8 spesies baru ini mengubah status burung di Indonesia pada 2022

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Myzomela irianawidodoae (Philippe Verbelen via Novataxa)

Indonesia memiliki pencapaian membanggakan dengan menjadi salah satu negara teratas, yang menyandang predikat kepemilikan spesies burung terbanyak di dunia. Secara detail, posisinya sendiri bersanding dengan negara-negara yang memang memiliki area hutan cukup luas, yakni Kolombia, Peru, dan Brasil.

Dari tahun ke tahun, jumlah spesies burung di Indonesia pun terus bertambah. Misalnya saja pada tahun 2019, jumlahnya burung di tanah air tercatat berada di angka 1.777. Kemudian jumlahnya terus bertambah menjadi 1.794 (2020), dan terakhir 1.812 (2021).

Terbaru, jumlah yang bertambah juga dilaporkan kembali terjadi di tahun 2022. Seperti apa detail pertambahannya?

1. Pemisahan dan klasifikasi baru

Burung Indonesia, selaku pihak yang selalu mencatat perkembangan satwa satu ini di tanah air, baru saja merilis publikasi mengenai status terbaru burung di negeri ini. Sepanjang tahun 2021 hingga awal tahun 2022, tercatat jika ternyata ada sebanyak delapan spesies baru yang menambah daftar spesies satwa ini.

Namun selain itu, di saat yang bersamaan juga terdapat penggabungan spesies. Sehingga per tahun 2022, jumlah pasti burung yang ada berubah menjadi 1.818, selisih 6 spesies dari jumlah di tahun sebelumnya.

  Gelatik jawa, burung penghias pagi yang kini terancam punah

Lebih jelas, total jumlah spesies burung yang dimaksud terdiri dari 556 spesies berstatus dilindungi, 534 spesies endemik, 462 spesies terbatas.

2. 8 spesies burung baru

Membahas lebih detail mengenai jenis burung apa saja yang berhasil diidentifikasi, seperti yang telah disebutkan bahwa burung-burung yang dimaksud tidak sepenuhnya baru ditemukan. Melainkan hasil dari penetapan spesies penuh.

Sebelumnya, jajaran burung tersebut biasanya ada yang masih diklasifikasikan sejenis dengan burung lain. Penetapan spesies penuh baru didapat ketika ada bukti perbedaan morfologi dan taksonomi. 8 jenis spesie burung yang dimaksud terdiri dari:

  • Kakatua sumba (Cacatua citrinocristata), hasil pemecahan dari kakatua-kecil jambul-kuning yang berstatus kritis,
  • Kangkok ranting (Cuculus optatus), hasil pemecahan dari kangkok Himalayan,
  • Sikatan tanajampea (Cyornis djampeanus) hasil pemecahan dari sikatan bakau,
  • Sikatan kadayang (Cyornis kadayangensis), persebaran sangat terbatas di Kalimantan,
  • Kacamata meratus (Zosterops meratusensis), persebaran sangat terbatas di Kalimantan,
  • Burungbuah satin (Melanocharis citreola), persebaran sangat terbatas di Papua,
  • Kancilan ekor-hitam (Pachycephala melanura),
  • Tepus-permata mahkota (Ptilorrhoa geislerorum).
  Magis air mata dugong hanya mitos, dorongan penghentian perburuan disuarakan!

3. Ancaman kepunahan yang meningkat

Di saat bersamaan tidak hanya jumlah spesies teridentifikasi saja yang meningkat, namun status ancaman terhadap satwa burung di Indonesia juga meningkat. Dilaporkan bahwa Indonesia menjadi negara dengan jumlah spesies burung terancam punah terbanyak. Adapun ersentasenya mencapai kisaran 12 persen dari keseluruhan burung terancam punah di dunia.

Menurut Achmad Ridha Junaid selaku Biodiversity Officer Burung Indonesia, pada 2022 terdapat 177 spesies burung yang masuk kategori terancam punah. Jumlah tersebut terdiri dari 96 spesies Rentan (Vulnerable), 51 spesies Genting (Endangered), dan 30 spesies Kritis (Criticaly Endangered).

“Setiap tahunnya BirdLife International dan International Union for Conservation of Nature (IUCN) melakukan kajian ulang status keterancaman sejumlah spesies menanggapi perubahan tingkat  ancaman, perubahan populasi, revisi taksonomi, maupun adanya data-data terbaru terkait spesies yang dikaji,” papar Ridha dalam keterangan resmi.

Sedikit mengulik mengenai apa spesies yang mengalami ancaman kepunahan, dalam laporan yang sama terungkap jika ada beberapa burung yang status keterancamannya meningkat. Adapun tiga spesies burung yang dimaksud terdiri dari Maleo senkawor (Macrocephalon maleo), puyuh sengayan (Rollulus rouloul), dan pergam hijau (Ducula aenea).

  Soa-soa layar, dinosaurus asal Indonesia yang populasinya terancam

 

 
 
 
 
 
View this post on Instagram
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 

A post shared by Burung Indonesia (@burung_indonesia)

Artikel Terkait

Artikel Lainnya