Selandia Baru mau tarik pajak emisi dari kentut sapi, apa hubungannya?

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Ilustrasi sapi (Andrzej Bieniek/flickr)

Saat ini, secara umum memang ada kebijakan pajak dan perdagangan karbon yang berlaku untuk mengurangi emisi. Pajak tersebut biasanya berlaku untuk industri yang operasionalnya menghasilkan gas emisi pencemar lingkungan. Tapi, apa jadinya jika pajak emisi ditarik dari kentut sapi?

Bukan omong kosong belaka, nyatanya hal tersebut yang sedang direncanakan oleh pemerintah Selandia Baru. Negara tersebut berencana menarik pajak dari setiap kentut dan sendawa yang dikeluarkan oleh sapi.

Apa hubungan kentut dan sendawa sapi dengan emisi? Berikut penjelasannya.

1. Emisi metana

Penjelasan emisi dari kentut dan snedawa sapi (letstalkscience.ca)

Belum terlalu banyak yang mengetahui, jika sebenarnya kentut dan sendawa sapi selama ini jadi salah satu penyumbang emisi berupa gas metana.

Lebih jelas, selama ini yang dihasilkan dari sapi bukan hanya susu atau daging, tapi juga gas metana hasil proses pencernaan dalam perut mereka. Di mana kemudian, gas metana tersebut dikeluarkan dalam bentuk kentut dan sendawa.

Fakta lainnya, sapi ternyata banyak bersendawa karena banyak gas yang terbentuk dalam perut mereka ketika mencerna rumput.

  Gaungkan transisi energi, kenapa jumlah PLTU malah bertambah?

Sebelumnya pernah diulas kalau memang karbon dioksida adalah penyebab utama dari perubahan iklim. Tapi di saat bersamaan, ilmuwan berhasil membuktikan jika gas metana 84 kali lebih kuat dalam memerangkap panas di atmosfer.

Emisi atau gas metana juga diyakini memiliki kemampuan menyebar ke udara dengan cepat. senyawa satu ini mampu menciptakan efek pemanasan global yang lebih cepat daripada gas rumah kaca lainnya.

2. Pajak kentut sapi dari peternak

Peternakan sapi (Andrzej Bieniek/Flickr)

Kembali ke rencana penarikan pajak terhadap kentut dan sendawa sapi, pemerintah Selandia Baru berencana menetapkan kebijakan ini untuk para peternak.

Bagi negara lain yang kurang familiar dengan isu ini mungkin terdengar tak masuk akal. Namun di Selandia Baru, jumlah sapi yang diperkirakan mencapai 6,2 juta ekor telah berpengaruh besar dalam hal pelepasan emisi atau gas rumah kaca.

Di lain sisi, di negara-negara barat sendiri nyatanya bidang Agrikultur lebih tepatnya peternakan telah menjadi permasalahan serius. Pasalnya seperti yang diketahui, peternakan di negara Eropa atau Amerika biasa memiliki lahan yang luas.

  Serangan angin puting beliung melonjak sepekan terakhir

Berbeda dengan peternakan ayam atau hewan kecil lain, sapi seperti yang diketahui berukuran besar sehingga membutuhkan lahan lebih luas. Bahkan di negara peternak sana, lahan yang digunakan untuk peternakan sapi 160 kali lipat lebih banyak dibandingkan lahan untuk pertanian makanan pokok seperti gandum dan beras.

Hal tersebut secara otomatis meniadakan lahan untuk tumbuhnya pohon, karena semua lahan hanya ditumbuhi oleh rumput. Bahkan di Amazon, terungkap jika 80 persen deforestasi yang terjadi ternyata disebabkan oleh peternakan sapi.

3. Ditargetkan berlaku penuh tahun 2025

Ilustrasi (Peter Moxham/Flickr)

Dalam hal pemberlakuan, disebutkan bahwa pemerintah Selandia Baru berencana anak menerapkan kebijakan ini mulai tahun 2025. Hal tersebut disampaikan oleh Perdana Menteri Jacinda Arden.

“Ini adalah langkah maju yang penting dalam transisi Selandia Baru ke masa depan rendah emisi, dan memenuhi janji kami untuk menetapkan harga emisi pertanian mulai 2025,” ujarnya.

Sebelumnya diketahui jika Selandia Baru memiliki target mengurangi emisi gas rumah kaca dan menjadi negara karbon netral pada tahun 2050. Salah satu janji dan upaya untuk memenuhi target tersebut adalah dengan mengurangi emisi metana dari hewan.

  Cerita para penyesap di balik keharuman minuman teh

Secara detail, target pengurangan gas metana dari hewan ternak yang dimaksud adalah sebesar 10 persen di tahun 2030, hingga 47 persen pada 2050.

Lebih lanjut, disebutkan jika nantinya uang yang terkumpul dari pajak peternakan akan dimasukkan kembali ke industri terkait. Dana yang masuk akan digunakan untuk mendanai teknologi baru, penelitian, dan pembayaran insentif bagi petani dan peternak.

Artikel Terkait

Artikel Lainnya