Butuh perhatian serius, ini 5 masalah lingkungan paling besar di Indonesia

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Kebakaran hutan (Greenpeace/Flickr)

Lingkungan yang terus mengalami perubahan menjadi fakta tak terbantahkan. Perubahan ini terjadi karena faktor alam, namun tidak sedikit yang dipengaruhi keserakahan manusia. Masalah lingkungan ini terus bermunculan, begitu pula kita yang semakin sadar untuk menyelesaikan.

Orang-orang di seluruh dunia menghadapi banyak masalah lingkungan baru. Beberapa di antaranya hanya masalah kecil yang memengaruhi sebagian ekosistem. Namun, ada juga masalah lingkungan yang secara drastis mengubah lansekap keseluruha, tak terkecuali di Indonesia.

Lalu apa saja masalah lingkungan yang terjadi di Indonesia? Berikut uraiannya yang diwartakan Republika:

1. Polusi udara

Gambaran polusi (sunny vhaii/Flickr)

Masalah polusi udara sudah menjadi hal yang mengancam daerah perkotaan, kita ambil contoh Jakarta. Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta mendata sepanjang 2012-2020 secara umum kondisi pencemaran udara di ibu kota berstatus sedang dan tidak sehat.

Pada tahun-tahun tertentu, kondisi pencemaran udara di Jakarta sangat tidak sehat.  Sumber utama pencemaran udara di Jakarta berasal dari sektor transportasi. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mencatat polusi udara setiap tahunnya menyebabkan tujuh juta kematian dini.

  Harga muntahan paus bisa tembus miliaran rupiah, apa istimewanya?

Indonesia dalam catatan Kementerian Kesehatan menempati peringkat 18 dari 220 negara dalam Indeks Kualitas Udara (AQI). Selain sektor transportasi, polusi udara di Indonesia disebabkan emisi industri, polusi udara dalam ruangan, kebakaran hutan , pembakaran sampah, dan pertambangan.

2. Deforestasi

Kebakaran hutan (Ya saya inBali timur/Flickr)

Sepanjang 2019-2020 Indonesia cukup sukses menurunkan angka deforestasi 75.03 persen atau 115,46 ribu hektare (ha). Angka ini jauh berkurang dibandingkan deforestasi 2018-2019 yang mencapai 462,46 ribu ha, berdasarkan data Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK).

Namun hal yang tidak boleh dilupakan adalah tren tersebut masih bersifat fluktuatif. Kenaikan masih mungkin terjadi jika berbagai pihak mengabaikan komitmen bersama untuk menurunkan laju deforestasi dari waktu ke waktu.

Secara total sepanjang enam tahun terakhir Indonesia telah kehilangan 2,1 juta ha hutan. Global Forest Watch menyatakan Indonesia masuk ke dalam 10 negara dengan laju deforestasi terbesar di dunia dan berada di tempat keempat setelah Bolivia.

3. Kepunahan spesies

Ilustrasi harimau sumatra mati (BKSDA Aceh)

Indonesia merupakan salah satu negara dengan keanekaragaman hayati terbesar di dunia. Tetapi ancaman kepunahan spesies di negera ini juga tergolong tinggi. Lembaga Ilmu Pengetahuan Alam (LIPI) mencatat 437 spesies tumbuhan terancam punah.

  Apa jadinya jika semua ikan di dunia punah?

Sejumlah satwa di Indonesia yang terancam punah, antara lain orangutan, komodo, harimau sumatra, badak jawa, dan gajah sumatra. Bukan hanya di darat, spesies laut juga mengalami ancaman kepunahan.

Kementerian Kelautan dan Perikanan dalam rencana Aksi Nasional (RAN) untuk Konservasi Keanekaragaman Hayati Laut 2015-2019 mencatat jumlah spesies laut yang terancam punah, seperti ikan arwana, super red dan arwana irian.

4. Degradasi tanah

Longsor Jakarta (Dok. BPBD Jakarta)

Terjadinya degradasi tanah terlihat dari terjadinya proses penurunan produktivitas lahan, baik bersifat sementara atau tetap. Lahan terdegradasi artinya lahan tidak produktif, lahan kritis, atau lahan tidur yang dibiarkan terlantar, tidak digarap dan umumnya ditumbuhi semak belukar.

KLHK mencatat Indonesia memiliki 14 juta ha lahan kritis akibat degradasi lahan. Lahan tersebut kurang efektif ditanami karena berbagai faktor, mulai dari berkurangnya lahan basah di sekitarnya, perluasan lahan pertanian subsisten, dan perluasan lahan industri yang tidak ramah lingkungan.

Sebanyak 1,8 juta ha dari 3,4 juta ha lahan mangrove Indonesia berada dalam kondisi kritis. Padahal kemampuan rehabilitas lahan mangrove hanya 1.000 ha per tahun. Tak heran degradasi lahan yang begitu luas memicu Indonesia mengalami kemarau panjang atau kekeringan.

  Pembangunan IKN dicemaskan rusak kantong sebaran orangutan, ini jawaban KLHK

5. Overpopulasi

Ilustrasi populasi masyarakat (James WB/Flickr)

Indonesia yang semakin padat penduduk karena tercatat pada semester kedua 2020 sudah mencapai 271,349 juta jiwa atau naik 2,7 juta jiwa dalam kurun waktu enam bulan. Jawa Barat menjadi provinsi dengan jumlah penduduk terpadat di Indonesia, mencapai 47.1 juta jiwa.

Masalah lingkungan yang kian para bisa diakibatkan masalah kependudukan. Salah satu contohnya, sampah rumah tangga dan krisis air bersih. Semua orang butuh untuk minum. Peningkatan jumlah penduduk memicu penurunan mutu air akibat limbah yang dihasilkan dari aktivitas sehari-hari.

Di sisi lain, masyarakat Indonesia belum sepenuhnya teredukasi dengan baik tentang kesadaran melestarikan lingkungan. Ini menyebabkan terjadinya ketidakseimbangan antara sumber daya alam dengan kebutuhan manusia.  

Artikel Terkait

Artikel Lainnya