Budaya perburuan paus di Lamalera dan upaya agar populasi tetap lestari

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Perburuan paus (Pinisi)

Perburuan paus masih terjadi di beberapa negara di dunia, meskipun mamalia terbesar di laut ini masuk dalam daftar hewan yang hampir punah. Jepang menjadi salah satu negara yang mencabut moratorium perburuan paus yang sudah berlajan 30 tahun untuk tujuan komersil.

Tetapi perburuan paus di Jepang, berbeda dengan perburuan paus di berbagai negara yang penduduknya masih menggunakan cara tradisional (aboriginal subsistence whaling). Indonesia menjadi salah satu negara yang penduduknya masih memiliki tradisi berburu paus.

Tradisi berburu paus ini terdapat di Desa Lamalera, Pulau Lembata, Nusa Tenggara Timur (NTT). Kegiatan ini sudah dilakukan selama ratusan tahun untuk kebutuhan pangan. Tetapi tidak seperti negara lain, Indonesia tidak memiliki regulasi yang mengatur perburuan tradisional.

Lalu bagaimana tradisi berburu paus di Desa Lamalera? Kemudian bagaimana penduduk memastikan cara  perburuan lestari dan bisakah mengubahnya sebagai potensi wisata? yuk simak uraiannya:

1. Tradisi perburuan paus

Nelayan Lamalera (warta nusantara)

Masyarakat Lamalera awalnya merupakan keturunan para pelaut yang tiba dari Sulawesi bagian selatan lebih dari 500 tahun lalu. Ketika tiba di Lamera, mereka membawa serta tradisi perburuan menangkap paus yang sering ditemukan di perairan selatan Pulau Lembata.

  Topeng Bebegig Sukamantri, tradisi unik melindungi mata air di perbukitan Majalengka

Dinukil dari National Geographic, Biasanya para pemburu Lamalera menggunakan kapal layar yang disebut sebagai paledang. Kapal ini akan didayung secara beramai-ramai ke tengah laut. Kemudian ketika melihat paus lewat, maka juru tombak atau Lamafa akan melemparkan tombak ke arah paus ini.

Memilih Lamafa tidak bisa sembarang, mereka harus dipilih bedasarkan ketangkasan, kekuatan dan ketangguhannya saat melawan paus. Selain itu lamafa juga ditetapkan bedasarkan hasil upacara adat, yakni lelaki yang santun, taat beribadah, berbudi serta tidak boleh melakukan hal tercela.

Dalam berburu,  Lamafa akan dibekali Tempuling yaitu tombak khusus untuk menembus kulit tebal paus. Panjang Tempuling sekira empat meter, dilengkapi mata tombak dari besi sepanjang 30 cm. Pada ujung gagang Tempuling, diberi ikatan tali yang cukup kuat untuk menarik badan paus.

2. Memastikan berburu dengan perburuan lestari

pemburu paus (phinemo)

Paus yang biasanya ditangkap oleh masyarakat Lamalera adalah paus sperma (Physeter macrocephalus) atau dikenal penduduk lokal sebagai koteklema. Kini, paus sperma sudah masuk dalam satwa berstatus rentan menurut Daftar Merah IUCN 2015, artinya populasinya di alam kian menurun.

Namun pelarangan tidak efektif, masyarakat Lamalera tetap memburu paus karena menganggapnya sebagai bagian dari tradisi. Sementara itu, Komisi Perburuan Paus Internasional sudah mendefinisikan perburuan paus di Lamalera sebagai perburuan tradisional yang masih diperbolehkan untuk dilakukan.

  Sejauh mana upaya pemulihan terumbu karang di Indonesia?

Namun, Indonesia malah belum memiliki peraturan yang memberikan definisi “perburuan tradisional”, baik secara legal maupun hukum adat, dan apakah para pemburu tradisional boleh menangkap spesies yang terancam akan punah.

“Menurut kami, hal ini perlu secepatnya ditangani karena satu dekade tanpa upaya pendampingan di Lamalera akan berdampak kepada keberadaan paus dan lumba-lumba di Indonesia,” tulis Putu Liza Mustika dalam artikel Mengenal Budaya Perburuan Paus yang dilakukan Masyarakat Lamalera.

Bagi Liza, perburuan tradisional paus secara lestari perlu dilakukan secara cermat. Perburuan lestari adalah perburuan yang dilakukan dengan jumlah di bawah potensi penghapusan biologis (Potential Biological Removal) atau PBR, yaitu sebuah angka yang menjadi ambang jumlah hewan yang dapat ditangkap.

Namun di Indonesia belum ada perhitungan PBR untuk paus. Agar mengetahui PBR, perlu dilakukan survei rutin tentang jumlah populasi paus dan lumba-lumba di perairan Lamalera. Selain itu juga perlu dilakukan monitoring rutin jumlah paus yang ditangkap di Lamalera setiap tahunnya.

3. Wisata sebagai pengganti perburuan?

Paus (bombastis)

Menurut Liza, akibat dari kegiatan perburuan paus selama 500 tahun di Desa Lamalera membuat paus dan lumba-lumba memilih berenang menjauh dari kapal. Karena itu, selama berada di Lamalera, dirinya tidak pernah melihat paus dan lumba-lumba yang mendekat ke kapal.

  Jumlah paus terdampar di Sumatra (2012-2021)

Liza menyebut dengan kondisi seperti ini sangat mustahil menjadikan wisata melihat paus sebagai pengganti dari tradisi perburuan. Apalagi mengubah tradisi berburu paus selama 500 tahun menjadi pelaku pariwisata pecinta hewan akan memerlukan proses dan waktu yang lama.

Karena itulah menurutnya, isu paus di Lamalera perlu dilihat dan diselesaikan secara cermat dan komperhensif. Tentunya dengan mempertimbangkan faktor sosial dan ekonomi desa. Juga perlu dilakukan pendekatan di desa lain yang masih melakukan perburuan paus dan lumba-lumba.

“Harapannya, apabila para pelestari lingkungan bisa berdiskusi dengan masyarakat Lamalera, maka semua pihak bisa saling paham dan terbuka untuk pengelolaan paus di Lamalera dan memungkinkan untuk merancang perburan paus tradisional yang lebih lestari ke depannya,” pungkas wanita yang juga berkecimpung di LSM Cetacean Sirenian Indonesia ini.

Foto:

  • Pinisi
  • Warta Nusantara
  • Phinemo
  • Bombastis

Artikel Terkait

Artikel Lainnya