Budidaya madu kelulut yang bantu kelestarian hutan Leuser

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Lebah kelulut (tafakarim/Flickr)

Lebah kelulut (Trigona sp.) merupakan jenis lebah tanpa sengat yang mulai dibudidayakan masyarakat di Provinsi Aceh. Beberapa warga berhasil membudidayakan lebah kelulut hingga 60 sarang di kebunnya, seluas 2.800 meter persegi dan kini telah ada produknya bernama Jambo Linot.

Daerah-daerah sekitar hutan Leuser yang memiliki riwayat konflik harimau yang tinggi, sangat berisiko bila masyarakatnya beternak hewan seperti kambing lembu atau kerbau. Masyarakat lebih cocok membudidayakan madu kelulut sebagaimana wilayah yang sering dilintasi gajah.

Lalu bagaimana budidaya lebah ini? Dan sejauh mana potensinya? Berikut uraiannya:

1. Budidaya madu kelulut

Kelulut (anwar siak/Flickr)

Madu kelulut memiliki nama lain Trigona sp. yang merupakan lebah tanpa sengat yang mulai dibudidayakan masyarakat di Provinsi Aceh. Mahdi Ismail, warga Desa Pasir Putih, kecamatan Rantau Peureulak, Kabupaten Aceh Timur, berhasil melakukanya.

Hal ini berawal dari dirinya mencoba untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarga pada 2017. Tetapi kini dia telah memiliki sejumlah sarang kelulut. Awalnya dia hanya beternak di samping rumah, jumlah sarang juga hanya beberapa dengan modal Rp15 juta.

  Cerita gurita yang akan mati setelah kawin dengan pasangannya

Dirinya kemudian belajar budidaya lebah madu kelulut melalui media sosial. Awalnya dia mencari sarang kelulut di kebun warga dan membelinya. Kini masyarakat yang justru datang menawarkan. Ketekunannya ternyata membuahkan hasil.

Mahdi berhasil mengembangkan koloni lebih dari 60 sarang di kebunnya, seluas 2.800 meter persegi. Di kebun itu juga, dia tanami tumbuhan yang disukai kelulut. Usaha ini dirinya namakan Jambo Linot. Dijelaskannya olehnya linot adalah nama lebah kelulut dalam bahasa Aceh.

“Madu yang dihasilkan mencapai 30 liter sekali panen. Harga jual Rp600 ribu hingga Rp1 juta rupiah per liter, tergantung jenis kelulutnya,” ujar Ketua Inspirator Lebah Madu Indonesia Provinsi Aceh ini yang dimuat Mongabay Indonesia. 

2. Budidaya paling potensial

kelulut (anwar siak/flickr)

Mahdi mengatakan kelulut yang dibudidayakan merupakan jenis Trigona itama dan Trigona thoracica. Masa panen sekitar 45 hari.  Namun lain daripada itu, peluang budidaya lebah kelulut tidak hanya dilihat dari kacamata bisnis tetapi membantu perekonomian masyarakat di pinggir hutan kawasan Ekosistem Leuser.

“Mereka harus dibekali dengan mata pencaharian ramah lingkungan dan menguntungkan. Dengan begitu, mereka tidak akan merusak hutan. Saya membantu siapapun yang ingin mengembangkan usaha ini, terlebih untuk masyarakat di sekitar hutan Leuser.”

  Magis air mata dugong hanya mitos, dorongan penghentian perburuan disuarakan!

Saat ini, Jambo Linot telah memiliki 50 masyarakat binaan yang umumnya tinggal di pinggir hutan. Mereka akan diajari dari proses panen hingga penjualan madu. Syaratnya, madu akan dipanen oleh pihak Jambo Linot guna menjaga kemurnian dan kualitas, agar pembeli tidak kecewa.

“Daerah-daerah sekitar hutan Leuser yang konflik harimau-nya tinggi, sangat berisiko bila masyarakatnya beternak hewan seperti kambing, lembu, atau kerbau. Masyarakat lebih cocok membudidayakan madu kelulut, sebagaimana wilayah yang sering dilintasi gajah,” urainya.

3. Mengenal kelulut

Lebah kelulut (tafakarim/Flickr)

Nurul Fatimah, Abidinsyah, dan Budi Prayitno dalam makalah seminar berjudul Pembudidayaan Lebah Kelulut di Desa Jatuh, Kecamatan Pandawan, Kabupaten Hulu Sungai Tengah menyebutkan lebah kelulut merupakan jenis dari genus Meliponinae, yaitu lebah madu yang tidak bersengat atau stingles bee.

“Ada sengat sisa, namun tidak digunakan sebagai alat pertahanan sebagai alat pertahanan. Lebah ini akan menggigit musuh atau membakar kulit musuh dengan larutan basa. Organ vital seperti mata, hidung, dan telinga musuh akan dikelilingi lebah dalam satu koloninya.”

  Pada 2022 ditargetkan meningkat, populasi harimau di Asia Tenggara malah menurun

Disebutkannya kelulut merupakan serangga kecil berwarna hitam, dengan panjang tubuh antara 3-4 mm, serta rentang sayap 8 mm. Lebah pekerja memiliki kepala besar dan rahang panjang, sedang lebah ratu berukuran 3-4 kali ukuran lebah pekerja, perut besar mirip laron, berwarna kecokelatan dan mempunyai sayap pendek.

Dilanjutkannya bahwa serangga ini hidup secara berkelompok, kemudian membentuk koloni. Satu koloni berjumlah 300 sampai 80.000 lebah. Hidupnya di daerah tropis dan subtropis seperti Amerika Selatan, Australia, dan Asia Tenggara, terutama Indonesia.

Koloni lebah ini terdiri dari golongan reproduktif, meliputi satu ekor lebah ratu (queen) dan ratusan ekor lebah jantan, serta golongan non-reproduktif yaitu ribuan sampai seratus ribu lebih pekerja. Produksi dan perkembangannya sangat dipengaruhi faktor lingkungan.

“..meliputi suhu, kelembapan udara, curah hujan, ketinggian tempat dan ketersediaan pakan,” papar laporan itu.

Artikel Terkait

Artikel Lainnya