuh.

Selain dari relief candi, jamu juga ada dalam Prasasti Madhawapura peninggalan Kerajaan Majapahit. Dalam prasasti, disebutkan bahwa profesi peracik jamu disebut dengan acaraki. Seorang acaraki harus berdoa terlebih dahulu sebelum meracik jamu.

  Menyingkap mitos air suci Dewi Sri yang dipercaya berikan kesembuhan

“Ia juga harus bermeditasi dan berpuasa sebelum meramu jamu,” tulis dalam laman Kemendikbud.

Disebutkan hal ini perlu dilakukan agar dirinya bisa merasakan energi positif yang bermanfaat bagi kesehatan. Ritual ini juga dilakukan karena masyarakat Jawa kuno percaya bahwa Tuhan adalah sang penyembuh sejati.

Ternyata pada awalnya jamu hanya boleh dikonsumsi bagi kalangan istana kerajaan. Tetapi lambat laun, jamu mulai didistribusikan untuk masyarakat. Pada perkembangan selanjutnya banyak pedagang yang berjualan secara berkeliling.

“Laki-laki membawanya dengan dipikul, perempuan membawanya dengan digendong,” paparnya.

2. Perawat jamu

Jamu gendong (asw1956/Flickr)

Pada perjalanan waktu, tenaga lelaki ternyata lebih dibutuhkan di bidang pertanian. Maka sejak saat itu penjual jamu mulai didominasi oleh kaum perempuan yang menjajakannya dengan cara digendong.

Jamu gendong adalah jamu hasil produksi rumahan (home industry). Jamu ini dijajakan dengan cara memasukkannya ke dalam botol-botol. Kemudian botol-botol ini disusun secara rapi di dalam bakul.

“Setelah itu, penjual jamu akan menggendong bakul yang berisi jamu tersebut saat berjualan. Itulah sebabnya, jamu ini dikenal sebagai jamu gendong,” jelasnya.

  Potensi minyak dan gas bumi dalam kepentingan Australia klaim Pulau Pasir

Biasanya para penjual jamu gendong memasarkan dagangannya dengan cara berkeliling setiap hari. Hal yang menarik adalah cara membawa barang dagangannya, yaitu digendong menggunakan kain batik, jarik, dan sebagainya.

Ini disebut sebagai ciri khas perempuan Jawa dari dulu, bahkan hingga sekarang. Tidak hanya jamu, dagangan lain seperti pecel, nasi liwet, dan juga aneka jajan juga sering dijajakan dengan cara digendong.

Disebutkan dalam filosofi Jawa menggendong sangat identik dengan seorang ibu yang memomong anak kecil. Sehingga perempuan Jawa menggendong barang daganganya (rezeki) layaknya membawa anak kecil yang harus dilakukan secara lembut.

3. Lebih modern

Bakul jamu gendong (Harry Purwanto/Flickr)

Handayani, seorang penjual jamu gendong asal Karanganyar telah hampir 27 tahun berjualan di Jakarta. Ilmu meracik jamu didapatkannya dari keluarganya yang turun temurun berjualan jamu.

Mahalnya bahan dasar di pasar Jakarta kadang disiasati oleh Handayani dengan menanam di kampung halaman. Setiap dua minggu sekali, Suhardi suaminya, datang ke Jakarta membawa bahan dasar jamu dalam karung.

Setiap hari seorang penjual jamu gendong berkeliling dengan menggendong bakul jamu seberat 17 kilogram sejauh kurang lebih 10 kilometer. Yani, seorang pelanggan minuman tradisional itu mengaku minum jamu gendong sejak usia 5 tahun.

  Ini alasan yang jadi biang kerok kenaikan harga telur ayam

“Rasanya badan enak dan saya jarang sakit,” katanya yang dipaparkan Benarnews.

Namun menghadapi tantangan zaman, para bakul jamu pun mulai belajar menjual dagangannya secara online. Hal ini dilakukan oleh Komunitas Jamu Gendong Empu yang memberikan pelatihan kepada bakul jamu di wilayah Kabupaten Sragen.

Koordinator Komunitas Jamu Gendong Empu, Leya Cattleya Soeratman menerangkan banyak tantangan yang dihadapi para bakul jamu gendong di era digital ini. Salah satunya adalah beradaptasi dengan membuat produk yang bisa dipasarkan secara online.

Di sisi lain, ujarnya, kualitas dan higenitas jamu gendong juga perlu ditingkatkan supaya meningkatkan nilai jual. Dia mengatakan selama ini para bakul jamu gendong berjualan dari satu tempat ke tempat lainnya, sehingga ruang lingkup penjualannya terbatas.

“Kamu juga menggandeng perusahaan jamu swasta yang tergabung dalam Program Orang Tua Angkat memberi bantuan alat produksi jamu kepada para bakul jamu gendong itu,” ujar Leya yang diwartakan Solopos.

Artikel Terkait

Artikel Lainnya